
Satu tahun kemudian
Tepatnya di jalanan kota yang sepi, Bella sedang mengemudikan mobilnya sendirian namun ia juga di temani oleh Lou Xi di sampingnya.
Hari itu adalah hari dimana ia akan meninggalkan dunia ini, setelah Bella melahirkan bayi kembar bulan lalu ia masih bimbang dengan keputusannya yang harus pergi meninggalkan kedua anaknya. Yah, walaupun hanya misi dan terasa tak nyata namun Bella mampu merasakan perasaan seorang ibu.
"Bella, kau harus meninggalkan misi ini!!" Lou Xi terus menerus mengingatkan Bella akan misi selanjutnya namun bagaimana pun juga Bella merasa tercekik dengan keadaannya sekarang.
Ia yang sedang mengemudi itu, seketika menekan pedal nya dengan sangat kencang membuat Lou Xi gemetaran dibuatnya.
"Aku tahu, tapi aku tidak rela meninggalkan mereka." Tak mampu menahan tangisnya, perlahan-lahan air matanya keluar dari kelopak matanya. Wajahnya memerah menahan tangis di dalamnya.
Hal itu membuat Lou Xi mau tak mau harus melakukan sesuatu walau itu sedikit memaksa.
"Maaf Bella, aku terpaksa lakukan ini padamu."
Tak
Dengan hanya petikan jarinya, Lou Xi membuat Bella tak sadarkan diri sedangkan mobil masih melaju dengan sangat kencang. Untuk menghindari kecelakaan beruntun, Lou Xi terpaksa memutar stir mobil sehingga mobil menabrak pada sebuah beton yang menjulang tinggi di jalanan.
Siuuuutttt
Brakkkk
Bunyi otomatis dari mobil pun terdengar saat kecelakaan itu sudah terjadi. Bella sudah pingsan dengan tubuhnya yang terjepit dan bersimbah darah. Namun ternyata Lou Xi dengan kekuatannya membuat manipulasi kecelakaan dengan memotong kabel rem mobil agar orang-orang tahu bahwa kecelakaan itu murni bukan karena ugal-ugalan. Selain itu, Lou Xi mengeluarkan Bella dari mobil dengan keadaan terlentang di depan pintu mobil.
Setelah itu, ia membuat sebuah rekaman dengan bantuan sistem yang berisikan kata-kata terakhir dari Bella untuk keluarganya di sini. Rencana terakhir adalah mendatangkan pengemudi lain agar membantu menelpon polisi.
Dan yang paling terakhir adalah mengangkat jiwa Bella dari tubuh Jeanne. Setelah itu mereka kembali ke taman bunga di akhirat.
...----------------...
Cit cit cit
Suara burung yang nyaring membangunkan seorang wanita di hamparan rumput hijau.
Dahi gadis itu diam-diam mengerut berusaha sadar dari keadaan pingsannya. Tubuhnya perlahan bangkit dan segera menyenderkan nya di batang pohon yang menaunginya. Tangannya memegang kepala berusaha menghilangkan rasa sakit dan pusing yang di rasanya.
__ADS_1
"Sshhh..." Desis Bella.
"Kau sudah bangun?" Sapa Lou Xi di depan sambil membawa sebuah nampan yang diatasnya ada teko dan gelas.
Bella hanya terdiam dan masih berusaha melihat dengan jelas. Gadis itu hanya mampu menghela nafas seraya mengingat kembali apa yang sudah dialaminya.
"Sudah berapa lama aku di sini?"
Lou Xi mendekat dan meletakkan nampannya di samping Bella. Ia juga menuangkan teh itu ke gelas.
"Tiga hari, tapi aku memindahkan mu ke sini dua jam lalu agar kau cepat sadar." Jelasnya sambil menyerahkan gelas teh itu.
Bella awalnya diam dan tidak langsung menerima teh itu sebelum Lou Xi akhirnya menjelaskannya.
"Ini teh hijau tapi khasiatnya lebih banyak dari pada di bumi."
Bella pun menerimanya dan meneguk nya sedikit-sedikit. Setelah itu keduanya pun berbincang-bincang.
"Bagaimana dengan misi kemarin? Apa mereka tahu kematian ku?" Tanya Bella.
