
Setelah Meimei berhasil mengawasi keamanan yang ada, Meimei segera menyiapkan kemampuan Bella untuk menghadapi para preman itu.
"Di ruang ini hanya ada tujuh orang penjaga yang masing-masing membawa senjata api dan beberapa orang membawa belati kecil."
"Baiklah kalau begitu aku harus bersiap melawan mereka semua, Meimei apa kau sudah menyiapkan keamanan tubuhku?"
"Jangan khawatir Bella, kau akan aman bersama ku tapi selalu ingat bahwa hari ini kamu melawan 7 orang pria sekaligus." Ucap Meimei mengingatkan Bella sebelum benar-benar akan bertarung.
"Baiklah, lalu apa senjataku?" Tanya Bella sambil membuka lengannya bersiap menerima senjata.
"Senjata mu akan langsung berada di tanganmu kalau kau sudah masuk ke Medan perang."
Sontak Bella terkejut mendengarnya, apa itu artinya ia harus maju dulu ke sana lalu menghajar mereka?
"*Benar Bella seperti yang kau pikirkan sekarang."
"Ayo Bella waktumu tidak banyak*." Lanjut Meimei memperingatkan.
Bella pun bangkit dari jongkoknya dan keluarLp dari persembunyiannya yang sedari tadi mengamati sekitar tempat itu. Bella kini hanya memakai celana pendek setengah paha dengan baju pelayan bar yang berwarna putih serta rambutnya yang diikat menambah kecantikan wanita tersebut.
Pria-pria berbadan besar yang menjaga mobil-mobil itu keluar menatap Bella dengan tatapan tajam begitu pun dengan gadis itu.
"Are you lost, woman?!" Tanya salah satu dari mereka seraya wajahnya tertawa meremehkan.
"Shut Up, before i sew your lips." (Diam, sebelum aku jahit bibirmu) Ucap Bella sembari ia menodongkan tembakannya kearah pria tersebut.
Pria itu lalu tertawa hingga teman-temannya ikut tertawa melihat Bella. Namun sayangnya Bella cepat bertindak dengan melempar belati ke 7 orang pria tersebut. Lemparan itu sangat bagus hingga orang-orang di sana terkejut sambil melotot.
Walau belati tersebut tidak bisa menghabisi mereka karena mereka memakai baju pelindung di tubuh mereka akan tetapi setidaknya Bella sudah membuat mereka terpana.
"Gadis gila." Pekik pria tadi sembari mencabut belati dari perutnya.
Ting
__ADS_1
Bunyi alat gas yang di buka terdengar menggema di ruangan itu, hingga tanpa meladeni pria itu Bella segera melemparkan kembali beberapa gas ke tempat itu hingga muncullah gas-gas berwarna hijau merah serta kuning ke atas.
Beberapa peluru mulai di tembakan ke arah Bella namun Bella dapat menghindar serta ia maju ke garda depan menghajar satu persatu dari mereka dalam ruangan yang penuh dengan gas.
Kelincahan Bella dalam menghindar peluru membuat tim lawan menembakan sendiri temannya sendiri.
*Menurut hukum fisika baju pelindung yang mereka gunakan hanya akan bertahan jika peluru itu tertanam di baju, dan jika perut mereka di tekan akan mengakibatkan peluru itu masuk dengan paksa ke kulit mereka dan akhirnya tubuh mereka akan meledak. Hahaha
Bahkan aku bisa membunuh mereka tanpa harus menusuk perut, tapi aku tidak ingin membunuh aku hanya ingin bermain*.
Brak
Sekali tendangan maut yang di layangkan oleh kaki Bella ke kepala mereka mampu membuatnya pingsan di tanah.
"Meimei berikan aku obatnya." Titah Bella di sela-sela pertarungan Solonya tersebut.
Obat yang ia maksud adalah sebuah obat yang ampuh dalam membuat orang tak sadarkan diri untuk waktu lama, resepnya di miliki oleh guru Lou Xi bernama Xi Yue.
