Misi Ku Bersama Si Kecil

Misi Ku Bersama Si Kecil
Marahnya Seorang Bian


__ADS_3

Tak lama kemudian, saat kami berdua bersiap untuk mengatasi transaksi terdengar suara keributan dari dalam ruangan yang tadi di masuki oleh Bian. Dan dari dalam sana lah suara hantaman keras terdengar sampai keluar.


Beberapa orang yang ada di bar tiba-tiba berhenti dengan segara aktivitasnya, mereka mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di sana. Namun rasa penasaran mereka di hilangkan dengan adanya pembubaran paksa dari keamanan Bian yang tentunya tidak bisa di tolak oleh mereka si penghuni bar.


"Semuanya silahkan pergi dari sini."


Semua orang yang mendengarnya pun bubar keluar dengan wajah kesal karena tidak merasakan kesenangan di tempat tersebut terutama mereka yang kebetulan baru masuk bar.


Sedangkan kini Bella dan Lou Xi sudah mengasingkan diri di tempat lain. Mereka lalu mulai berbincang kembali atas rencana mereka sebelumnya.


"Lou Xi setelah ini kita harus bagaimana? Pria itu pasti mengamuk seperti setan karena uangnya hilang!" Ucap Bella dengan wajah khawatir.


Melihat Bella seperti itu, Lou Xi mulai menenangkannya.

__ADS_1


"Tenang Bella, misi utama kita adalah menghentikan pembantaian yang dilakukan Bian." Jelas Lou Xi sembari tangannya merangkul pundak Bella.


Bella pun mengangguk dan mereka akhirnya pergi untuk melanjutkan rencana mereka berdua.


"Bella, kita harus mengambil semua alat berbahaya yang mereka miliki terutama senjata." Lanjut Lou Xi sebelum akhirnya mereka benar-benar berpencar ke arah yang berbeda.


Di samping itu di ruangan Bian.


"APA KALIAN SEMUA BODOH HAH! Bisa-bisanya uang sebanyak itu hilang di ambil orang." Bian berteriak dengan sekencang-kencangnya sambil menghancurkan barang-barang yang ada sebagai pelampiasan emosi.


Johan tidak melawan, pria itu seolah sudah tak bersemangat dengan wajahnya yang linglung. Mungkinkah ia merasa sangat bersalah dan tidak bertanggungjawab atas tugasnya sendiri.


Melihat Jihan diam tak berbicara sepatah kata pun membuat Bian benar-benar geram padanya, ia lalu menjambak rambut Johan lalu membenturkan kepalanya dengan keras ke dinding. Bian melakukannya berkali-kali hingga kepala itu terlihat berdarah-darah dan mungkin tulang tengkoraknya retak.

__ADS_1


"Tu-tuan sebaiknya kita segera mencari siapa orang yang mencuri tas itu." Ucap seorang pria salah satu dari mereka yang akan bertransaksi.


Bian lalu berhenti, nafasnya tak beraturan hingga ia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya yang penuh darah namun begitu wajahnya masih terlihat tampan dan tegas dari samping.


Dalam diamnya itu Bian tiba-tiba mengeluarkan senjata apinya dan mulai menarik pelatuknya dengan cepat ke arah bawahannya. Peluru itu masuk ke dalam Tulung kering kaki pria itu hingga menjerit kesakitan, teriakan itu membuat pria yang tadi memberi saran gemetar ketakutan.


"Kau tahu aku benar-benar jijik melihatmu tapi sebelum kau mati lakukan tugasmu dengan benar! Tidak ada kesempatan lain kecuali sekarang!" Bian keluar setelah memberi peringatan pada pria yang gemetar ketakutan itu.


Setelah Bian keluar dari ruangan, para bodyguard nya masuk dan mulai membereskan kekacauan yang ada.


Di sisi lain


"Meimei, berapa banyak orang yang berjaga di sini?" Tanya Bella Yang sekarang sedang berada di sebuah tempat dimana terdapat banyak mobil-mobil yang berisikan senjata para mafia.

__ADS_1


Tempat itu terlihat sangat berbahaya dan keamanannya sangat ketat, untuk mengambil semua persenjataan yang ada di dalam semua mobil itu Bea harus melewati para penjaganya terlebih dahulu.


"Akan ku cek."


__ADS_2