
“Tidak jauh dari tempat ini, aku menemukan beberapa bungkus berisi serbuk putih mencurigakan. Dan berkat pengalamanku yang tidak ingin aku ceritakan kepada kalian, aku bisa mengetahui apa itu.”
“Kalau sudah selesai, lepaskan aku!” teriak Adira tiba-tiba. Ia kini sibuk menarik kakinya sendiri seolah tidak peduli jika ia terlepas hanya dengan satu kaki yang utuh.
Zean menatap tajam sang gadis. Jika saja ia tidak ingat betapa baik sikap Adnan kepadanya, mungkin saat ini ia akan pergi dan membiarkan Adira terus mengamuk seperti kesetanan. “Aku belum selesai. Zat yang kutemukan ini adalah zat Alpha Cerebrum yang bungkusnya sudah banyak terbakar. Kemungkinan besar, zat itu telah tersebar ke seluruh penjuru Taman Bermain ini.”
“Jangan bertele-tele! Kita harus segera mencari kunci gerbang yang hilang!” protes Evan kemudian. Pemuda itu kini tidak lagi mendengarkan dengan saksama dan justru berkeliling dengan kepala menunduk. Kedua matanya memindai setiap jengkal aspal yang ia lewati. “Jika tidak ingin membantu, pergilah ke tempat lain!”
Gigi-gigi Zean bergemeretak sebelum akhirnya ia mengucapkan inti dari penuturannya. “Apa yang terjadi di tempat ini bukan disebabkan oleh virus, melainkan keracunan obat. Sebuah gigitan tidak akan membuatmu menjadi zombie begitu saja.”
“Apa?”
“Jadi, berhentilah mengalah kepada amarahmu!” titah Zean kepada Adira. “Semua itu hanya ada di dalam kepalamu!”
Adira mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Kamu hanya mengatakan itu karena kamu takut mati di tanganku!”
“Sama sekali tidak,” jawab Zean penuh percaya diri. Ia merentangkan lengannya tepat di depan wajah Adira. “Kalau tidak percaya, coba gigit aku! Itu pun jika kamu ada keinginan untuk mengoyak tubuhku.”
Semua orang yang menyaksikan interaksi Adira dan Zean kompak menegang. Masing-masing menahan napas, bersiap untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan Evan berhenti bergerak sejenak saking ingin tahu.
Keberanian Zean mampu membuat Adira tertegun. Sekuat tenaga gadis itu berusaha menahan emosinya yang bergejolak demi menjernihkan pikiran. Ada sesuatu dari ucapan Zean yang membuat Adira merasa bahwa ia harus memahaminya. Ada sesuatu dari ekspresi Zean yang membuat Adira begitu tertarik.
Apalagi setelah Zean melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Adnan, kakak kandungmu, sudah tahu tentang Alpha Cerebrum ini, efeknya, dan bagaimana bisa obat sekecil ini menyebabkan banyak orang berubah. Dia tahu semuanya. Aku yakin, jika saja kalian sempat berbicara satu sama lain, dia akan memberitahumu bahwa semua yang terjadi saat ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan.” Zean menghela napas berat dengan tatapan sendu. “Saat pertama kali Adnan memahami semua yang kukatakan, ia terlihat sangat gembira dan tidak sabar untuk segera membawamu pergi dari sini. Karena ternyata, keadaan di luar sana masih baik-baik saja. Virus yang tidak menular membuat kekacauan tidak tersebar.”
“D-di luar baik-baik saja?” Danita bertanya dengan sedikit terbata-bata. Tubuhnya mendadak lemas, tetapi harapan terpancar di kedua matanya. Sementara Trisha dan Firda mulai menangis sambil memeluk satu sama lain.
Di sisi lain, Adira merasa tersetrum oleh kata-kata Zean, terutama saat kalimat ‘tidak menular’ diucapkan. Ia meringis merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Kedua matanya yang terpejam erat tidak mampu menghentikan pikirannya yang mulai dipenuhi oleh berbagai pertanyaan miliknya sendiri.
‘Tidak mungkin semua ini tidak menular! Aku telah melihat begitu banyak zombie berkeliaran! Kalau bukan dari gigitan, lalu dari mana?’
