Misi Ku Bersama Si Kecil

Misi Ku Bersama Si Kecil
Ella?!!!


__ADS_3

Namun bukan itu inti dari pembicaraan nya, tapi di dalam rumah itulah yang seperti istiana dongeng. Bella senang luar biasa, ia masuk ke dalam dan langsung berkeliling ke sana kemari.


Sungguh luar biasa, warna emas dan putih mendominasi rumah itu. Yohan mengekor dari belakang sebelum akhirnya Bella selesai berkeliling, ia langsung menunjukkan kamar pribadi Bella.


"Nona, mari ikut saya. Kamar Anda ada di sebelah sini." Ujar Yohan mempersilahkan Bella masuk ke dalam kamarnya, kamar itu terletak di lantai dua dan dari pintunya terlihat sangat elegan dan menawan.


"Terimakasih." Kata Bella sembari tersenyum. Ia memutar engsel dan masuk ke dalam, namun sebelum benar-benar masuk Bella kembali menatap Yohan dan berkata...


"Apa kau akan tinggal di sini?"


Yohan membulatkan kelopak matanya dan beberapa menit kemudian ia menjawabnya dengan ragu-ragu. "Saya harus kembali Nona, bukankah anda memberi tugas tadi." Ucapnya.


"Ah kau benar." Bella mengangguk setelah mengingat kembali tugas yang ia berikan tadi di mobil.


"Yohan, semangat." Bella lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menaikkan kepalan tangannya yang berarti menyemangati Yohan lembur.


Yohan hanya bisa tersenyum paksa sebelum akhirnya pintu kamar tertutup, ia lalu menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Setelah itu Yohan kembali ke lantai bawah.


Di lantai bawah ada kepala pelayan yang sedang menyibukkan diri dengan membersihkan rak.


"Bibi tolong hantarkan makanan pada Nona, jangan lupa biarkan dia istirahat dengan baik." Kata Yohan pada Bibi kepala.


"Iya tuan saya segera siapkan makanannya." Bibi dengan ramah serta senyum bibirnya membuat semua orang yang ada pasti senang berteman dengannya.


"Makasih ya Bibi."


"Sama-sama tuan. O ya tuan mau keluar?" Tanya Bibi.


"Iya Bibi, saya masih banyak kerjaan."


"Haih kenapa tidak menginap dulu, lagipula di rumah sepi."


"Kan sekarang ada Nona Jeanne, jadi rumah ini sedikit hidup." Yohan tersenyum pada ucapannya sendiri.


"Kalau begitu saya hantarkan tuan ke depan."


"Baik kalau Bibi mau."


Keduanya lalu kembali berbasa-basi sampai di luar pintu rumah kediaman. Bibi melambai tangannya pada mobil Yohan yang bergerak keluar dari wilayah itu. Setelah itu Bibi kembali masuk ke rumah, tak lupa ia menguncinya agar tidak terjadi hal yang buruk.


Keesokan harinya

__ADS_1


Suara ayam berkokok membangunkan tidur sangat puteri yang terbaring pulas di ranjang. Burung-burung ikut memeriahkan pagi ini sepertinya mereka bernyanyi dalam bahasa mereka.


Bella terbangun dan langsung meminum air putih di meja samping. Dengan mata Panda nya ia berjalan ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.


Pagi ini Bella di sambut oleh Meimei yang menyapanya seperti biasa.


"Selamat pagi Bella, siap menikmati hari ini?" Sapa Meimei saat mereka sudah berada di kamar mandi.


"Selamat pagi juga Meimei...."


"Doakan aku semoga hari ini rencana ku berjalan lancar dan setelah itu aku akan menikmati hari ini dengan gembira." Lanjut Bella.


"Baik Bella semoga do'amu terkabul."


"Thanks."


30 Menit Kemudian


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Bella segera memakai baju ala wanita karir di Korea. Dengan jas putih dan celana putih ia pakai bersama tas hitamnya. Tak lupa ia juga berdandan cantik dan siap untuk menjalankan rencana terakhir.


