Monster In Me

Monster In Me
Hujan


__ADS_3

“Aaah! Anak-anak, bertahanlah! Sebisa mungkin tekan leher mereka dengan lengan kalian!” teriak Danita yang kini tengah terjebak di antara zombie dan dinding pusat makanan ringan dan minuman Taman Bermain Cakrabuana. Wajahnya sudah dipenuhi luka dan darah segar karena terus terbentur aspal saat ia terjatuh karena dikejar segerombolan zombie. Dan meski guru muda itu telah berusaha sangat keras untuk menyelamatkan diri, ia tetap berakhir terjebak karena ternyata jalur yang ia tempuh membawanya ke jalan buntu.


Secara otomatis, para siswa yang tadi mengikuti arahannya juga terjebak di situasi yang sama. Karsa terus berusaha menghindari serangan dengan menjatuhkan beberapa mesin penjual minuman otomatis untuk menghalangi pergerakan zombie. Namun, jumlah zombie yang terlalu banyak mulai membuatnya kewalahan. Apalagi kedua telinganya juga harus tersiksa karena Trisha yang terus berteriak di belakangnya.


Sementara itu, situasi Evan dan Abian juga tidak jauh berbeda. Abian kini tengah berada di atap stan makanan. Bertahan di atas sana sambil terus mendorong zombie yang berusaha naik menggunakan tongkat yang tidak cukup panjang. Evan sedikit beruntung karena ia berdiam di atas atap truk yang telah dimodifikasi untuk berjualan roti lapis. Setidaknya, tempatnya berpijak lebih kokoh daripada atap terpal yang Abian tempati.


“Selesai sudah! Kita akan mati di sini! Aku tahu itu!” teriak Abian putus asa. Air mata sudah lama mengalir deras di pipinya. Membasahi pakaiannya yang sudah mempunyai berbagai corak warna merah kecoklatan. “Di setiap film horor, tidak peduli seberapa hebat pemainnya, mereka akan tetap mati jika terkepung!”


“Diam kau, Bian!” tegur Evan sambil meremat rambutnya sendiri. Berharap dengan begitu ia akan bisa berpikir dengan lebih jernih. “Daripada terus mengeluh begitu, lebih baik kamu cari cara untuk melompat kemari! Terpal itu tidak akan bisa menahanmu lebih lama!”


“Ngomong, sih, gampang! Bagaimana caranya aku bisa melompat sejauh itu? Kamu tidak tahu bahwa nilai Penjaskes-ku sangat buruk?”


“Katamu kita semua akan mati? Kalau begitu, lebih baik mati saat mencoba melompat daripada mati karena terjatuh dari atap terpal!”


“Aku tidak mau dua-duanya!”


“Abian!”


Evan memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut dengan menyakitkan. Ia sungguh tidak habis pikir, mengapa ia mau bepergian bersama orang bodoh seperti Abian. Belum lagi Danita, Karsa, dan Trisha, yang bukannya membantunya malah ikut terjebak di bawah sana. Bahkan Evan tidak bisa melihat posisi mereka bertiga dengan jelas, saking banyaknya zombie yang mengepung mereka.

__ADS_1


“Benar-benar tidak berguna! Apa mereka hanya bisa bertahan sampai di sini saja?” gerutu Evan di dalam hati. Tanpa memedulikan tangan-tangan zombie yang berusaha meraih kakinya dari bawah truk, Evan berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekitar satu kali lagi. “Sebenarnya, kenapa mereka semua berkumpul di tempat ini? Apa mereka masih punya kesadaran tersisa dan datang ke gerbang keluar untuk pergi dari sini?”


Kening Evan berkerut saat ia menyadari sesuatu. “Dan lagi, kenapa rasanya para zombie di sini terlihat lebih ‘bersih’ dibandingkan dengan zombie yang kutemui di tempat lain? Maksudku, banyak di antara mereka yang tidak punya banyak luka.”


Pemuda itu lantas menggelengkan kepala guna menggusir pertanyaan tidak berguna itu. Ia kemudian menatap nanar gerbang besar yang tertutup rapat tidak jauh dari tempatnya berada. Kedua matanya memicing saat melihat kunci selot besar serta gembok yang terpasang di sana. Mengingat kembali betapa kerasnya ia, Karsa, Danita, dan Trisha berusaha untuk merusak kunci itu.


Padahal itu adalah kesempatan mereka. Dari celah gerbang besar itu Evan sempat melihat bahwa keadaan di luar gerbang cukup sepi tanpa ada zombie yang terlihat. Sepertinya para mayat hidup itu tidak sampai memenuhi tempat parkir Taman Bermain Cakrabuana.


