
“Gimana ini, Ayah? A-Adira … Adira, putriku yang malang,” lirih Dewi di sela-sela tangisannya. Ibu dua anak itu kini tengah terduduk lemas di lantai ruang keluarga. Kepalanya terus menunduk karena kedua matanya tidak lagi sanggup melihat berbagai kengerian yang ditayangkan di televisi. Ia juga terus menggenggam tangan suaminya, berusaha mendapatkan kekuatan dari sana. “Dia pasti sedang ketakutan. Tapi … aku sebagai ibunya tidak bisa melakukan apa pun. Aku sungguh ibu yang payah!”
“Tenang dulu, Bu. Ayah yakin pihak berwajib pasti sudah bertindak. Anak kita pasti akan baik-baik saja. Adira itu gadis yang pintar. Ia pasti bisa menjaga diri,” hibur Irwan. Tidak ada satu tetes pun air mata di wajahnya yang memancarkan banyak kekuatan dan keberanian. Sebagai kepala keluarga, ia selalu memastikan bahwa ia tampak bisa diandalkan oleh istri dan anak-anaknya. Terutama di situasi seperti ini, dengan seluruh kemampuannya ia berusaha mengontrol ekspresinya agar tidak menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Meskipun sesungguhnya, ia juga sangat ingin menangis tersedu-sedu seperti istrinya. Irwan juga tidak tahan ingin mengamuk dan melemparkan seluruh barang di dekatnya ke sembarang arah. Ia ingin mengamuk dan menumpahkan segala emosi dan rasa frustrasi yang kini membuatnya begitu tidak berdaya dan rendah diri.
Namun, Irwan tidak bisa melakukan semua itu begitu saja. Sehingga ia hanya bisa mengucapkan kata-kata penenang yang sebenarnya juga ditujukan untuk dirinya sendiri. “Jangan salahkan dirimu. Semua ini terjal di luar kendali kita. Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu sambil terus memantau situasi lewat berita.”
Perlahan, Irwan menarik Dewi ke dalam pelukannya. Bukan hanya karena ia ingin menenangkan sang istri, tetapi juga karena ia sendiri membutuhkannya. Di saat seperti ini, mereka memang harus saling menguatkan. Apalagi setelah Irwan menyadari ada gejolak lain yang kini bergemuruh di dalam dadanya.
Layar televisi sudah tidak lagi memberitakan tentang Taman Bermain yang Adira dan kawan-kawan kunjungi. Menampilkan berbagai iklan produk lokal sebagai selingan. Berlatarkan musik yang ceria, sangat berbanding terbalik dengan latar suara saat menampilkan berita tragedi tadi.
Irwan menutup matanya dan membuka telinganya lebar-lebar. Berharap dengan begitu suasana hatinya juga bisa berubah seperti suara musik yang ia dengar. Sayang, luapan kekhawatiran dari dalam dirinya mencegahnya untuk bisa menyerap keadaan di sekitar dengan baik.
Hingga tiba-tiba Dewi berontak di pelukannya. Sang istri yang biasanya selalu terlihat cantik meskipun sudah memasuki usia 40 tahun itu kini tampak cukup berantakan. Jejak-jejak air mata menghiasi wajahnya yang memerah, sementara rambutnya mencuat ke sana kemari akibat terus ia jambak tanpa sadar. Irwan merasakan dadanya sesak melihat betapa hancur istri tercintanya.
__ADS_1
“Kita tidak boleh hanya diam dan menunggu, Yah,” ucap Dewi kemudian. Kata-kata yang keluar dari bibirnya kini terdengar jauh lebih jelas. Tidak ada lagi isakan tangis yang menyela setiap ucapannya. Dewi tampak telah membulatkan tekad. Kedua matanya tidak berkedip saat ia menatap Irwan. “Orang tua macam apa yang terus berlindung di balik kenyamanan rumah sementara anak bungsunya sedang memperjuangkan hidupnya sendiri di luar sana? Kita harus pergi menyelamatkan Adira, Yah! Kita harus ke Taman Bermain terkutuk itu sekarang juga!”
Kerutan dalam terbentuk di kening Irwan. Tatapannya sendu saat ia menangkup wajah sang istri secara perlahan. “Aku paham maksudmu, Bu. Tapi kita hanya akan menghambat pekerjaan pihak berwajib dengan datang ke lokasi.”
“Aku tidak peduli!” Mendadak Dewi berteriak hingga membuat Irwan tersentak. “Mereka harus tahu betapa berharganya anak-anak yang terjebak di sana bagi orang tuanya. Mereka harus tahu bahwa mereka harus bertindak cepat sebelum para orang tua menggila. Mereka harus tahu bahwa seharusnya sejak awal mereka bisa mencegah semua ini!”
