
Adira hampir tersenyum sinis melihat Irwan menarik napas dalam. Ia tahu betul bahwa sesungguhnya kakaknya telah mengorbankan semuanya agar Irwan mau menahan diri di depannya. Agar Irwan tidak pernah satu kali pun mengayunkan tangan kepada anak perempuan satu-satunya hingga mungkin sang ayah berpikir bahwa Adira tidak memiliki dendam apa pun kepadanya.
“Oh, Adira. Sedang apa kamu di sini? Diamlah di kamarmu, di sini berbahaya!” perintah Irwan. Pria itu tampak sedikit kelabakan dan terus melirik sang istri yang berdiri tidak jauh darinya. Dewi hanya terdiam dengan ekspresi khawatir.
Adira mengangkat dagunya hingga membuatnya terlihat sedikit angkuh. “Aku pikir Ayah dan Kakak sedang membicarakan suatu hal yang penting. Aku juga ingin mendengarnya karena sepertinya masih berhubungan dengan masalahku di sekolah tadi.” Gadis itu sedikit mengerucutkan bibirnya dengan kesal. “Sepertinya orang tua gadis itu sangat ingin aku berlutut dan meminta maaf.”
Bisa Adira lihat dengan jelas bagaimana wajah sang ayah berubah menjadi lebih gelap setelah ia menyinggung persoalan yang belum ia ketahui penyelesaiannya. Adnan juga tampak ingin segera berlari dan membimbing Adira kembali ke kamar, tetapi tertahan oleh banyak beling di dekatnya. Menderita luka tusuk maupun gores bukanlah hal yang sangat menakutkan bagi sang pemuda, hanya saja ia tidak ingin Adira melihatnya terluka. Sehingga ia kini hanya bisa memberi tanda dengan gerakan matanya.
Adira hanya tersenyum dan kembali fokus menatap ayahnya.
Irwan memijat pelipisnya sendiri sebelum mendesah. “Tidak ada satu pun anggota keluarga Bernadette yang boleh menunduk atau bahkan berlutut di hadapan orang lain, terutama di hadapan orang yang berasal dari keluarga berstatus lebih rendah dari keluarga kita!” Suara Irwan terdengar berat, jelas, dan tegas. Pria itu sama sekali tidak menyediakan celah untuk Adira mengemukakan protes.
Adira belum sempat memberikan tanggapan apa pun saat sang ayah menghampiri dan memegang erat kedua pundaknya. “Ayah tidak akan pernah bosan mengatakan bahwa kita berasal dari keluarga terpandang. Jangan buang-buang tenagamu hanya untuk sesuatu yang tidak penting seperti meminta maaf atau menunjukkan sikap terpuji. Tidak ada yang salah dari tindakanmu kepada teman sekelasmu. Mereka harus tahu siapa yang memimpin.”
“Tidak! Jangan dengarkan Ayah!” teriak Adnan, masih sambil berdiri di tempatnya.
“Diam!” Irwan memelototkan mata kepada sang anak sulung. Salah satu tangannya kini bergerak untuk meraih kembali tongkat golf yang sempat terabaikan di atas lantai.
__ADS_1
Namun, Adnan mampu melakukan apa pun demi kebaikan sang adik. “Berhenti menanamkan paham yang salah kepada Adira!” titahnya sambil berjalan menghampiri Irwan. Sama sekali tidak memedulikan kakinya yang menggilas banyak pecahan kaca.
Ayah dan anak itu lantas mulai cekcok. Perlahan mengabaikan kehadiran Adira yang masih berdiri di sana. Gadis itu menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan sang ibu yang tampaknya sengaja menghindari situasi yang tidak menyenangkan ini dengan pergi ke dapur. Suara pisau besar yang beradu dengan talenan merupakan satu-satunya suara yang mampu terdengar selain suara pertengkaran Irwan dan Adnan.
Dalam diam Adira memutuskan untuk kembali ke kamar. Tidak ada tempat untuknya bergabung dalam semua keributan ini. Sekilas, siapa pun yang melihat ketenangan dirinya akan berpikir bahwa sang gadis sama sekali tidak terpengaruh dengan situasi buruk keluarganya.
