
“Kamu yakin mau ke sana?” tanya Firda cemas. “Bukankah kita berdua mendengar dengan jelas suara zombie dan jeritan yang terdengar bersama suara Evan? Kurasa tempatnya sama sekali tidak jauh lebih aman dari tempat kita ini, Dir!”
Adira tetap yakin berjalan memimpin di depan. “Kamu benar. Tapi aku harus tahu rencana seperti apa yang sedang Evan coba lakukan saat ini.”
“Kenapa?” Firda yang mulai frustrasi akhirnya menarik paksa Aron agar berjalan lebih cepat guna menyusul Adira. “Setiap manusia yang masih hidup di tempat ini pasti melakukan apa pun demi bertahan hidup. Sejauh ini kita juga baik-baik saja dengan cara kita sendiri. Kenapa harus ikut campur rencana Evan? Kamu tahu sendiri seperti apa anak itu!”
“Iya, aku tahu.” Adira menarik napas dalam dan menghentikan langkahnya. “Tapi entah kenapa firasatku mengatakan kalau kita harus ke sana. Paling tidak, mungkin kita akan bertemu teman-teman yang lainnya. Atau Bu Danita. Sudah lama sekali kita tidak melihat orang dewasa. Dan saat ini kita tidak punya rencana apa pun selain bertahan, kan?”
Firda lantas terdiam mendengar itu. Jaraknya dengan Adira cukup dekat untuk membuatnya tercengang melihat betapa putus asanya Adira saat ini. Meskipun tahu bahwa sang sahabat bukannya sedang merindukan teman-teman dan hanya sedang merasa gelisah karena menemukan jalan buntu, dada Firda tetap merasa sesak karenanya.
Dengan segera ia mengalihkan pandangan. Mereka kini berada di area panggung, di mana pertunjukan biasa digelar setiap akhir pekan. Bersembunyi di balik tirai yang masih menggantung meskipun beberapa pengaitnya telah lepas. Penerangan di sekitar mereka sangat terbatas, Firda hampir tidak bisa melihat kakinya sendiri dengan jelas. Satu-satunya hal yang menjadi petunjuk arah mereka adalah stiker yang bercahaya dalam gelap yang ditempel di permukaan panggung.
Fajar mulai menjelang, Firda berharap matahari segera terbit untuk menyinari dan menghangatkan perjalanan mereka. Mungkin dengan begitu, ia, Adira, dan Aron bisa sedikit menarik napas lega.
“Kamu benar,” jawab Firda akhirnya. Memilih untuk tidak lagi berdebat dengan Adira. “Hanya saja, mungkin kita bisa menunggu sampai hari sedikit lebih terang? Kita sudah berjalan cukup lama tanpa istirahat. Aron juga pasti sudah sangat lelah.”
Aron yang sejak tadi mulai berjalan sedikit terhuyung-huyung, perlahan menganggukkan kepala. Tanpa mengucapkan apa pun ia jatuh terduduk dan merentangkan kakinya ke depan. Jelas sekali bahwa ia tidak ingin meneruskan perjalanan dulu untuk saat ini.
Adira yang mendengar itu lantas mendengkus pelan, tetapi ia sama sekali tidak menentang saran Firda dan langsung duduk tidak jauh dari sang sahabat. Dalam kegelapan, Firda dapat melihat bahwa mata Adira sedikit mengilap. Mata gadis itu berkaca-kaca, entah karena perasaan sedih atau karena ia juga menguap kelelahan.
__ADS_1
Firda duduk dan mengarahkan kepala Aron untuk beristirahat di atas pangkuannya. Dalam diam ia mengelus rambut kepala anak itu yang masih saja terasa lembut setelah semua yang terjadi.
Mereka terdiam beberapa saat sebelum Adira kembali berbicara. “Maaf kalau aku selalu saja memaksakan keinginanku. Aku hanya tidak tahan bergerak tanpa tujuan,” gumamnya pelan.
Firda menggelengkan kepala meskipun tidak yakin apakah Adira dapat melihatnya. “Sejak awal tujuan kita hanya satu, yaitu untuk keluar dari sini dengan selamat. Aku mengerti kalau tujuan itu tidak terdengar meyakinkan untukmu”
Helaan napas Adira terdengar jelas, sebelum ia mengubah posisinya menjadi berbaring. “Kita istirahat dulu di sini sebentar sambil menunggu pagi.”