Adira mendadak berteriak kencang, mengejutkan semua orang. Namun, gadis itu hanya menggigit bibir bawahnya sendiri sambil terus meringis kesakitan.
‘Orang asing ini bilang kakakku sudah tahu semuanya dan akan memberitahukannya kepadaku? Apa itu benar?’
Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya.
Mendadak sebuah ingatan mendesak masuk, menyingkirkan berbagai pikiran yang masih berkecamuk. Adira membuka kedua matanya lebar-lebar, terkejut oleh ingatan yang kini tergambar jelas di benaknya.
Sejak penyerangan zombie dimulai, Adira memang melihat banyak orang mati dipukul atau celaka karena panik lalu tertimpa wahana yang rusak.
Namun, tidak satu kali pun ia melihat secara langsung, bahwa ada seseorang yang berubah menjadi zombie setelah tergigit zombie.
Tidak satu kali pun.
Tidak ada.
__ADS_1
Kedua bibir Adira bergetar. Ia membenturkan kepalanya sendiri ke belakang. Berusaha mendesak otaknya untuk kembali berpikir dengan lebih jernih. “Tidak! Tidak mungkin!” protesnya.
Zean menatap sang gadis dengan penuh iba, sementara Danita dan para muridnya hanya bisa mematung di tempat. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Dengan seluruh kemampuannya, Adira berusaha melihat ke pergelangan tangannya yang dipenuhi oleh luka gigitan zombie. Luka itu tampak mulai mengering, dikelilingi oleh noda merah tua yang menghitam. Selain itu, tidak ada lagi tanda-tanda yang menunjukkan tingkah keparahan luka itu. Sang gadis berusaha menajamkan penglihatannya, berharap untuk melihat satu saja gurat nadi menegang yang mungkin menandakan akan adanya virus atau penyakit apa pun yang mengalir di darahnya akibat dari luka gigitan itu.
Sekali lagi, ia tidak menemukan apa pun.
“Ada … ada begitu banyak zombie. Aku bersumpah aku melihat mereka ada ratusan!” teriak Adira lagi. Tidak jelas ia tengah berbicara kepada siapa, karena kedua bola matanya masih saja bergerak tidak tentu arah, tetapi Zean tampak siap mendengarkan pertanyaannya dengan saksama. “Kalau bukan karena tertular, lalu kenapa? Tidak mungkin mereka semua mengonsumsi obat yang sama!”
Setelah berhasil mengatakan semuanya, akhirnya Adira menoleh ke arah Zean. Menuntut jawaban yang mampu memuaskan kebingungannya.
Zean memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap Adira dan rombongan Danita secara bergantian. “Sebelumnya sudah kubilang bahwa obat ini pasti telah tersebar ke seluruh penjuru Taman Bermain Cakrabuana. Aku tidak tahu pasti bagaimana mulanya, tapi sepertinya asap kebakaran yang terjadi di taman bunga turut andil dalam penyebarannya,” jelas sang pemuda. “Untuk kemungkinan yang lain, ini hanya pendapatku. Tapi kurasa, sejak awal ada yang aneh dari tempat ini. Sepertinya ada tujuan lain yang tersembunyi dari beroperasinya Taman Bermain ini.”
“Hah ….” Adira menghembuskan napas panjang dan mulai tertawa. Mulanya hanya perlahan, tetapi lama kelamaan suaranya semakin keras hingga membuat seluruh bulu kuduk orang yang mendengarnya merinding.
Perlahan, gadis itu tersadar bahwa hidupnya selama ini memang tidak seindah yang ia ingat. Setiap hari, ia bukannya disambut oleh hari yang tenang dan tanpa masalah seperti yang selama ini ia percayai. Adira hanya terlalu tidak peduli kepada situasi di sekitarnya.
Ralat. Bukan tidak peduli, tetapi ‘mencoba’ untuk bersikap tidak peduli.
Kedua mata Adira perlahan melirik ke arah Firda. Teman maupun sahabat pertama yang pernah ia miliki seumur hidup.
***
__ADS_1