Monster In Me

Monster In Me
There You Are!


__ADS_3

“Kenapa kamu gak bilang ke Kakak, Ca? Kamu tahu, kan, luka sekecil apa pun berbahaya untukmu?” Zean mendesah sambil mengangkat kaki Helsa dan menempatkannya di pangkuannya. Kedua matanya menatap setiap titik di kaki gadis itu untuk memastikan bahwa tidak ada luka lain yang terlewat oleh mereka berdua. Susah payah Zean mengendalikan dirinya untuk tidak meledak sekarang juga setelah melihat banyaknya luka gores di kulit putih sang adik. “Kamu yakin tidak ada bagian tubuh lain yang sakit?”


“Tidak ada, Kak,” jawab Helsa sambil menggelengkan kepala. Perlahan, ia menarik kakinya menjauh dari jangkauan Zean. “Sudah kubilang ini bukan apa-apa. Kakak jauh lebih banyak terluka daripada aku.”


“Tapi tetapi saja,” Zean tiba-tiba berhenti berbicara dan membiarkan ucapannya menggantung begitu saja. “Hah … percuma saja aku merebut ransel kita dari penjahat tadi, jika akhirnya kita harus meninggalkannya karena tersudut oleh banyaknya zombie.”


Zean merogoh setiap saku yang ada di pakaian maupun celananya, mencari sesuatu yang mungkin berguna. Tetapi ia hanya menemukan sampah plastik sisa roti atau permen, dan sebuah bungkusan berisi bubuk putih yang terbakar di beberapa sisinya. Bungkusan itu ia temukan saat sedang berlari menghindari zombie tadi.


Perlaha, Zean mengamati bubuk itu dari dekat. Keningnya berkerut setelah ia menyadari apa itu.


“Itu karena karma,” celetuk Helsa sambil memelototi Zean yang refleks menyimpan kembali bungkusan aneh di tangannya ke dalam sakunya. “Malaikat tidak suka dengan cara Kakak merebut kembali tas itu. Oleh karena itu, baik kita maupun si penjahat itu tidak bisa memiliki tas itu.”


Bukannya tersinggung ataupun marah, Zean justru terkekeh mendengar itu. Ia mencubit ujung hidung Helsa yang lantas merengek. “Dari mana adik Kakak yang menggemaskan ini belajar kata yang sulit seperti itu,” goda Zean dengar suara yang dibuat sedikit cempreng. “Ya, sudah. Kalau begitu, Kakak akan tutup luka ini seadanya saja,” tambahnya lagi sambil merobek kain bagian lengan bajunya sendiri.


Namun, belum sempat ia memasangkan kain itu ke kaki sang adik, tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak dari kejauhan.


“Aku tahu kalian di sini! Aku bisa mencium kebusukan hati kalian bahkan dari jarak puluhan kilometer sekalipun!”


“Tidak mungkin,” gumam Zean. Ia sungguh tidak percaya, baik kepada ucapan Taka maupun kepada keberadaan remaja itu sendiri. “Aku yakin bahwa seharusnya ia mati dikeroyok zombie di tempat itu.”

__ADS_1


“Kak ….” Helsa memeluk Zean dengan erat. “Aku takut. Apa dia datang kemari karena ingin membalas dendam?”


“Sepertinya begitu,” jawab Zean jujur sambil menyembulkan kepala di balik kotak instalasi listrik besar yang ada di dekatnya. Dari balik jeruji yang mengelilingi, ia bisa melihat Taka telah menyeret langkahnya menuju ke arahnya. Sepertinya pemuda itu belum menemukan keberadaan mereka, sebab ia sibuk mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Zean menarik napas dalam, dan mengarahkan Helsa untuk kembali menaiki punggungnya.


“Pegangan yang erat. Kita harus segera mencari tempat aman lain,” ucap Zean sambil berbisik. Dengan mengandalkan insting serta keberuntungannya, pria itu keluar dari tempat persembunyian tanpa terlihat oleh Taka.


Zean memilih untuk tidak pergi terlalu jauh, karena ia tahu bahwa Taka akan lebih mudah menemukannya jika ia berlari di jalanan yang terbuka. Maka dari itu, ia segera menghampiri tumpukan kain gorden kumal yang berada tidak jauh dari sana. Bangunan bertingkat yang ada di dekat kain itu membuat Zean menyadari untuk apa fungsi sebenarnya dari semua kain tersebut.


