Monster In Me

Monster In Me
Bertemu Teman


__ADS_3

Karsa mengerutkan kening saat menyadari bahwa penerangan Taman Bermain Cakrabuana masih bekerja dengan baik. Ia sama sekali tidak tahu kapan lampu-lampu di sekitar mulai menyala, karena saat siang hari, hampir semua cahaya yang ia lihat berasal dari lampu warna-warni yang menghiasi setiap wahana. Bukan lampu yang cukup terang untuk melawan gelapnya malam.


“Aduh, kakiku kesemutan! Sampai kapan kita harus meringkuk seperti ini?” Trisha yang berada tepat di samping Karsa terus merengek. Sesekali ia mengaduh karena tanpa sengaja membenturkan kepalanya ke permukaan keras yang kini menyembunyikan sosok mereka berdua.


“Apa yang kamu harapkan dari wahana cangkir seperti ini?” sindir Karsa yang sudah sangat kesal menghadapi sikap manja sang gadis. Trisha selalu mengeluh seakan-akan ia adalah orang yang paling malang dan tersiksa. Padahal Karsa sendiri harus menahan pegangan besi ke atas agar memberikan tempat yang cukup untuk mereka berdua bersembunyi.


Entah bagaimana ceritanya hingga semua kekacauan ini mampu membuat cangkir-cangkir yang menjadi salah satu wahana favorit anak beserta keluarga, menjadi hancur. Karsa dan Trisha tiba setelah semuanya terjadi. Sang pemuda yang cepat tanggap akhirnya mengarahkan mereka berdua untuk bersembunyi di dalam salah satu cangkir yang terbalik. Permukaan cangkir itu tertahan oleh batu pijakan yang cukup besar, hingga menyisakan sedikit celah yang cukup untuk dilewati kedua remaja itu.


Sebisa mungkin mereka meringkuk dengan menjaga jarak dari celah itu, agar sosok mereka tidak terlihat dari luar.


“Sampai kapan kita akan terus di sini?” Tanpa lelah Trisha terus berbicara. Karsa hanya bersyukur gadis itu cukup pintar untuk tetap menjaga suaranya agar tidak terdengar ke luar. “Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan? Ayo, bertarung demi aku!”


Karsa memutar bola matanya dengan jengah. “Kenapa aku harus melakukannya? Kalaupun aku keluar dan melawan para zombie itu, aku melakukannya demi diriku sendiri! Bukan demi kamu!”


“Karsa! Di situasi seperti ini seharusnya kamu berhenti bersikap kejam!”


“Sssttt! Diam dulu!” titah Karsa tiba-tiba. Membuat Trisha mengunci mulutnya seketika. Tubuh gadis itu mulai bergetar karena mengira persembunyian mereka telah terbongkar.


Namun, ekspresi Karsa tampak terlalu tenang. Akhirnya Trisha memberanikan diri untuk ikut mengintip keluar. “Ada apa, sih?”


“Lihat di sana.” Karsa menunjuk ke salah satu sudut yang gelap. “Bisa kamu lihat apa yang sedang bergerak itu?”


Trisha menggelengkan kepala dengan bibir mengerucut. “Tidak ada apa pun. Berhenti menakutiku!”

__ADS_1


“Lihat lebih teliti! Ada sesuatu yang mengilap di sana. Dan … dan, sepertinya ada yang tengah bertarung!”


Kedua mata Karsa tampak berbinar. Pemuda itu menjadi lebih bersemangat setelah ia objek yang tengah ia amati bergerak mendekat. Seolah secerca harapan tengah menyinari dirinya saat ini, wajah Karsa kini berseri.


Tentu saja hal itu membuat Trisha semakin penasaran. Ia pun memicingkan mata, berusaha untuk melihat apa yang telah Karsa lihat. Dalam hati ia berharap akan ada seseorang berseragam rapi serta bersenjata lengkap tengah berkeliling untuk menyelamatkan mereka. Namun, ternyata harapannya masih tetap menjadi harapan belaka.


Ternyata, sosok yang tengah menimbulkan kebisingan dengan menghajar setiap zombie di sekitar adalah pemuda yang sangat dikenalnya. Evan. Evan tampak memegang sesuatu yang sepertinya adalah tongkat besi. Pemuda pintar itu menjadikan tongkat itu sebagai senjata mematikan, yang membuatnya terhindar dari serangan zombie ganas sepanjang ia berjalan.


“Ayo, bersiap!” perintah Karsa tiba-tiba.


“Bersiap untuk apa?” Trisha menjerit panik saat Karsa merangkak ke luar. Tanpa sempat berpikir ia mengikuti pergerakan sang pemuda.


Ternyata zombie di sekitar mereka tengah berjalan menuju Evan, sehingga mereka berdua bisa bergerak untuk berpindah ke cangkir yang lain.