Dengan kalimat itu, Adira, Firda, dan Aron lantas memejamkan mata. Berusaha menyambut mimpi yang tidak mungkin datang karena mereka tidak membiarkan kewaspadaan mereka menurun.
Adira sendiri hanya memejamkan mata untuk beberapa menit sebelum terjaga dalam posisi berbaring. Ia hanya terdiam dan berusaha memupuk kembali kekuatan mental dan fisiknya untuk kembali berjuang.
Beberapa waktu lalu ia, Firda, dan Aron telah kembali berjalan menelusuri reruntuhan wahana. Mereka berjalan dengan hanya mengandalkan ingatan serta petunjuk arah yang menunjukkan jalan menuju ‘Pusat Informasi’. Adira pikir mungkin di sanalah mereka akan bertemu dengan Evan dan yang lainnya.
Setiap beberapa menit, mereka harus berpindah jalur guna mengurangi risiko berpapasan dengan zombie. Dan setiap kali mereka melakukan itu, mereka harus berlari melalui wilayah yang lebih terbuka sebelum sampai ke tempat yang tersembunyi kembali. Beberapa kali Adira, Firda, dan Aron berhasil melakukannya. Sampai satu waktu, Adira mendadak berhenti berjalan. Wajahnya tampak pucat pasi seolah ia baru saja melihat penampakan makhluk tidak kasat mata.
Firda baru menyadari apa yang membuat sahabatnya sangat terkejut seperti itu setelah ia berusaha mengikuti arah pandang Adira.
Beberapa meter di depan mereka, berdiri seseorang, tepatnya seorang pemuda yang juga melihat ke arah mereka. Penampakan pemuda itu terlihat sangat kumal, dengan beberapa noda darah menghitam di banyak bagian tubuhnya. Namun, kedua gadis itu mampu mengenali sang pemuda dengan sangat baik.
__ADS_1
Adnan Mizan Bernadette.
Alias kakak dari Adira sendiri.
Kedua kaki Adira mulai bergetar hebat. Air mana mulai menggenang di pelupuk matanya. Gadis itu bahkan jatuh terduduk jika saja Firda tidak memegang erat kedua pundaknya. Bahkan Aron turut membantu dengan memeluk pinggangnya. Adira menangis tanpa bersuara. Ia sungguh tidak pernah menyangka akan kembali melihat sosok yang paling ia sayangi di dunia ini.
“Katakan kalau aku tidak sedang bermimpi!” pinta Adira dengan suara yang bergetar hebat. Berkali-kali ia mengatupkan gigi-giginya dengan erat guna mencegah rahangnya ikut bergetar. Tangannya kini terentang ke depan. Memanggil sosok Adnan untuk segera menghampirinya.
Adnan sendiri tampak cukup terguncang, terlihat dari caranya yang tidak langsung bereaksi. Sama seperti sang adik, Adnan hanya berdiri mematung. Batinnya berkecamuk oleh berbagai perasaan berbeda yang kini memenuhi dirinya.
“Tidak, Dir, kamu tidak bermimpi. Aku juga melihat Kak Adnan dengan sangat jelas.” Tanpa sadar Firda menyunggingkan senyum tipis. Meskipun ia sama sekali tidak mempunyai hubungan darah dengan Adira dan Adnan, ia sungguh merasa ikut senang menyaksikan pasangan kakak beradik itu kembali bertemu.
Sebab ia tahu betul bagaimana dekat hubungan Adira dengan kakaknya. Bahkan saat serangan zombie baru saja berlangsung, orang pertama yang ingin Adira hubungi bukanlah orang tuanya, tetapi Adnan. Hampir di sepanjang jalan yang mereka lalui, Adira selalu berusaha menemukan ponsel orang lain yang mungkin saja tercecer, bahkan berkali-kali ia terancam bahaya karena niatnya itu. Namun, sampai saat ini sang sahabat tidak kunjung berhasil menemukannya.
Dan kini Adnan berdiri tepat di hadapan mereka. Rasanya Firda kembali berani berani mengharapkan pertemuannya kembali dengan keluarganya sendiri setelah melihat Adira yang berhasil menemukan Adnan. Atau, harus Firda katakan bahwa Adnan yang telah berhasil menemukan Adira?
Firda baru saja menggendong Aron di punggungnya, bersiap berlari bersama Adira untuk menghampir Adnan, saat tiba-tiba suara denging kembali terdengar. Kali ini lebih nyaring dibandingkan sebelumnya.
***
__ADS_1