“Kain ini pasti salah satu properti panggung dari pertunjukan mingguan,” gumamnya sambil menurunkan Helsa dari gendongannya. Dengan cekatan ia menyibak kain tersebut dan menutupi tubuh mereka berdua. Mereka harus bertahan dalam posisi bersujud untuk memastikan bentuk tubuh mereka tidak akan terlihat jelas dari luar.


Helsa sungguh merupakan anak yang cerdas. Ia melakukan semuanya tanpa harus diperintah oleh Zean. Dalam diam ia bertahan meskipun posisi mereka saat ini sungguh tidak terasa nyaman.


“Gadis kecil, kamu dengar aku, kan?” panggil Taka sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. “Ayo, keluar dan pergi denganku. Tinggalkan kakakmu yang mengerikan itu. Bukankah kamu sudah lihat apa yang dia lakukan kepadaku?”


Untuk sesaat, jantung Zean berhenti berdetak. Rupanya Taka benar-benar tahu, apa yang harus ia katakan guna memecah belah pasangan kakak beradik itu. Zean belum sempat menjelaskan seluruh situasinya untuk membuat Helsa lebih memahami semua keputusan yang telah dan akan diambilnya. Dan kini, Taka malah memperburuk masalahnya.


Perlahan, Zean mengintip ke arah sang adik yang masih bergeming di tempat. Helsa pasti mendengar jelas semua ucapan Taka, tetapi memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun, bagi Zean, menghadapi diamnya sang adik jauh lebih mengerikan dibandingkan menghadapi amarahnya.


Sampai akhirnya Zean tersadar bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuknya memikirkan pandangan Helsa kepadanya. Mereka berdua harus terus bersembunyi hingga Taka pergi menjauh atau hingga pemuda itu bosan mengejar mereka. Meskipun Zean tahu betul bahwa pilihan dua tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Buktinya, Taka mampu mengejar mereka berdua kemari dalam waktu singkat. Sekilas, saat mengintip tadi, Zean bisa melihat keadaan Taka yang penuh luka. Dengan tubuh seperti itu, pasti membutuhkan tekad yang cukup besar dan kuat untuknya pergi ke sana kemari mencari Zean dan Helsa.


Seharusnya Zean tahu, bahwa kekuatan dendam bahkan bisa membuat seorang manusia mampu membalik sebuah gunung besar.


‘Aku malah memperburuk situasi dan membuat Eca terjebak di dalam bahaya yang lebih besar,’ sesal Zean sambil mengusap wajahnya. Dengan susah payah ia mencoba memikirkan cara untuk mereka lari dari situasi saat ini.


Pemuda itu melihat ke arah Helsa, memastikan kondisi sang adik. Tiba-tiba kedua matanya melebar melihat salah satu kaki sang gadis bergoyang cukup cepat dan kuat, hingga menggerakkan kain yang tengah menutupi tubuh mereka berdua.


“Ca, Eca … berhenti bergerak!” titah Zean sambil berbisik. Rasa panik mulai memenuhi benaknya. Tanpa henti ia berharap bahwa Taka tidak sedang melihat ke arah mereka. “Kita bisa ketahuan, Ca. Kakak mohon, diamlah!”


“A-aku tidak bisa. Aku tidak tahu kenapa.” Helsa mulai terisak. Dengan sebelah tangannya, ia memegang kakinya yang tidak kunjung berhenti bergerak. “Rasanya seperti geli, atau gatal? aku tidak tahu, Kak. Tolong aku. Ini benar-benar tidak nyaman.”


Dengan susah payah serta dengan sangat waspada, Zean berpindah mendekati sang adik. Ia meraih kaki adiknya yang masih saja bergerak menendang ke sembarang arah dan mencoba menahannya dengan kedua tangannya. Bisa ia rasakan Helsa sedikit tersentak saat ia menyentuhnya. Pemuda itu lantas memandang sang gadis dengan penuh tanya. “Apa sakit?”


“Ti-tidak. Kurasa aku bisa berhenti bergerak sekarang. Tapi, rasanya aku hampir tidak bisa merasakan ujung kakiku,” jawab Helsa dengan suara yang bergetar.


Belum sempat Zean mengatakan apa pun saat tiba-tiba kain penutup mereka tersibak. Cahaya matahari yang beringsut masuk membuat keduanya menyipitkan mata.


“There you are!” Taka menyeringai dengan wajah mengerikannya.

__ADS_1


***


__ADS_2