
Taka tertawa puas melihat penderitaan kakak beradik yang sebentar lagi akan terjebak di tengah gerombolan zombie yang meskipun bergerak lambat, tetapi mampu menyudutkan mereka berdua. Taka sendiri telah memanjat bagian kepala patung kura-kura guna menghindari mayat hidup sekaligus menonton penderitaan Zean dan Helsa. Pemuda itu benar-benar telah kehilangan rasa kemanusiaannya, karena kini ia sama sekali tidak tampak simpati, dan justru menikmati seluruh kejadian yang terpampang nyata di hadapannya.
“Jangan malu-malu! Minta tolonglah kepadaku!” teriak Taka lagi. “Aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengamati para zombie. Tidak ada yang lebih mengerti mereka selain aku!”
Tidak terkira betapa kesalnya Zean mendengar itu. Ia menggemeretakkan giginya dengan keras, hampir membuat rahangnya ngilu. Sudah sejak tadi otaknya tidak mampu lagi berpikir jernih. Seandainya tidak ada Helsa, Zean hanya ingin pasrah dan berubah menjadi zombie agar bisa menyerang Taka tanpa terhalang perasaan ragu atau bersalah.
“Kak, bagaimana ini?” Helsa mulai terisak di sampingnya. Rasa lelah membuatnya tidak lagi menjerit dengan keras, bahkan di saat tangannya berulang kali ditarik para zombie. “Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau terus berada di sini. Tolong aku, Kak!”
Pedih hati Zean yang tergores oleh permohonan sang adik. Saat-saat seperti ini yang selalu membuat Zean merasa tidak berdaya. Rasanya percuma ia menghabiskan lebih dari setengah hidupnya untuk membanting tulang mencari uang, jika pada akhirnya uang banyak yang ia miliki tidak mampu menyelamatkan sang adik.
Merasa tidak berguna bukanlah situasi yang asing bagi Zean, tetapi saat ini perasaan itu menyerangnya dengan kekuatan berkali lipat. Hingga tanpa sadar ia telah berteriak memanggil Taka.
“Akan kuberikan!”
Taka tersenyum sini sambil memiringkan kepalanya. Memperlihatkan salah satu telinganya yang tengah terbuka lebar. “Apa? Kamu bilang apa?” Ia bertanya meskipun ia telah mendengar ucapan Zean dengan sangat jelas.
Zean tidak pernah mendengkus sekeras ini.
“Kubilang akan kuberikan apa yang kamu mau!” ulang Zean satu kali lagi. Urat syarafnya mulai terlihat bermunculan di tangan maupun leher. Ia sungguh tidak lagi sanggup menahan dorongan para zombie di sekitarnya lagi. Beberapa mayat hidup itu bahkan sudah mulai menerobos masuk melalui setiap celah tangga yang menjadi alat bertahan miliknya. “Ambil ransel ini dan semua isinya! Tapi bantu kami, sialan!”
Kedua mata Zean membelalak saat ia melihat salah satu zombie berhasil menarik rambut Helsa. Gadis kecil itu menjerit meminta pertolongan, sementara Zean sendiri sama sekali tidak bisa bergerak, atau mereka akan langsung habis ditelan puluhan zombie.
__ADS_1
Harapan hidup mereka seakan telah hilang, tetapi tepat di saat Zean hendak menutup mata dan memasrahkan diri, ia mendengar suara denging yang sangat menyakitkan telinga. Zean pun membuka mata dan melihat peristiwa yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
Para zombie itu menggeliat kesakitan sambil berlari menjauh. Namun, kebanyakan dari mereka berakhir terjatuh dan menggeliat di atas jalanan. Dengan tubuh yang terus meronta serta tangan yang bergerak ke atas entah ingin meraih apa. Zean dan Helsa menyaksikan para mayat hidup memekik dengan rasa ngeri sekaligus heran. Butuh waktu lama hingga mereka menyadari bahwa Taka telah berada di samping mereka. Mengambil ransel perbekalan mereka dengan senyum puas mengembang.
“Lihat? Aku ini sudah seperti pemimpin mereka. Oh, bukan!” Taka menarik pasangan kakak beradik itu ke sisi lain jalan, di mana pepohonan tumbuh dengan rapat. Mereka harus berjalan miring untuk melewati setiap celah yang cukup sempit. “Aku ini Dewa! Para mayat hidup itu tidak akan pernah bisa mengalahkan aku!”