Tidak ada yang menyadari, jauh di dalam hati, selama ini Adira tengah memupuk kebencian terdalam yang baru akan ia rasakan efeknya berbulan-bulan kemudian.
***
Adira terbangun dalam posisi terikat kuat ke salah satu tiang wahana. Entah wahana apa, ia tidak bisa memastikannya. Kedua matanya sibuk mengerjap sebelum melihat teman-temannya yang tersisa serta Danita menatapnya dengan ngeri. Zean berdiri sedikit lebih dekat dengannya, membawa sesuatu yang terlihat seperti sebuah boneka beruang.
Di mana Aron? Adira tidak terlalu peduli. Satu-satunya hal yang sangat ingin ia lakukan saat ini adalah mengamuk. Namun, tali yang mengikat kaki dan tangannya dengan kuat sama sekali tidak membiarkannya bergerak leluasa.
Kedua mata gadis itu melihat Zean yang tanpa sengaja menginjak semut hitam besar, Adira lantas tersenyum.
Semua manusia sama saja.
__ADS_1
“Menjauh dariku selagi kalian bisa,” ucap Adira dengan suara serak yang terdengar cukup mengerikan. Dia sudah terlalu banyak menangis, menggeram, hingga meraung. Pita suaranya sudah bekerja sangat keras hari ini. “Aku sudah bukan lagi Adira yang kalian kenal. Aku hanya monster yang akan menghancurkan apa pun yang bergerak di depan mataku.”
Evan yang sebelumnya sibuk menimpa tubuh Abian dengan berbagai barang yang ia temukan, mulai menatap Adira lekat-lekat. Kedua matanya melebar bersamaan dengan jari telunjuknya yang mengarah ke sang gadis.
“Di … di balik tangannya yang berlumuran darah. Aku melihat banyak bekas gigitan! Dia telah menjadi zombie!” Evan sontak melangkah mundur dengan waspada. “Tapi kenapa dia masih berjalan dan berbicara seperti biasa?”
Danita dan Trisha hanya bisa terdiam sambil memulihkan diri dari luka fisik maupun batin. Hanya Firda yang kini mencoba memberanikan diri untuk buka suara. “Sama seperti Abian tadi. Dia benar-benar tidak terlihat seperti zombie.”
Adira menghentakkan tangannya sekuat tenaga. Tanpa sedikit pun meringis, ia membuat pergelangan tangannya sedikit teriris oleh tali yang mengikatnya. “Hancurkan! Bunuh semuanya! Kalian semua tidak bergunaaa!” Gadis itu berteriak dengan mulut terbuka lebar. “Bagaimana bisa kalian selamat dan masih hidup sampai sekarang? Sementara … sementara kakakku harus meregang nyawa begitu saja! Ini semua tidak adil!”
Raut wajah kebingungan lantas menghiasi wajah setiap orang, tentu saja kecuali Zean dan Firda. Mereka berdua tahu betul apa yang Adira maksud karena telah menyaksikan dengan kedua mata mereka sendiri.
Zean memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Seandainya ia tidak mengingat bagaimana adiknya menderita karena kekacauan zombie ini, mungkin Zean tidak akan mau membantu siapa pun. Namun, ia tahu bahwa Helsa mengharapkan dirinya untuk tidak hanya menyelamatkan diri sendiri. “Sepertinya sudah cukup aku menyaksikan semua ini! Aku harus membeberkan semua hal yang kutahu, dan kalian harus mendengarkanku sampai akhir!” Akhirnya ia berteriak.
Pemuda itu melihat ke sekeliling sebelum menunjuk Danita. “Terutama Anda. Anda terlihat seperti orang dewasa yang bertanggung jawab di sini. Jadi, saya harap Anda memahami apa yang akan saya katakan,” lanjut Zean. Mendadak ia menggunakan bahasa formal demi menunjukkan rasa hormatnya kepada Danita yang tampak lebih tua beberapa tahun darinya.
Setelah memastikan semua orang—kecuali Adira yang masih saja menggeram dan mengamuk—sudah terdiam dan siap mendengarkan, Zean mulai bercerita. Sesekali ia melihat ke tubuh Taka yang masih saja belum bergerak. Entah kenapa, ia merasa bahwa pemuda itu memahami semuanya, sama sepertinya.
__ADS_1
***