Monster In Me

Monster In Me
Harus Kuat


__ADS_3

“Kak, kalau lelah, turunkan saja aku. Aku masih bisa jalan sendiri, kok,” ucap Helsa pelan. Kedua matanya tampak menutup cukup lama sebelum ia kembali memaksanya untuk terbuka. Tubuhnya sedikit bergetar karena terkena hujan yang turun beberapa saat lalu. “Kakak sudah menggendongku sejak tadi, bahkan kita belum beristirahat sama sekali. Kakak pasti lelah.”


Zean menggelengkan kepala dengan cepat. Sejenak ia berhenti berjalan untuk membetulkan posisi sang adik di punggungnya. “Kamu ini terlalu meremehkan Kakak. Meskipun Kakak lebih sering membintangi drama romantis, tapi Kakak juga pernah main film aksi. Fisik Kakak sekuat petarung gulat.”


“Benarkah? Kalau begitu kenapa rasanya kaki Kakak bergetar terus, ya?”


Pertanyaan polos Helsa sukses membuat Zean terdiam. Perlahan ia membungkuk dan melihat bagian bawah tubuhnya yang sudah terus berjuang membawa dirinya serta sang adik berkelana mencari tempat aman. Sesungguhnya Zean sudah tidak sanggup lagi melangkah. Bobot adiknya yang tidak ringan, serta ransel penuh obat-obatan dan perbekalan terus menekan tubuhnya ke bawah. Mendukung gravitasi yang sedari tadi merayu dirinya untuk segera menyerah dan berbaring saja di atas tanah.


Mereka cukup beruntung, karena sedari tadi, mereka tidak banyak bertemu dengan zombie. Hanya sesekali berpapasan, itu pun dengan zombie yang tidak memiliki tubuh yang utuh lagi atau zombie yang masih bisa dihindari dengan mengendap-endap. Namun, bukan berarti mereka berdua telah aman.


Zean sadar betul, bahwa tidak ada tempat yang aman untuk mereka di tempat ini. Bahkan jika seandainya mereka berhasil keluar dari Taman Bermain pun, bisa jadi mereka akan tetap harus berhadapan dengan para makhluk mengerikan itu. Oleh karena itu, Zean terus memaksakan dirinya untuk tetap bergerak.


‘Tapi sepertinya aku tidak boleh terus seperti ini. Bisa-bisa aku malah akan ambruk dan merepotkan Eca,’ pikir Zean. Akhirnya, ia sedikit membungkuk, memberikan sinyal kepada sang adik untuk segera turun dari punggungnya. Posisi mereka yang berada di belakang patung kura-kura raksasa membuat sosok mereka cukup tersembunyi. Sungguh tepat yang cocok untuk mereka beristirahat.


“Kita istirahat dulu bukan karena Kakak capek, tapi karena memang tidak baik terus memaksakan tubuh kita untuk berjalan,” ucap Zean sedikit berdusta, yang hanya ditanggapi dengan kekehan oleh sang adik.


“Kenapa kita belum juga bertemu dengan orang lain, ya, Kak?” tanya Helsa saat mereka berdua duduk bersebelahan. Tanpa memedulikan baju mereka yang basah terkena genangan air di jalanan.

__ADS_1


Zean yang tengah mengamati alat yang menempel di lengan sang adik lantas menggelengkan kepala. “Mungkin mereka juga sedang bersembunyi sehingga sulit untuk kita temukan.”


Helsa mengangguk pelan, sebelum akhirnya ia mengerucutkan bibir saat mengetahui apa yang membuat kakaknya begitu cemas saat ini. “HP kita berdua mati kehabisan baterai, jadi kita tidak bisa memantau kadar gula darahku, ya?”


“Iya. Dan sepertinya alat ini juga sempat terbentur sesuatu. Apa lenganmu tidak sakit?” tanya Zean khawatir.


“Tidak. Tidak ada yang sakit. Aku hanya …,” Helsa memainkan jari-jarinya dengan gelisah. “Aku hanya merasa sedikit pusing, lemas, dan mual.”


Susah payah Zean menahan diri untuk tidak terlihat panik, meskipun sesungguhnya saat ini ia sangat ingin berteriak. Wajah Helsa saat ini terlihat pucat, dan gadis itu juga mengeluarkan banyak keringat meskipun tidak banyak bergerak. Di hari biasanya, Zean akan merasa cukup tenang karena alat canggih yang ditempelkan di lengan Helsa akan membantunya untuk mengawasi kondisi adiknya itu. Lebih tepatnya, memantau gula darah sang gadis. Zean hanya perlu bereaksi dengan cepat setiap kali alarm dari alat itu atau dari ponselnya berbunyi.