"Meimei, tunjukkan monitor nya." Setelah berkata seperti itu, Meimei segera menunjukkan layar birunya dan memperlihatkan situasi di misi kemarin.
Dalam keadaan itu, si pak ketua polisi segera menelpon Tom. Setelah itu layar berpindah ke tempat rumah sakit, waktu itu berita kematian Bella sudah terdengar oleh keluarga dan mereka semua nyaris tak percaya dengan nasib Bella (Jeanne Belt).
Anak-anak nya yang masih bayi itu terus menerus menangis meminta air susu sang ibu, Davin sebagai seorang ayah hanya mampu bertahan dengan sabar dan ikhlas. Walau ia juga terlihat menahan tangis di wajahnya.
"Stop." Ucap Bella menghentikan video itu. Lou Xi mengangguk dan menghilangkan Meimei dari pandangan mereka.
"Ini kesalahan ku tidak seharusnya aku menyuruhmu melahirkan seorang anak." Ujar Lou Xi.
"....." Tidak ada kata yang terucap dari Bella, terlihat ia berusaha menghilangkan air matanya dan tetap tegar.
"Aku akan memberimu waktu sampai kapanpun, jika kau sudah siap untuk misi selanjutnya panggil saja namaku aku akan langsung datang." Seraya bangkit dari duduknya Lou Xi hendak pergi meninggalkan Bella di sana.
"Tunggu." Seru Bella menghentikan langkah Lou Xi.
Lou Xi berbalik dan melihat Bella bangkit dari duduknya. Setelah itu ia pun mendekati Lou Xi.
__ADS_1
"Apa misi yang ketiga? Aku akan melakukannya sekarang."
Lou Xi terkejut ia tidak menyangka jika Bella akan bangkit dengan secepat itu. Ia pikir Bella butuh waktu untuk menangkan diri sendiri.
"Apa kau yakin akan melakukannya sekarang?"
"Tentu saja, lagi pun aku ingin secepatnya kembali ke rumah." Sambil tersenyum dan menutupi kesedihan hanya Bella yang mampu lakukan itu.
"Baiklah tapi aku ingin memberi tahu mu sesuatu tentang misi kemarin."
"Apa itu?"
"Misi nya berhasil dengan nilai sempurna dan oleh karena itu aku ingin memberimu hadiah. Sekarang aku tanya, apa keinginanmu?"
Sejenak Bella berfikir seraya menatap Lou Xi yang berada di bawahnya. Alih-alih menjawab pertanyaan Lou Xi ia malah mencibir tubuh kecil Lou Xi.
"Kau benar-benar pendek...."
Mata Lou Xi terbelalak seketika, namun dirinya tidak mampu berdebat karena Bella melanjutkan kembali ucapannya.
"Kau tahu. Waktu kau menyuruh ku untuk melahirkan anak saat itu aku benar-benar marah padamu tapi entah kenapa aku malah menuruti perkataan mu dan menjadi seorang ibu. Ada rasa senang, bahagia dan juga ada rasa tak ingin melepaskan. Sejenak aku ingin menjadi orang yang serakah tapi kau menyadarkan ku agar tidak terlalu berharap akan kebahagiaan yang tak nyata."
"Jadi, aku ingin melupakannya secepat mungkin dan kembali ke asal ku lagi. Aku rindu kakak (Kal) dan juga Ben (Si penjaga warnet)."
"Kalau begitu baiklah." Ucap Lou Xi menyetujui.
Lalu sebuah angin menghempaskan tubuh Lou Xi dan membuatnya berganti menjadi seorang pria tampan waktu itu. Rambutnya masih tersisir rapi dengan warna hitam yang pekat.
Kali ini Lou Xi menggunakan baju tradisional China namanya Hanfu dengan warna putih dan biru dengan pelengkap sebuah pedang di tangan kanannya.
"Kau pernah bilang padaku misi ketiga akan berada di China, tapi kenapa kau membawa pedang?"
"Mm, hanya saja aku ingin memakai baju seperti ini agar cocok dengan alur yang akan ku ceritakan nanti."
"Katakan padaku cepat!"
"Bisa sabar gak sih?" Sambil memutar bola matanya, Lou Xi terkekeh dengan kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah jadi seperti ini....."