
"Yang mulai, apa anda menikmati pertunjukkan nya?" Dengan sopan Putri Pingyang bertanya pada Kaisar Wu.
Di sisi lain Bella sudah kembali ke kamarnya setelah berhasil menari di depan para penonton.
Awalnya Kaisar masih takjub dengan apa yang dilihat nya tadi. Sampai akhirnya ia pun menjawab pertanyaan Putri Pingyang.
"Luar biasa, Putri Pingyang selalu baik dalam memilih seseorang untuk pertunjukkan nya."
"Terima kasih banyak yang mulia." Seraya memberi hormat pada Kaisar.
"Ah karena putri Pingyang telah memberikan pertunjukan luar biasa untuk Kaisar sebagai imbalannya aku memberikan perhiasan emas yang banyak." Dengan suara agungnya Kaisar Wu berhasil membuat bawahannya kagum padanya. Putri Pingyang berlutut seraya berterima kasih.
"Sekali lagi saya berterima kasih yang mulia. Tapi yang mulia, penari yang saya pilih adalah putri pelayan di rumah ini. Dia sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik, bagaimana jika anda memberi hadiah padanya." Ujar Putri Pingyang memberi sarannya.
"Hahaha baiklah-baiklah karena Putri Pingyang sudah berkata demikian maka sebagai kaisar aku harus memberi hadiah pada penari tadi. Tolong bawa dia kemari agar aku bisa memberi hadiah padanya." Titah raja pada bawahannya.
"Baik yang mulia."
Setelah itu mereka bergegas menuju ruangan Bella.
Di tempat lain, Bella ternyata sudah berada di pasar tempat para pedagang menghasilkan uang. Dengan menggunakan pakaian seorang putri kerajaan hasil dari desain Meimei, Bella sangat senang memakainya bahannya hangat dan cocok dengan bentuk tubuhnya yang ramping.
Sambil berjalan seorang diri di jalan pasar itu, ia memakai cadar untuk menutupi wajahnya. Ia juga melirik ke sana kemari melihat para pedagang yang menyerukan dagangannya.
Salah satu pedagang menarik perhatiannya, dia masih remaja tapi berdagang sambil membawa adik laki-lakinya yang masih kecil. Tak ada raut wajah senang di keduanya saat memperdagangkan barang dagangannya. Dua laki-laki itu seakan sedih karena dagangannya yang masih utuh tanpa ada seorang pun yang membelinya.
"Meimei, aku pergi ke sana." Ucap Bella pada Meimei.
"Baik Bella aku segera mencari data mereka berdua." Setelah berkata seperti itu Meimei segera mencari data mereka.
Sedangkan Bella sudah berdiri di tempat dagangannya anak itu. Walau di pinggir jalan dan hanya beralaskan sebuah kain lusuh, pemuda itu menghamparkan dagangannya di sana.
Banyak barang-barang antik yang terpampang di sana, seperti sebuah ukiran dari kayu. Perabotan dapur yang sederhana dan lain sebagainya yang juga memakai bahan dari kayu.
Bella berjongkok di sana seraya melihat ke sana kemari hendak membeli dagangan mereka. Namun adik kecil itu berkata pada Bella.
"Nona, apa benar anda akan membeli barang dagangan kami?" Tanya adik itu.
Bella mendongak dan tersenyum seraya menjawab "Benar, sekarang aku sedang memilih belanjaan ku omong-omong bisakah kalian memberitahuku kelebihan dan kekurangan barang ini."
Setelah berkata seperti itu si kakak menjawab "Entah anda akan membeli barang kami, tetap saya akan menuruti perintah anda."
Bella tersenyum dan mulai mendengarkan penjelasan pemuda itu.
__ADS_1
"Barang yang kami dagang kan adalah barang yang dibuat dengan bahan kayu alami, kayunya bagus dan tahan lama. Kami membuatnya dengan tangan kami sendiri dan harga yang kami jual juga sangat terjangkau." Jelasnya.
Bella mengangguk dan akhirnya ia memilih sebuah gelang yang ukir cantik dari kayu. Bedanya gelang itu terdapat sebuah tali seperti sebuah kalung.
"Apa ini gelang?" Tanya Bella.
"Benar, sebenarnya kami ingin membuat giok dari kayu tapi kami tidak bisa."
"Ah begitu kah. Ini cantik aku menyukainya berapa harganya?"
"5 Koin." Jawab si adik.