Dewi berhenti sejenak guna mengendalikan napasnya yang mulai memburu. Tenggorokannya juga terasa sangat kering oleh semua tangisan, jeritan, dan teriakan yang ia keluarkan. Pening mulai menyerang kepalanya, tetapi ia berusaha keras untuk tetap terjaga dengan kesadaran penuh. Ia tidak boleh bersikap lemah. Sebagai seorang ibu, ia bisa mengetahui bahwa Adira juga kini tengah berjuang agar mereka semua bisa kembali berkumpul sebagai sebuah keluarga yang utuh.
Selain karena rasa sayangnya kepada Adira yang berlimpah, ada satu hal lain yang membuat Dewi sangat takut kehilangan gadis itu.
Yaitu ingatan tentang bagaimana ia dan suaminya memperlakukan anak itu sehari-hari.
Wajah Irwan lantas memucat mendengar semua itu. Ia tahu ke mana pembicaraan ini akan mengarah, tetapi ia sendiri tidak melakukan apa pun untuk menghentikan sang istri.
“Aku selalu menyadari bahwa Adnan dan Adira tertekan oleh caramu mendidik mereka. Dan aku tetap diam saja karena berpikir semua itu demi masa depan mereka.” Dewi tersedak. Luapan emosi kembali menyerang pernapasan dan kedua bola matanya. Isak tangis dengan segera terdengar lagi darinya. “Seharusnya aku tahu, bahwa mereka tidak akan selalu ada di sisi kita selamanya. Seharusnya aku menggunakan semua waktu itu untuk membahagiakan mereka, bukannya untuk memuaskan egomu!”
__ADS_1
Pukulan Dewi semakin kencang, menimbulkan bunyi keras serta nyeri di dada Irwan. Pria itu terpaksa harus menahan pergelangan tangan istrinya. Bukan hanya agar ia berhenti dipukuli, tetapi juga agar Dewi berhenti menyakiti tangannya sendiri.
“Kita harus segera menyelamatkan Adira, Yah! Harus! Ayo, pergi sekarang!” Dewi mulai menjerit. Ia memberontak, berusaha melepaskan genggaman Irwan dari tangannya. Kali ini perempuan itu juga menggunakan kakinya untuk menjauhkan suaminya dari dirinya. Akal sehatnya mulai terkubur oleh rasa panik, sehingga Dewi tidak lagi menyadari bahwa ia tengah bersikap kurang ajar kepada suaminya sendiri. “Anakku membutuhkan aku! Bawa aku ke sana! Sekarang juga!”
“Aku mengerti. Tenang dulu, ya,” jawab Irwan. Ia sungguh kepayahan menahan pergerakan istrinya. “Kalau kamu terus seperti ini, kita tidak bisa ke mana-mana. Menyelamatkan Adira memang harus menjadi prioritas, tetapi aku juga tidak mau kamu terluka karena terlalu mencemaskan anak kita.”
“Tapi, aku—“
“Kita berangkat sekarang,” sela Irwan cepat. Mencegah sang istri untuk protes dan kembali mengamuk. Meskipun Irwan sendiri tidak yakin akan keputusannya saat ini. “Aku janji, kita akan segera pergi ke sana. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk berbicara dengan Adnan. Kamu sendiri tahu betapa sayangnya Adnan kepada Adira, kan? Dia juga pasti sangat terpukul oleh kejadian ini.”
Kedua mata Dewi membulat. Perlahan tubuhnya yang semula tegang kini terlihat melemas. Sepertinya ia baru menyadari keberadaan anak sulungnya yang masih mengurung diri di kamar. Dewi lagi-lagi merasa menjadi ibu yang buruk karena telah mengabaikan Adnan hanya karena ia terlalu larut dalam kesedihan.
“Benar, Adnan … te-temui Adnan. Kakiku rasanya terlalu lemas untuk berdiri,” jawab Dewi akhirnya. Ia mencoba untuk bangkit, tetapi kembali jatuh terduduk karena seluruh energinya telah terkuras saat mengamuk tadi.
Irwan mengangguk mengerti. “Kamu istirahat dulu saja di sini.” Dengan segera ia mengambilkan bantal sofa dan membantu Dewi berbaring, sebelum pergi ke lantai dua untuk menemui Adnan.
__ADS_1
Namun, tatapan matanya tampak terlalu tajam untuk seorang ayah yang ingin memastikan keadaan putranya.
***