Monster In Me

Monster In Me
Menuju Pusat Informasi


__ADS_3

“Mudah saja bicara! A-aku sama sekali tidak bisa bergerak!” Abian mengerang hebat merasakan seluruh otot di tubuhnya menegang, “Sedikit saja aku melepaskan salah satu tanganku, aku rasa aku akan langsung terjatuh!”


Evan mendorong bagian dalam pipinya dengan lidah. “Ck. Payah sekali,” ejeknya tanpa perasaan. Dengan malas ia mengulurkan tangan tanpa mencondongkan tubuh sedikit pun. Jelas sekali ia tidak benar-benar berniat menolong Abian.


“Aish! Sudah kubilang aku tidak bisa mengangkat tanganku sedikit pun!” Abian sungguh tidak tahan lagi dengan sikap Evan. Jika memang Evan tidak suka berteman dengannya, kenapa sampai saat ini Evan terus bertahan? Jelas-jelas pemuda itu sering menggerutu karena merasa dirugikan oleh jumlah rombongan mereka yang cukup banyak, tetapi kenapa Evan masih saja menolong semuanya walaupun setengah hati?


Berbagai pertanyaan muncul di benak Abian. Seandainya ia tahu niat Evan yang sesungguhnya ….


Belum sempat Abian kembali memikirkan langkah selanjutnya, ia merasakan salah satu lengannya ditarik. Rupanya entah sejak kapan Evan telah berbaring di sisi keranjang dengan kedua kaki melingkar pada salah satu tiang yang terhubung ke atap. Cukup mengejutkan melihat bagaimana lihai serta kuatnya Evan mengendalikan tubuhnya. Padahal selama ini Abian menganggap bahwa Evan hanya kutu buku gila belajar yang lemah dan suka menyendiri.


Tidak ada gunanya memikirkan itu. Abian kini memusatkan seluruh fokusnya untuk menyelamatkan diri. Dengan berani ia melepas salah satu pegangannya untuk meraih tangan Evan yang sempat memegang lengannya. Ia merapatkan bibirnya kuat-kuat saat tangannya hanya perlu diangkat sedikit lagi untuk meraih tangan Evan.


Namun, saat Abian baru menyentuh ujung jari Evan, Evan menarik tangannya menjauh.


Kedua mata Abian membelalak. Ia tidak berhenti menatap Evan bahkan saat ia terjun bebas ke bawah.


Brak!

__ADS_1


“Aaakh!” Abian mengerang hebat. Semuanya terjadi begitu cepat. Otaknya bahkan belum sepenuhnya menyadari bahwa ia tengah terjatuh, hingga kini ia telah menggeliat di atas aspal. Abian baru sadar apa yang terjadi setelah ia sudah berada di bawah.


Ia kini meringkuk di atas aspal Taman Bermain Cakrabuana. Meringis merasakan sakit di sebagian besar tubuhnya, terutama di bagian bokong. Ia sama sekali tidak bisa mengingat dengan jelas, tetapi sepertinya bokongnya mendarat lebih dulu sebelum ia berguling ke samping dan membuat kepala serta salah satu sisinya membentur aspal dengan keras.


Evan sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun setelah menyaksikan semua itu. Kini ia hanya melambaikan tangannya ke arah Abian sambil mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat darah siapa pun mendidih. “Jaraknya tidak terlalu tinggi, tidak usah berlebihan! Tulang-tulangmu tidak akan patah!” Evan menoleh ke kanan dan kiri sebentar sebelum kembali menunduk melihat Abian. “Kalau dari tadi kamu langsung lompat dengan berani, pasti kamu tidak akan jatuh terlalu keras dan menderita seperti ini. Ini semua salahmu sendiri, ya, bukan aku! Aku justru membantumu agar tidak menderita lebih lama karena bergelantungan.”


“Evan! Kau ….”


“Sebaiknya kamu cepat pergi! Bu Danita dan yang lainnya ada di atap bangunan tempat kita berpisah tadi. Ayo, cepat! Sebelum ada zombie yang datang!”


Tidak ingin membuang tenaganya hanya untuk kembali berdebat dengan Evan, Abian akhirnya memaksakan dirinya untuk bangkit. Ia mengerang keras saat merasakan sakit luar biasa di pergelangan kakinya, tetapi ia terus memaksakan diri dengan mengingat bahwa kini ia tidak sedang berada di tempat yang aman. Lengah sedikit saja nyawanya bisa berakhir.