Namun, kini kedua alat penunjang itu tidak dapat berfungsi dengan baik. Zean harus bisa menggunakan akalnya sendiri untuk membantu sang adik. Hal itu jelas membuat sang pemuda semakin panik, karena seumur hidupnya, ia tidak mempelajari banyak hal tentang hal-hal terkait kesehatan manusia.


Hingga akhirnya sebuah ingatan tentang pesan ibunya membuat Zean menjentikkan jari. “Ketika Eca terlihat lemah dan kelelahan, itu artinya dia butuh asupan gula,” gumamnya pelan sambil meraih ransel yang ada di dekatnya.


Zean menghela napas lega ketika mendapati bahwa perbekalan mereka masih cukup lengkap. Ia lantas mengeluarkan sebuah roti, jus buah, permen, serta tablet glukosa, dan menyusunnya di hadapan Helsa. “Pilih yang kamu mau. Salah satu saja. Jangan sampai kadar gula darahmu meningkat secara drastis.”


Helsa menyunggingkan senyum tipis, dan mengambil sebuah permen tanpa pikir panjang. Bukan hanya karena ia sedang tidak lapar, tetapi juga karena ia cukup sadar bahwa situasi saat ini mengharuskan mereka untuk berhemat. Tidak ada yang tahu sampai kapan mereka harus bertahan tanpa satu orang pun yang mengirimkan mereka makanan.

__ADS_1


“Kakak juga, makanlah sesuatu,” pinta Helsa sambil mengulum permen rasa stroberi miliknya.


Zean menggelengkan kepala. Tangannya menepuk puncak kepala sang adik dengan lembut. “Tidak usah. Tadi, kan, Kakak sudah minum minuman bersoda milikmu. Kalau Kakak makan lagi, bisa-bisa perut Kakak jadi buncit,” tolaknya sambil menyimpan kembali makanan dan minuman yang tidak terpilih oleh Helsa.


Helsa lantas terkekeh mendengar itu. Sejak dulu, kakaknya memang selalu memperhatikan dan menjaga penampilan.


Suasana di antara kakak beradik itu kini terasa sangat tenang dan damai, seolah mereka sedang berada di Taman Bunga yang indah, dan bukannya di Taman Bermain yang kacau karena serangan zombie. Helsa memejamkan mata, menikmati semilir angin yang berhembus, meskipun ia harus sedikit menutup hidungnya dengan tangan karena bau amis yang tersebar. Gadis kecil itu sungguh tegar menghadapi semua ini.


Zean merentangkan kakinya dan bergerak mendekati Helsa. Bermaksud mempersilakan adiknya itu untuk tidur dengan membaringkan kepala di atas pangkuannya. Namun, belum sempat ia melakukannya, ia mendengar langkah pelan seseorang menuju ke arah mereka.


Helsa yang juga mendengarnya refleks berpindah dan bersembunyi di balik punggung sang kakak. Sementara Zean berdiri dan memasang kuda-kuda ala kadarnya, bersiap untuk menyerang maupun mempertahankan diri dari orang asing yang mungkin bermaksud mencelakai mereka berdua.


“Wow, jangan begitu! Aku datang dengan damai,” ucap Taka angkuh. Ia kini berdiri tegap tepat di hadapan Zean. Berbalik ke sana kemari sambil memamerkan beberapa bagian tubuhnya, seperti lengan, leher, punggung, dan kaki. “Lihat? Aku sama sekali belum tergigit atau tercakar para makhluk sialan itu. Aku masih manusia biasa!”


Masih dalam keadaan waspada, Zean menatap Taka dari ujung kepala hingga kaki. “Lalu, apa maumu? Kamu sudah mengikuti kami sejak tadi, kan? Kukira kamu hanya tersesat, tapi kenapa tiba-tiba mendatangi kami seperti ini?”


Benar. Sejak tadi Zean sudah tahu bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka, tetapi ia hanya diam saja karena orang asing itu juga tidak menunjukkan pergerakan mencurigakan. Sangat berbeda dengan saat ini, Taka tampak terus menyeringai dengan mencurigakan.

__ADS_1


Taka menjilat bibirnya yang tampak sangat kering. “Baiklah. Aku tidak akan berbasa-basi.” Mendadak pemuda itu mengeluarkan pecahan kaca besar dan mengulurkannya ke depan wajah Zean. “Serahkan ransel kalian kepadaku!”


***


__ADS_2