Rupanya ia tidak perlu kebingungan terlalu lama, sebab saat Evan berhasil mengalahkan para zombie yang menghalangi jalannya, Karsa menarik tangan Trisha untuk menghampiri Evan.


“Aaah! Siapa kamu? Kenapa ada di sini?” Bukan Evan yang berteriak histeris, melainkan Abian yang ternyata berada di belakang Evan selama ini. “Apa kamu sudah tergigit? Atau kena cakar? Buka bajumu agar kami bisa memastikannya!”


Abian terus melontarkan bermacam-macam pertanyaan dan perintah. Sementara Evan hanya menatap Karsa tidak suka, sambil memainkan tongkat yang berlumuran darah di tangannya.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan,” jawab Karsa terburu-buru. “Cepat! Zombie lainnya pasti sedang bergerak kemari. Kita harus segera pergi dari sini.”


“Tidak perlu kamu beritahu pun aku bisa melihatnya,” sahut Evan dengan ketus. Ia mengarahkan dagunya untuk menunjuk zombie-zombie yang mulai berdatangan dari berbagai arah. Pergerakan beberapa mayat hidup itu tampak diperlambat oleh keberadaan puing-puing wahana yang berserakan, tetapi sebagian lainnya mampu bergerak cepat hingga mereka mungkin akan mampu mencapai tempat Karsa dan kawan-kawan dalam sekejap.

__ADS_1


Evan sebenarnya berniat untuk kembali melontarkan komentar kejam, tetapi situasi yang tidak memungkinkan membuatnya menahan diri. “Berdiri siaga di sampingku,” titahnya sambil meraih tongkat lain dari dalam ransel dan menyerahkannya kepada Karsa. “Trisha bisa berjalan di tengah, dan kita akan bergerak dalam formasi lingkaran. Apa pun yang terjadi, jangan maju sendiri! Atau aku akan langsung meninggalkanmu!”


Dengan senang hati Trisha berdiri di belakang Evan, sementara Evan, Abian, dan Karsa mengelilinginya. Ia sungguh merasa seperti putri yang tengah dilindungi para kesatria sekarang. Merasa nyawanya adalah hal yang paling berharga untuk dipertahankan, meskipun orang lain harus berkorban demi keselamatannya.


Sayang, suara nyaring dari Evan yang memarahinya membuat lamunannya buyar begitu saja. “Konsentrasi Trisha! Kita akan bergerak dengan cepat!”


Trisha menelan ludah dengan gugup. Sesungguhnya kedua kakinya terus bergetar sedari tadi, baik karena ketakutan maupun lelah karena harus berlarian dan bersembunyi. Namun, tidak ada pilihan lain. Ia yakin bahwa para pemuda itu tidak akan lagi berusaha menyelamatkannya jika sampai ia celaka akibat kecerobohannya sendiri. Oleh karena itu, Trisha menguatkan dirinya dan bertekad untuk melakukan yang terbaik demi dirinya dan teman-temannya.


Lagipula, ia termasuk cukup beruntung karena tidak diminta untuk turut bertarung. Trisha hanya terus berjalan sambil memperhatikan bagaimana Karsa, Evan, dan Abian menghalau para zombie yang menghampiri mereka satu per satu. Semua mereka lakukan sambil berlari dalam kecepatan tinggi.


Hanya saja, mereka tidak selalu dapat memperkirakan pergerakan para zombie. Meskipun sudah berusaha untuk menghindar dan menghalau, kini terdapat beberapa zombie yang mampu mengimbangi kecepatan mereka. Trisha menjerit saat ia bertatapan dengan mayat hidup wanita yang kehilangan separuh wajahnya.


“Di belakang sini! Di belakang!” teriak Trisha meminta pertolongan.


Mendengar itu, Karsa yang baru saja memukul jatuh satu zombie lantas berdecak dan sedikit memperlambat larinya. Ia berpindah posisi dan berhenti berlari sejenak demi menghajar zombie yang hampir menyusul mereka. Meskipun ia sendiri takut akan ditinggalkan.


Entah beruntung atau tidak, zombie-zombie itu ternyata cukup lemah, sehingga hanya butuh beberapa pukulan hingga mereka berakhir terjatuh dan merangkak di atas tanah. Pergerakan mereka yang menjadi jauh lebih lambat memberi kesempatan untuk Karsa kabur dan berlari menyusul teman-temannya.


Tidak terbayangkan betapa leganya hati Trisha saat ia melihat Karsa kembali siaga di sisinya. Baginya, pesona sang pemuda bertambah berkali-kali lipat saat ini.


“Karsa! Setelah kita lolos dari semua ini, ayo, kita berpacaran!”


“Trisha! Ini bukan waktunya!”

__ADS_1


***


__ADS_2