Skip
Sedangkan Lou Xi?
Kini Lou Xi sedang berada di pantai, tempat pesta berlangsung nanti malam. Tujuan Lou Xi adalah untuk menghentikan peredaran racun dalam makanan serta minuman pesta. Semua itu di lakukan oleh anggota mafia Bian dalam rencana pembantaian hari ini.
Racun itu agar segera datang lewat pintu belakang dekat dapur yang akan menyediakan hidangan nanti. Seperti halnya Bella tadi Lou Xi harus bertarung dengan anggota mafia itu dan menghilangkan racunnya segera.
Dengan menggunakan cheat, Lou Xi membuat sebuah ruang ilusi untuk mereka agar pertarungan mereka nanti tidak membuat kerusakan. Anggota mafia itu merasa aneh dan bahkan terkejut tiba-tiba sudah di alam lain tepatnya di hamparan pasir yang luas.
"Hei apa yang terjadi di sini?" Mereka saling bertanya-tanya satu sama lain sambil melihat ke sekeliling.
"Apa kita sedang bermimpi?" Ucap salah satu dari mereka.
"Entahlah tapi lihat di sana!" Ucap lagi yang lain sembari menunjuk ke arah Lou Xi yang sudah berpenampilan berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
Terdapat 8 orang yang akan melawan Lou Xi, kini mereka sedang berhadapan langsung dengannya.
"Lihatlah bajunya." Ucap pria paling ujung.
Temannya yang di samping terkekeh melihat Lou Xi memakai baju khasnya yaitu Hanfu tapi sekarang berwarna gelap.
"Ck, benar-benar orang aneh."
"Mungkin dia ingin menari di sini." Timpal yang lain membuat suasana di antara mereka berisik dengan tawa.
"Tidakkah kalian berfikir ada dimana kalian sekarang?!" Ujar Lou Xi membungkam tawa mereka dengan nada yang dingin.
"Ah pasti kau adalah seorang pesulap dan memindahkan kita berada di Padang pasir seperti ini." Canda si paling jago.
Lou Xi menarik simpul senyumnya serta berkata pada mereka "Ingatlah tempat ini! Tempat hukuman ringan untuk kalian di akhirat."
Mereka semua pun terdiam, beberapa dari mereka mulai ketakutan dan goyah pendiriannya. Hati mereka bertanya-tanya "Mungkinkah ucapannya itu benar?"
"Racun yang kalian bawa adalah awal dari petaka." Sekali lagi Lou Xi menggoyahkan hati dan kesombongan mereka.
"Jika kalian ingin pulang dengan selamat, tobat lah sebelum terlambat." Lanjut Lou Xi.
Namun si paling jago tak percaya dan malah memberi aba-aba untuk menyerang Lou Xi secara bersamaan.
Hal itu pun membuat pertarungan terjadi secara tiba-tiba. Mereka bahkan mulai mengangkat senjata mereka dan menarik pelatuknya hingga keluarkan peluru di dalamnya.
Akan tetapi Lou Xi mampu menghancurkan peluru itu dengan hembusan pasir yang menerpanya, setiap langkah yang ia pijak memberikan sebuah benteng kuat yang tak dapat di tempat bahkan peluru besar mereka sekalipun.
Melihat itu beberapa dari mereka mulai mundur serta syok dengan apa yang mereka lihat saat ini. Namun si paling jago terus berteriak pada teman-temannya agar terus menembaki peluru ke arah Lou Xi.
Akan tetapi kali ini Lou Xi tidak hanya membuat pertahanan diri saja, melainkan ia menggerakkan jari-jari memerintahkan setiap angin yang ada di dekatnya untuk membalikkan arah peluru yang tertuju padanya.
Sekali lagi mereka terkejut bukan kepalang karena kini peluru tersebut berbalik arah dan menjadi senjata makan tuan bagi mereka sendiri, namun bukan berarti mereka mati karena matinya mereka di tempat ini artinya pingsannya di bumi dalam artian koma.
__ADS_1