Dalam hati ia terus merutuki Evan yang membuatnya melakukan semua ini, para zombie yang telah merusak hidupnya yang damai, Taman Bermain Cakrabuana yang baru buka tetapi sudah menimbulkan malapetaka, serta sekolahnya yang mengadakan karya wisata tanpa benar-benar memastikan keselamatan para murid yang ikut serta.


Abian menyalahkan segalanya untuk penderitaannya saat ini. Namun, sedikit pun ia tidak mempertimbangkan untuk meninggalkan hidupnya yang kacau. Ia tetap bertekad untuk pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Sebab tidak peduli seberapa menderitanya ia saat ini, ia tetap bisa menguatkan diri karena memikirkan seluruh keluarganya yang kemungkinan besar tengah menunggu kepulangannya di rumah.


Maka dari itu, tanpa membuang waktu lagi, Abian mulai berjalan cepat hendak menemui Danita, Gunawan, dan Trisha. Evan memang sangat kejam dan menyebalkan, tetapi Abian percaya bahwa rencana sang kutu buku akan berhasil membawa mereka keluar dari neraka ini.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuknya sampai ke tempat ketiga orang itu. Tampaknya, Danita sendiri berencana mengajak Gunawan dan Trisha untuk menghampiri Evan dan Abian. Sang guru muda terus merasa gelisah memikirkan kedua anak muridnya yang memilih berpisah untuk sementara.


“Astaga! Abian! Ada apa denganmu?” tanya Danita panik sambil memegang kedua sisi kepala Abian. Dengan hati-hati ia mengamati tubuh sang murid dari kepala sampai kaki. Ia meringis melihat sebagian besar baju Abian telah kotor serta kulitnya dipenuhi luka lecet.


Abian sendiri cukup kesulitan untuk terus berdiri. Kini tubuhnya membungkuk sementara ia memegangi lututnya sendiri. Namun, tidak peduli berapa kali Danita menanyakan apa yang telah terjadi, Abian terus menggelengkan kepala dan hanya meminta Danita serta yang lainnya untuk bergerak cepat.


“Evan punya rencana,” ucapnya pelan. “Dia bilang dia akan segera kemari setelah mengamati situasi sedikit lagi. Ketika saatnya tiba, kita sudah harus siap dan berlari secepat mungkin menuju Pusat Informasi.”


“Pusat Informasi?” tanya Trisha dengan suara nyaring. “Kalau tidak salah, Bu Danita bilang tempat itu ada di sisi berlawanan dengan gerbang keluar. Bukankah kalau begitu kita malah akan semakin menjauh dari tujuan kita? Sebenarnya, apa yang Evan pikirkan?”


Sang gadis terus bertanya dengan panik. Ia bahkan memeluk lengan Danita, meminta sang guru untuk membatalkan rencana Evan yang penuh risiko. Namun, dengan segera Gunawan membuatnya terdiam saat pria itu mengangkat salah satu tangannya.


“Pasti Evan mengincar Pusat Informasi untuk menyiarkan suara nyaring,” tebak Gunawan. Sesekali ia mengusap dagunya sambil berpikir keras. “Bapak rasa itu ide yang cukup bagus. Selama kita berada di sini, kita tidak pernah melihat terlalu banyak zombie di satu tempat selain saat kita terjebak tadi. Padahal pasti masih banyak mayat hidup yang menyebar di berbagai tempat. Menunggu kesempatan untuk menyerang kita ketika kita lengah.”


“Jadi, maksud Bapak apa?” tanya Danita kebingungan. “Boleh jelaskan dengan lebih sederhana? Agar saya bisa memutuskan apakah kita benar-benar akan mengikuti rencana Evan atau tidak.”


“Maksud saya, dengan memancing seluruh zombie di Taman Bermain untuk berkumpul di satu tempat, kita bisa bergerak dengan lebih leluasa,” jelas Gunawan. Ia berkata dengan perlahan dan sabar. Situasi terdesak sama sekali tidak membuatnya panik, meskipun sesekali ia harus berhenti karena merasa sakit dari lukanya yang masih belum diobati dengan benar. “Ini ide yang bagus. Saya rasa kita harus ikuti saja petunjuk dari Evan.”

__ADS_1


***


__ADS_2