
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya Davin saat mereka berdua sudah duduk bersama di sana.
"Mm, iya." Jawab Bella seraya mengusap wajahnya yang tadi terkena air mata. Matanya kini masih merah setelah menangis tadi.
Brummmm
Di samping itu, sebuah mobil melintas dan berhenti di TKP. Mobil itu mewah dan terlihat sangat mahal, menit kemudian keluarlah Yohan dan Tom dari sana.
Tom menghampiri Bella dan mulai menanyakan keadaanya. Sedangkan Yohan mulai berbincang-bincang bersama pak polisi.
"Nona, anda baik-baik saja? Apa ada goresan?" Tanya Tom dengan nada khawatir.
"Aku baik Tom, tapi pacarku terluka." Ucap Bella merasa sedih.
"Pacar?" Tanya Tom sekali lagi karena ia masih belum yakin dengan apa yang barusan ia dengar.
"Justin pacarku, dia terluka dan sekarang dia ada di ambulan. Tolong jaga dia ya, aku ingin beristirahat." Jelas Bella.
"...." Tom sejenak melihat ke arah ambulan sambil mendengarkan ucapan Bella. Sampai akhirnya lalu ia menjawab "Ah, begitu ya kalau begitu saya segera ke sana. Dan...."
"Tenang saja Davin bersamaku dia asisten ku di Bar ini jadi jangan khawatir." Bella kembali memotong ucapan seseorang.
"Ah baiklah, hubungi aku jika nona ingin ke rumah."
"Rumah?" Tanya Bella karena setau ia apartemen lah yang Jeanne miliki bukan rumah.
"Anda akan tinggal di kediaman Alm Nyonya."
"Rumah Ibuku?" Bella terkejut sampai-sampai ia berdiri saking syok nya ia.
"Wahhh, bagus sekali aku jadi tidak sabar." Ucap Bella dengan sumringah. Tom tersenyum melihat tingkah laku nona mudanya itu, setelah itu ia langsung pamit untuk menjenguk Justin (Lou Xi).
Tak lama kemudian semua orang pergi ke asalnya masing-masing. Ambulan yang membawa Justin pergi duluan daripada pak polisi.
Namun sepertinya, pak polisi tidak akan meninggalkan TKP sebelum ia benar-benar mendapatkan bukti. Para preman yang tadi tergeletak di lantai bar kini sudah di bawa oleh mobil polisi yang lain untuk di investigasi.
Sementara itu Bella dan Davin tetap setia menunggu yang tak pasti di kursi itu.
"Nona, sudah malam saya boleh pulang kan?" Tanya Davin sembari melirik ke jam tangannya.
Bella menatap sekilas dan ia menghela nafas sebelum akhirnya ia mengiyakan Davin.
__ADS_1
"Mm, pulanglah keluargamu akan khawatir nanti." Ucapan itu bukannya membuat Davin segera pergi malah Davin terdiam.
Bella lalu bertanya "Ada apa Davin? Kamu baik-baik saja kan?"
"Ah iya Nona, hanya saja sebenarnya saya tinggal bersama adik saya saja."
Bella terkejut, "Kemana Orang tuamu?"
Davin terdiam sebentar, dari raut wajahnya Bella bisa melihat dua jawaban yang bisa ia dapatkan. Orang tuanya meninggal atau lari dari tanggung jawab.
"Mereka sedang bekerja." Cukup dengan jawaban itu, Bella sudah mengerti ia mengangguk dan berkata...
"Berapa umur adikmu?" Tanya Bella.
"Dia masih SMP." Jawab Davin hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Kalau begitu saya pamit Nona."
"Tunggu." Seru Bella.
Davin berbalik dan menatap Bella penuh tanda tanya. "Iya Nona?"
Bella memberikan sebuah kartu namanya pada Davin. Ia juga tersenyum sambil berkata "Aku akan menelpon mu besok, kau harus mengangkatnya. Jika tidak, gaji mu ku potong bulan ini."
Davin menerima kartu itu dan ia lalu pergi menaiki taksi dan pulang ke rumah.
