Monster In Me

Monster In Me
Keluarga yang Kacau


__ADS_3

“Hasil ujian kemarin sudah keluar. Ada satu orang yang mendapat nilai sempurna.”


Seluruh siswa berseragam putih biru di dalam ruangan lantas bertepuk tangan dengan malas. Selama tiga tahun mereka menempuh pendidikan di SMP, hanya satu orang yang sering menjadi juara di kelas mereka. Oleh karena itu, mereka tidak lagi bersemangat maupun berharap menjadi seseorang yang namanya disebut dengan bangga oleh guru.


“Selamat untuk Adira Marwa Bernadette! Ibu benar-benar bangga kepadamu.”


Sang siswi yang menjadi pusat perhatian hanya menganggukkan kepala pelan sebelum kembali memusatkan perhatiannya kepada buku catatan di hadapannya. Tidak pernah satu kali pun ia merasa senang meraih juara kelas, sebab orang tuanya selalu mengatakan bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang patut ia banggakan. Ayah dan Ibunya baru akan merayakan pencapaiannya jika ia berhasil menjadi siswi terbaik tingkat nasional.


Dan itu terasa cukup mustahil, mengingat kakaknya yang sangat cerdas saja baru meraih juara tingkat kotamadya.


Meskipun begitu, Adira cukup lega mendapati dirinya memiliki potensi. Ia hanya perlu berusaha lebih keras lagi.


“Lihat! Dia seperti itu lagi! Sama sekali tidak tersenyum!”


“Dasar sombong!”


“Pasti dia ingin menunjukkan bahwa nilai bagus bukan apa-apa untuknya.”


Terdengar banyak sekali siswi berbisik di belakang punggungnya. Hal yang sudah biasa terjadi setiap kali Adira berhasil membuat suatu pencapaian. Satu kali pun Adira tidak pernah merasa terganggu dengan itu. Selama tidak ada orang yang berani menyakitinya secara fisik, Adira akan terus bergeming.


Hingga suatu hari, seseorang benar-benar memberanikan diri untuk berdiri dengan angkuh di hadapannya.


“Apa maumu?” tanya Adira ketus. Ia tidak punya waktu untuk berbincang dengan teman sekelas. SMP Negeri tempatnya bersekolah hanya menyediakan waktu istirahat makan siang yang sebentar. Adira harus memanfaatkannya untuk pergi ke perpustakaan dan membeli makan siang yang bisa ia makan diam-diam sambil belajar. “Menyingkir dari hadapanku! Kamu menghalangi jalan.”

__ADS_1


Gadis yang sama sekali tidak Adira ketahui namanya itu lantas mendengkus. “Buat apa pintar jika tidak punya teman?” sindirnya. Lengkap dengan matanya yang memutar dengan sangat menyebalkan. Adira hampir saja memukul bola mata menyebalkan itu agar berhenti bergerak.


Tentu saja ia tidak akan melakukan itu. Jika sampai gadis di depannya terluka dan menjadi buta, ia akan terkena masalah besar. Oleh karena itu, Adira memilih untuk mengayunkan kaki guna menendang sang gadis asing dengan keras.


“Aaaah! Mamaaa!” Gadis itu menjerit dan berakhir tersungkur di lantai. Menangis keras hingga menarik perhatian banyak siswa di luar ruangan serta guru yang sedang kebetulan lewat. Meski begitu, Adira tetap berdiri dengan santai di tempat.


Bahkan saat gadis yang dilukainya diangkut ke UKS, Adira mengikuti langkah guru yang memintanya untuk datang ke kantor Kepala Sekolah dengan tenang. Kedua matanya menatap datar sekitar, seolah tidak ada satu pun hal yang dapat menarik emosi apa pun dari dalam dirinya.


Ia tetap seperti itu meskipun beberapa jam kemudian orang tuanya datang bersama orang tua gadis yang ia serang. Sementara sang gadis sendiri tidak terlihat.


“Anak kami harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit besar karena kakinya membengkak,” ucap sepasang manusia asing yang terus saja menatap Adira tajam.


“Aku tidak menendangnya sekeras itu,” celetuk Adira sambil mendecakkan lidah.