Kring Kring


Sebuah telpon masuk bertuliskan 'Tom' di sana, Bella yang sudah siap dengan dandannya ia lalu mengangkat telpon itu dan menyapa Tom.


"Pagi juga nona." Sapa Tom di seberang sana.


"Ada apa Tom? Kenapa telpon pagi-pagi. " Tanya Bella


"......."


"Oh begitu ya."


Tok Tok Tok


"Nona muda, sarapan sudah siap." Seru pelayanan di luar kamar.


"......." Suara Tom di seberang sana.


"Ah iya aku aku segera ke sana." Teriak Bella dari dalam dan segera mengambil tasnya untuk keluar kamar.


Bella dan Tom masih berbincang-bincang di telpon sampai Bella sampai di kursi meja makan. Kebanyakan pembicaraan mereka terkait dengan Justin atau Lou Xi yang ternyata malah membuat keributan di rumah sakit tadi malam.

__ADS_1


Lebih tepatnya keributan itu merugikan Tom yang bertanggung jawab sekaligus wali Justin.


"Kalau begitu, silahkan nona lanjutkan aktivitas anda. Saya akan tunggu di kantor kepolisian, sekali lagi saya minta maaf mengganggu waktu nya nona." Kata Tom di seberang sana.


"Mm, tidak apa-apa. Jangan lupa jaga kesehatan ya Tom." Tak lupa Bella sellau mengingatkan untuk menjaga kesehatan tubuh Tok yang memang umurnya sudah semakin tua.


"......"


"Iya sampai jumpa."


Tut Tut


"Nona silahkan di nikmati." Ucap pelayan wanita yang dengan ramah menyuguhkan sarapan Bella.


"Terima kasih, duduklah di sana." Titah Bella pada pelayan itu. Jika dilihat dari wajahnya pelayan wanita itu berumur sekitar 20an cantik tapi polos.


"Bella, lihatlah Identitasnya." Seru Meimei tiba-tiba dari telinga. Layar biru yang hanya bisa di lihat oleh Bella muncul di depannya yang sudah memperlihatkan identitas lengkap dari pelayan itu.


"Tidak Nona, saya tidak bisa duduk di sana. Kita berbeda kasta." Ujar pelayan itu.


"Apa maksudmu? Aku menyuruh mu duduk bersamaku, dan itu perintah aku tidak suka jika ada orang yang menolak permintaan ku." Kata Bella dengan nada memerintah.


Pelayan itu menjadi gugup, sebelum akhirnya ia duduk di depan Bella dan masih tidak menyentuk makanan yang ada di meja itu.


"Jangan berbicara soal kasta denganku, kita sama-sama manusia. Aku tahu bagaimana rasanya berada di kasta bawah." Jelas Bella yang mengingatkan dirinya pada masa lalu saat-saat ia kesepian dan tanpa keluarga di sampingnya.


Layar biru yang menunjukkan identitas pelayan itu, memiliki data seperti ini.


Namanya Ella, dia seorang yatim piatu yang hidup bersama adiknya di gubuk kecil. Sebelum bekerja di sini, ia dan adiknya sering kali tidur di jalanan. Mengemis adalah pekerjaan yang penebangan ia lakukan bersama adiknya yang masih kecil. Kini setelah mendapatkan pekerjaan pada masa ibu Jeanne dulu, ia sudah bisa mendapat tempat tinggal tetap dan bisa menyekolahkan adiknya.


Walaupun dengan masa sulit yang pernah ia lalui dulu, tak pernah Ella memiliki niat jahat pada keluarga Jeanne. Hatinya sangat lembut, namun di sisi lain sepertinya ia menginginkan sesuatu. Harapan! Itulah yang ia miliki sekarang ini.


Entah harapan itu sudah terkabul atau tidak, Bella akan tahu saat dirinya bertanya pada Ella.


"Ella, apa kamu punya keinginan?" Tanya Bella yang sudah mulai menyantap sarapannya. Sedangkan Ella masih ragu-ragu makan bersama Bella.


"Anda tahu nama saya?"


Jleb


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like komen dan vote ya, terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung. Sampai jumpa di hari besok dan semoga kalian suka🥰😍


__ADS_2