Di sisi lain, Bella mulai berbincang-bincang dengan Yohan. Mengenai situasi sekarang dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Karena preman-preman itu masih belum sadar, sepertinya penyelidikan kali ini akan di lanjutkan besok. Bagaimana jika sekarang Nona kembali ke rumah, biar semua ini saya dan Tom yang akan mengaturnya." Jelas Yohan saat mereka sudah berdiri di dekat mobil.
"Hm, sebenarnya kita masih belum selesai. Di tambah lawan yang kita hadapi sekarang sama kuatnya dengan kita." Ucap Bella membuat Yohan mengernyitkan kedua alisnya.
"Tapi aku butuh bantuan mu." Lanjut Bella.
"Saya selalu siap melaksanakan perintah anda, apa yang Nona butuhkan dari saya." Yohan dengan semangat mendedikasikan dirinya pada keluarga ibundanya, jadi Bella yakin Yohan tidak mungkin berkhianat.
"Kau pengacara bukan?"
"Iya Nona, saya adalah pengacara yang hebat di negara ini. Semua kasus selalu saya menangkan." Sombong Yohan pada dirinya sendiri.
Bella tersenyum dan berkata "Kalau begitu aku meminta bantuan pada orang yang tepat."
__ADS_1
"Bantuan apa memangnya Nona?"
"Jatuhkan ayahku, buat istri barunya dan anaknya sengsara seumur hidup. Jangan biarkan mereka bernafas lega di planet tercinta ini." Sambil menyunggingkan senyumnya Bella mulai masuk ke dalam mobil dengan bahagia.
Yohan yang sebelumnya nge-lag seketika sadar dan langsung masuk ke dalam mobil serta duduk di kursi kemudi.
"Saya akan melakukannya Nona, anda jangan khawatir semua nya beres."
"Aku ingin besok selesai." Ucap Bella tersenyum manis menghadap jendela. Sedangkan Yohan mengerutkan wajahnya tahu jika artinya ia harus lembur dengan perintah Bella.
Sementara itu Bella mulai menghubungi Tom yang berada di rumah sakit sedang merawat Justin (Lou Xi).
Kring kring
"Iya Nona?"
"Aku dalam perjalanan pulang. Ah iya, sebelum itu terima kasih Tom atas segalanya. Aku berhutang banyak padamu."
"Ah tidak Nona, itu semua hal yang kecil. Anda tidak seharusnya seperti itu"
"Aku memaksa dan kau harus menerimanya."
"Hahaha baiklah Nona muda, semoga Anda sampai di rumah dengan selamat." Doa Tom dengan tulus.
"Mm, baiklah. Jangan lupa jaga kesehatan."
"Pasti Nona muda, terima kasih."
"Mm, dah." Ucap Bella mengakhiri perbincangan mereka.
Setelah telpon itu selesai, suasana di mobil menjadi sepi. Tidak ada pembicaraan antara keduanya, sesekali Yohan melirik Bella dari arah kaca mobil. Mengecek keadaan Nona mudanya yang sepertinya masih belum mengantuk padahal waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu malam.
Beberapa Menit kemudian
Mobil kini sudah melewati pekarangan kediaman almarhum ibunda Jeanne. Sangat luas, besar dan indah. Bahkan rumah itu memiliki kebun dan taman layaknya istana kerajaan.
Walaupun katanya jarang di isi oleh pemiliknya namun suasana rumah itu tidak horor malah dengan penerangan lampu yang banyak serta para pelayan yang kini sudah siap berbaris menyambut kedatangan Bella. Membuat rumah itu terlihat semakin indah.
Yohan keluar dari mobil di ikuti Bella, sambil memandang takjub rumah itu ia melangkah masuk dengan para pelayan yang hormat padanya. Mereka seperti sudah sering di latih oleh guru les.
Namun bukan itu inti dari pembicaraan nya, tapi di dalam rumah itulah yang seperti istiana dongeng.
__ADS_1
...Bersambung ...
Jangan lupa like dan komen🥰 InsyaAllah nanti up lagi🤗