
Seperti biasa pak dosen datang tepat waktu, seperti biasa pula dia mengabsen anak-anak nya dari awal sampai akhir. Namun salah seorang menjadi pusat perhatiannya, karena Lou Xi bukanlah mahasiswa yang berada di dalam kelasnya.
Mengetahui ada anak baru, dosen pun bertanya pada Lou Xi "Siapa kamu nak? Anak baru di sini?" Tanya pak dosen.
Dengan sopan Lou Xi berdiri dan ia memperkenalkan dirinya sendiri dengan ramah.
"Halo pak, maaf sebelumnya saya masuk ke kelas bapak tanpa mengisi formulir dulu. Hanya saja, saya ini ingin mencoba kelas bapak untuk hari ini saja kebetulan mata pelajaran bapak sepertinya sangat menyenangkan." Jelas Lou Xi.
Mendengar penjelasan itu, pak dosen pun tersenyum tidak marah dan tidak pula mengusirnya secara tidak sopan. Malah ia mempersilahkan Lou Xi untuk tetap berada di kelasnya sampai jam berakhir.
"Baik terimakasih pak." Setelah itu Lou Xi pun duduk kembali.
Hingga jam kuliah pun berakhir dengan cepat, kini para mahasiswa keluar kelas bergegas untuk pulang.
Di samping mereka bertiga kini berada di parkiran kampus.
"Ayo Bel." Ajak Lou Xi sembari membuka pintu mobil untuk Bella.
"Tunggu." Seru Gilang dari samping mereka.
"Kalian berdua mau kemana?" Tanyanya pada Bella.
"Kenapa? Mau nguntit ya?" Lou Xi bertanya balik seraya dirinya menghadang tubuh Bella dari tatapan Gilang.
Melihat sikap yang ditunjukkan Lou Xi pada Bella membuat Gilang merasa heran, karena sikap itu bukanlah hal yang biasa di lakukan oleh seorang teman atau Keluarga.
Ataukah memang faktor kecemburuannya dan malah menganggapnya terlalu berlebihan.
"Gaklah, cuma biasanya Bella ke butik btw saya juga mau pesen baju sama Bella." Jelas Gilang yang memang hanya modus saja.
Lou Xi dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Bella lalu ia pun bertanya "Mau ke butik sekarang?"
"Tidak, masih ada urusan lain." Jawab Bella.
Gadis itu lalu masuk ke dalam mobil menyisakan mereka berdua.
"Dengar dia kan? Syuh, syuh..." Lou Xi mengusir Gilang dengan suara mengusir ayam.
Gilang diam mematung dengan menatap kepergian mobil Bella di hadapannya, sampai detik kemudian Gilang tersadar oleh deringan handphone di sakunya.
__ADS_1
"Halo pa?" Sapa Gilang pada ayahnya.
"Kuliah kamu sudah selesai bukan? cepat datang kemari, papa butuh bantuan kamu!" Titah papa Gilang di balik sana, orangnya yang sudah tua dan berubah namun tetap segar seperti masih muda. Seorang papa yang selalu membela Gilang dari kekejaman kedua kakaknya yang super protektif dan super tampan.
"Awas aja kalau ada kakak! Gilang gak bakalan ikutin perintah papa lagi." Jawab Gilang dengan penuh penekanan.
Gilang adalah anak bungsu dari keluarga Athar, anak itu berbeda dari kedua kakaknya yang memiliki banyak prestasi dan kemampuan yang tinggi. Yah, walaupun dia bukan yang terbaik diantara yang terbaik, tapi setidaknya dia bisa menjadi salah satu yang baik.
"Haish percaya saja pada papa mu ini, papah tidak bisa bohong padamu Gi!" Jawab papa dengan memanggil Gi pada Gilang, karena sebutan Gi adalah panggilan orang-orang terdekat saja.
Btw, Bella juga pernah manggil Gilang Gi gak sih?! Bakal jadi jodoh gak ya,
"Oke pa, Gilang percaya sama papa. Tapi Gi udah kasih peringatan sama papa, kalau ada kakak di sana Gi gak bakal bantuin papa lagi titik gak pakai koma!"