Zean mengerjapkan mata berkali-kali. Baru ia sadari bahwa sedari tadi napasnya terengah-engah serta detak jantungnya yang terasa terlalu kuat hingga menyakiti dadanya. Namun, ia mengabaikan semua itu dan berlutut di depan Helsa. “Apa kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?”
Helsa menggelengkan kepala. Dengan cepat ia memeluk kakaknya erat. “Aku baik-baik saja, Kak. Tapi aku sungguh tidak menyukai orang ini. Bisakah kita segera menjauh darinya?” bisik sang gadis kecil.
Diam-diam Zean melirik Taka yang masih sibuk membanggakan dirinya sendiri. Sesungguhnya Zean juga merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan sang pemuda. Seandainya ia mempunyai pilihan lain, ia tidak akan pernah bertukar kata lagi dengan Taka.
“Kamu bebas mengatakan apa pun, aku tidak peduli.” Zean akhirnya berdiri dan menanggapi ucapan Taka yang mulai melantur. “Kamu sudah menyelamatkan aku dan adikku. Aku akan relakan ransel kami sebagai gantinya. Jadi, kita sudah impas, kan?”
“Yap. Sudah impas,” jawab Taka sambil memeriksa ransel yang baru ia dapatkan. Wajahnya tampak sumringah mendapati banyaknya makanan dan minuman di dalam sana. “Biarkan aku bertanya satu hal.”
“Apa itu?” Zean refleks merangkul Helsa. Kewaspadaannya kembali meningkat saat melihat seringai menyeramkan Taka telah kembali.
“Apa kalian tidak mempunyai barang berharga lain? Ponsel misalnya?” Taka menunjuk ke arah saku Zean sambil melangkah mendekat.
Zean benar-benar merasa curiga, hingga mengambil langkah mundur. Meskipun ia tahu bahwa ia kini semakin mendekati zombie yang kini telah kembali mengincar mereka. Pergerakan para zombie itu hanya sedikit tertahan oleh celah yang sempit. Namun, cepat atau lambat mereka akan segera sampai ke tempat Zean, Helsa, dan Taka.
__ADS_1
“Tidak ada. Ponselku dan adikku rusak karena terjatuh dan tertimpa benda berat.”
“Oh, oke.”
Setelah mengucapkan dua kata itu, Taka berbalik dan berjalan menjauh. Tidak lupa dengan bersenandung serta lompatan kecil mengiringi langkah bahagianya. Zean dan Helsa saling bertukar pandang mendapati pemuda itu pergi begitu saja.
Meskipun begitu, Zean tidak punya waktu untuk terus memikirkan kecurigaannya kepada Taka. Ia harus segera membawa dirinya dan sang adik terbebas dari kepungan zombie yang kembali mengincar mereka.
“Rupanya suara peluit itu hanya memberikan efek sementara. Apa seharusnya peluit itu terus dibunyikan?” gumam Zean yang cukup dapat didengar oleh Helsa. Hanya saja, Helsa juga tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi pemikiran kakaknya itu.
Belum sempat Zean melangkah ke mana pun saat tiba-tiba Taka kembali memanggilnya dari kejauhan.
“Oh, by the way, suara nyaring memang membuat para zombie tersiksa untuk beberapa saat, tetapi suaranya juga memancing zombie lainnya yang berada di tempat yang lebih jauh,” ucap Taka sambil terkekeh. “Good luck! Sepertinya kalian masih harus berjuang untuk sementara waktu.”
Zean mengepalkan kedua tangannya dengan kesal setelah menyadari bahwa ia telah ditipu. Meskipun secara teknis, Taka memang sempat menyelamatkannya, tetapi semua ini tidak sepadan dengan harga yang harus ia bayar. Zean telah menyerahkan semua perbekalan dan obat-obatan adiknya hanya untuk kembali terjebak di situasi yang serupa.
Dengan cepat ia menemukan jalur terbaik yang bisa ia dan adiknya ambil. Namun, kedua matanya menangkap sesuatu yang terlihat lebih menarik.
Mayat hidup dengan tubuh bagian bawah yang menghilang tampak tengah mengendap ke arah Taka tanpa pemuda itu ketahui.
***
__ADS_1