“Kami hanya perlu mendobrak gerbang itu dan berlari keluar. Mencuri kendaraan apa pun yang pertama kali kami lihat. Lalu pergi,” gumamnya pelan. “Semudah itu! Aku bahkan bisa mengorbankan beberapa orang jika sampai ada zombie yang mencegat kami! Tapi nyatanya, tidak satu pun dari rencanaku yang berhasil! Jika sampai aku kehilangan mereka semua di sini, aku tidak akan lagi punya senjara untuk bertahan!”


“Siapa pun tidak akan ada yang bisa keluar dari sini,” pikir pemuda itu. “Jika memang masih ada orang-orang yang bertahan hidup, seharusnya mereka akan mengarah kemari. Namun, sejauh ini aku tidak melihat siapa pun. Apa ada gerbang yang lain?”


Evan menghela napas berat. Rasa frustrasi telah memenuhi benaknya saat ia melihat atap yang diduduki Abian mulai oleng. Tampaknya para zombie itu berhasil mendorong tiang penyangga hingga membuat temannya itu kini harus berpegangan untuk tetap bertahan.


Para mayat hidup di sekitarnya tampak menggeliat kesakitan. Beberapa di antaranya yang masih mempunyai anggota tubuh yang utuh tampak menekan kedua telinga masing-masing. Mereka mengeluarkan jeritan mengerikan sambil berlari ke sana kemari tidak tentu arah. Hingga berakhir terpeleset oleh jalanan yang licin, baik oleh darah maupun air dari hujan yang mulai turun.


Raungan yang menggores hati membuat Danita ikut meringis. Namun, ia tidak mempunyai waktu untuk mengasihani para makhluk aneh itu. Meskipun saat ini suara petir terus terdengar hanya dalam selang waktu beberapa detik, ia tidak tahu kapan semua itu akan berhenti. Dengan segera Danita berlari mencari para siswanya, dan menemukan Karsa tengah berdiri mematung bersama Trisha.


“A-ada apa ini?” tanya sang pemuda. Kedua matanya tidak berhenti membelalak, terbuka lebar menyerupai mulutnya yang menganga. Ia sungguh merasa kebingungan.

__ADS_1


Karsa telah siap menerima kematiannya, saat tiba-tiba semua zombie di sekitarnya pergi.


“Ibu juga tidak tahu,” jawab Danita sambil merangkul Trisha yang masih terisak. “Kita tidak punya waktu untuk memikirkannya. Ayo, cepat pergi dari sini! Apa kalian melihat Evan dan Abian?”


“Aku di sini, Bu!” Abian berteriak dari posisinya yang bergelantungan di ujung atap terpal. Ia merengek karena tidak bisa turun maupun naik. “Tolong! Aku takut!”


“Lepaskan saja tanganmu!”


“Tidak mau! Apa kamu gila?”


Karsa menggelengkan kepalanya. Ia bermaksud untuk menjahili Abian, tetapi tiba-tiba suara petir tidak lagi terdengar. Hujan juga belum turun dengan cukup deras, sehingga suasana di sekitar kembali terdengar sepi.


Para zombie yang semula larut dalam penderitaan masing-masing kini kembali menoleh ke arah para penyintas. Karsa, Danita, dan Trisha yang menyadari itu lantas berteriak meminta Abian untuk segera turun.


Evan yang menyaksikan semuanya lantas berdecak kesal. Dengan mudah ia melompat turun dari atap truk dan berlari menuju lokasi Abian bergelantungan. Tanpa perasaan ia menendang setiap tiang penyangga hingga akhirnya Abian jatuh dan terduduk di atas tanah.


“Itu tidak cukup tinggi untuk membuatmu cedera. Ayo, bangun!” titah Evan.


Mereka berdua segera berlari bersama ketiga penyintas lainnya.

__ADS_1


Dengan berat hati mereka melewati gerbang yang seharusnya bisa mengantarkan mereka ke dunia luar. Namun, sebelum itu, Evan tiba-tiba berhenti di stan minuman gratis yang disediakan pihak taman bermain. Stan itu tampak sudah cukup rusak, tetapi kulkas penyimpanan minuman masih berdiri dalam keadaan baik-baik saja. Evan mengambil beberapa botol dan memasukkannya ke dalam tas. Senyum puas tergurat di wajahnya saat ia kembali berlari menyusul teman-temannya.


***


__ADS_2