Namun, Adira tidak akan pernah menurut terhadap siapa pun, tidak peduli seberapa menyeramkannya orang tuanya, gadis itu tahu bahwa mereka tidak akan pernah bisa menyakitinya. Apalagi dengan kehadiran seorang pemuda tinggi dan tampan yang kini memasuki kantor Kepala Sekolah dengan napas terengah-engah.


“Adnan! Untuk apa kamu kemari?” Irwan benar-benar terkejut mendapati anak sulungnya datang di saat hari belum memasuki sore hari. Adnan seharusnya masih belajar di sekolahnya.


Adnan melirik ke arah Dewi sekilas sebelum bergegas dan berjongkok di depan Adira. “Kamu tidak apa-apa, kan?”


Untuk pertama kalinya di hari itu, Adira tersenyum cerah. “Hai, Kak!” Ia memilih menyapa orang favoritnya dibandingkan membicarakan situasi tidak menyenangkan saat ini.


Mendengar suara ceria Adira, ekspresi khawatir Adnan perlahan luntur. Kedua matanya menatap sendu sang adik. “Halo, Dir. Ada apa lagi ini? Kakak pikir kamu akan mulai berusaha berteman dengan teman seusiamu?” tanya Adnan lembut. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran para orang dewasa yang kini menyaksikan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Adira mengangkat salah satu alisnya sebelum mengendikkan bahu. “Aku kira aku harus melakukannya mulai besok.”


Adnan mencubit kedua pipi sang adik dengan gemas. “Kakak, kan, memintamu untuk memulai secepatnya,” ucap sang pemuda sambil menghela napas berat. “Baiklah, buktikan saja besok. Untuk saat ini, kamu tunggu di luar, ya. Biar orang dewasa yang menyelesaikan semuanya.”


Hampir saja Adira mencibir mendengar ucapan kakaknya yang masih menganggapnya belum dewasa. Tubuhnya memang tidak terlalu tinggi, tetapi ia tetap seorang siswi kelas 3 SMP. Kenapa Adnan selalu memperlakukannya seperti anak kecil?


Meskipun begitu, sang gadis tetap menuruti saran sang kakak dan berjalan ke luar ruangan. Sedikit pun tidak memedulikan protes yang keluar dari mulut orang tua gadis yang ia tendang.


Dan jika setelah pulang ke rumah ia melihat Irwan memukuli Adnan habis-habisan, Adira hanya akan mengurung diri dan belajar di kamar. Bertingkah seolah ia tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi, seperti biasanya.


Hanya saja, terkadang ada saat-saat di mana ia tidak dapat lagi berpura-pura. Terutama apabila suara benda pecah belah terus terdengar dari lantai bawah. Mau tidak mau, Adira mengikuti keingintahuannya dan pergi mengendap-endap untuk melihat seberapa besar amarah Irwan hingga sang ayah terdengar seperti akan menghancurkan tempat tinggal mereka.


“Berdiri di situ dan jangan berani-berani bergerak sedikit pun! Kalau sampai kamu terluka lebih dari ini, maka itu bukan salah Ayah!” bentak Irwan sambil menunjuk tubuh Adnan dengan tongkat golf.


Sementara sang pemuda yang telah dipenuhi banyak luka kini hanya berdiri menunduk di sudut ruang keluarga. Dikelilingi oleh banyak pecahan vas bunga, kaca permukaan meja, dan pecahan lainnya yang tidak dapat Adira kenali. Dilihat dari adanya beberapa cairan kental hitam yang mengotori lantai, Adira pikir, selain membanting barang-barang di ruang keluarga, ayahnya juga melemparkan secangkir kopi miliknya sendiri.


Dengan berani, Adira menunjukkan kehadirannya secara terang-terangan. Gadis itu berjalan tegap mendekati sang ayah dengan pandangan berani dan penuh tanya. Sengaja ia mengabaikan tatapan Adnan yang terus menggelengkan kepala. Memintanya untuk menghentikan apa pun yang akan ia lakukan dan segera kembali ke kamar.


Tidak ada lagi kata mundur. Kini Irwan telah menyadari kehadiran Adira dan tampak menarik napas panjang guna menahan emosinya.


***


__ADS_1


__ADS_2