Bella lalu mengeluarkan kepingan koinnya di saku, 5 koin ia berikan pada si kakak.
"Terima kasih Nona." Ucap si kakak berterima kasih.
"Sama-sama." Sambil berdiri dari jongkok nya tadi ia pun hendak pergi dari sana. Namun langkah nya terhenti setelah ada niat dari hatinya untuk menolong mereka berdua.
Bella berbalik dan berkata "Hei siapa nama kalian?"
Keduanya mendongak lalu menjawab "Namaku Xin dan adikku bernama Zin."
Bella mendelik bagaimana juga nama itu terdengar hampir mirip.
"Apa kalian mau bermain?" Tanya Bella dengan nada mengajak.
"Aku akan membawa kalian ke rumah makan." Jelas Bella membuat Zin bersemangat untuk ikut.
Kakaknya menahan walau terlihat di wajahnya ia juga menginginkan ajakan dari Bella.
"Jangan menipu kami, kau pasti punya niat jahat."
Mendengar hal itu Bella terkekeh, pasalnya pemuda itu berhasil mengira dirinya sebagai seorang penipu.
"Dia benar Bella, bagaimana pun kamu belum memperkenalkan diri." Jelas Meimei di telinganya.
"Iya aku lupa." Ucap Bella dengan suara yang pelan.
"Hem kalau begitu perkenalkan, namaku Wei Zifu."
Setelah keduanya tahu nama Bella, mereka berdua pun mulai bertatapan satu sama lain.
"Kak, kita ikut dia aja yuk adik juga sudah sangat lapar." Bisik si adik.
__ADS_1
"Ssttt nanti dia tahu." Bisik si kakak juga.
Di samping mereka Bella berusaha menyembunyikan senyumnya karena tingkah laku keduanya.
"Dengar aku tidak menipu kalian aku hanya ingin membantu. Untuk barang dagangannya kalian bawa saja bersama kalian agar aman." Kata Bella menjelaskan pada keduanya.
Setelah berkata demikian Xin pun setuju dan mereka bertiga mulai pergi ke rumah makan.
Sambil memanggul barang dagangannya yang dibalut kain, Xin berjalan di belakang Bella bersama adiknya.
Bella berhenti membuat Xin dan Zin ikut berhenti.
"Kenapa kalian berjalan di belakangku?"
Xin lalu menjawab dengan rasa sungkan "Kami orang rendahan tidak pantas berjalan sejajar dengan anda yang kaya."
"Aku tidak setuju, pokoknya kalian berdua harus berjalan sama denganku tidak boleh di belakang." Titah Bella dengan tegas.
Setelah Bella kekeh berkata seperti itu, keduanya pun akhirnya terpaksa untuk berjalan sejajar dengan Bella.
Sampai akhirnya mereka bertiga sampai di sebuah rumah makan yang mewah. Namun kunjungan mereka ternyata tidak di sambut dengan baik oleh beberapa pelanggan di sana.
Beberapa dari mereka pun berbisik.
"Hei kalian, lihatlah mereka." Ucap si pria tua yang duduk di meja depan sana. Beberapa temannya ikut melirik ke arah tatapan si pria tua itu.
"Wanita nya cantik tapi di sampingnya sangat kotor. Bajunya juga robek-robek." Lanjut si pria tua itu.
Gunjingan mereka tetap di lanjutkan sampai pemilik rumah makan menyapa Bella dan mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk.
"Silahkan Nona, anda ingin memesan tempat duduk di mana?" Tanya bapak rumah makan itu.
"Di atas." Jawab Bella.
Bapak itu awalnya ragu pada Bella namun setelah Bella menunjukkan uang emasnya ia pun berbinar-binar dan mempersilahkan mereka dengan sangat ramah kayaknya pelanggan VIP di zaman modern.
Xin dan Zin hanya mengekor di belakang sampai akhirnya mereka bertiga sampai di lantai atas, tempat orang-orang kaya makan di sana.
Bella dengan ramah mempersilahkan Xin dan Zin untuk duduk bersamanya.
"Makanlah sepuasnya, soal bayaran biar aku yang selesaikan." Jelas Bella membuat keduanya merasa tenang dan dengan lahap menyantap hidangan mereka.
Di samping itu seorang pria berjubah hijau sedang menatap Bella dari kejauhan. Pria itu juga sama sedang makan di lantai dua, namun tatapan pria itu sejenak berubah menjadi senyuman yang jahat.
__ADS_1
...Bersambung...
Jangan lupa Like🥰🥰