"Papa angkat dua jari Gi, percaya sama papa." Papa Gilang mengangkat dua jarinya di seberang sana berusaha meyakinkan Gilang untuk datang ke perusahaannya sekarang juga.
"Oke."
**Tut
Tut
Dengan jawaban singkat dan pemutusan panggilan cepat dari Gilang, papa kesal dengan sikap anak bungsunya tersebut. Anak itu memang berani pada papanya karena keduanya seolah sudah menjadi teman karib sedari kecil.
Bukan tanpa sebab hubungan mereka begitu dekat sampai sekarang, dari kecil Gilang selalu di didik keras oleh kedua kakaknya dari mulai belajar di sekolah, les, belajar ini dan itu semuanya harus sempurna.
Namun dibalik itu papa selalu menjaga Gilang dan berusaha mengubah suasana hati anak yang butuh hiburan kecil.
Dan kini Gilang sedang dalam perjalanan menuju perusahaan sang papa, terkadang memang papa membutuhkan bantuannya dalam sesuatu hal walaupun hal itu kecil dan besar.
"Selamat datang tuan muda." Sapa pegawai yang bertemu dengannya, namun ada juga beberapa yang menunduk untuk menyapa.
Pemuda tampan dan ceria itu berjalan menyusuri lantai perusahaan dan masuk ke dalam lift. Sesampainya di tujuan, barulah Gilang masuk mengetuk pintu ruangan papa.
Tok Tok Tok
"Masuk." Ucap papa dari dalam.
Gilang masuk ke dalam lalu menghampiri ayah dengan cepat.
__ADS_1
"Katakan apa yang di butuhkan? Apa aku harus memperbaiki mesin lagi?" Tanya Gilang yang langsung duduk di kursi depan meja papa.
Papa hanya berdehem dengan matanya yang masih fokus membaca koran di tangannya.
"Pa apa yang kau lakukan?" Tanya Gilang, dirinya terkejut melihat papa yang tidak bertindak tegas dan tak melakukan apa-apa.
"Lihat saja di belakang mu."
Sontak Gilang dengan cepat membalikkan badan, pemuda itu tampak terkejut sampai bola matanya membulat besar.
"Ka-kakak?!" Ucap Gilang yang terbata-bata.
Kakak pertamanya Zen menahan bahunya dengan lengan kanannya yang kekar walau tertutup oleh jas biru di tubuhnya, sedangkan kakak keduanya Malik memegang sebuah dokumen putih di tangannya.
Di mata Gilang Dokumen itu adalah bencana untuknya, yang pasti itu bukan surat wasiat melainkan sebuah pekerjaan yang harus ia lakukan dalam waktu tempo tertentu!
"Halo Gilang." Sapa Kak Zen yang terdengar dengan nada yang sangat dingin.
"Ha-halo kak Zen." Sapa Gilang kembali yang dengan senyum terpaksa.
"Bagaimana kabarmu hari ini?"
Pertanyaan itu bukan hanya sekedar bertanya kabar akan tetapi sebuah peringatan! Seperti ini bunyinya :
"Kabarmu harus baik! Ingatlah tugas barumu nanti!"
Pikiran-pikiran itu muncul seketika di dalam kepala Gilang. Namun mulutnya tidak bisa bernegosiasi, ia dengan patuh menuruti perintah sang kakak walau ia ingin menolak jikalau di beri sebuah tugas berat.
"Baik kak, sangat baik. Ba-bagaimana denganmu kak Zen dan kak Malik?"
"Seperti biasa, tapi ada satu hal yang menggangguku dan membuatku tidak bisa tidur sampai sekarang." Jelas kak Zen yang menarik lengannya dari bahu Gilang, kakak berjas biru itu duduk di sofa ruangan sana.
Melihat itu papa yang sedang duduk di kursi kebesarannya, tiba-tiba ijin pamit undur diri dengan alasan rindu sang istri.
"Ah papa ingin pulang, sudah lama sekali papa terus begadang di sini jadi rindu masakan mama." Kata papa seraya berjalan pergi dari sana.
"Sampai jumpa besok pa." Ucap kak Zen dan kak Malik.
Di samping itu....
__ADS_1