Monster In Me

Monster In Me
Brutal


__ADS_3

“Serius, cuma ada barang-barang gak berguna ini?” tanya Adira kesal. Tanpa henti ia terus menyingkirkan banyak baju yang masih menggantung di pajangan. Berharap bahwa akan ada sesuatu yang jauh lebih berguna di baliknya. Tentu saja tidak ada. Adira hanya mencari cara untuk menyalurkan rasa kesalnya dengan membuat semuanya menjadi lebih berantakan lagi.


“Sepertinya tempat ini memang khusus menjual pakaian dan aksesoris saja,” jawab Firda santai. “Daripada marah-marah lebih baik kita ganti baju saja. Seragam kita sudah tidak karuan penampakan dan baunya.”


Wajah Adira tampak masih merengut, tetapi ia mengikuti saran Firda dan mulai memilih baju-baju yang masih layak. Tangannya dengan cekatan memisahkan setiap pakaian di dekatnya menjadi dua bagian. Yang masih layak ia lemparkan ke kanan, sementara yang tidak ia buang ke kiri. Seperti halnya saat ia memilih baju untuk dibawa selama karya wisata, kali ini pun Adira sedikit kesulitan menentukan pilihan.


“Aku jadi teringat koperku yang kusimpan di bagasi bus.” Adira menghembuskan napas berat. “Apa ada kemungkinan kita bisa mengambilnya?”


“Tidak ada.” Dengan tidak acuh Firda menjawab. “Anggap saja tidak ada kesempatan. Maka dengan begitu, kamu bisa lebih mudah merelakannya.”


Jawaban sahabatnya itu sama sekali tidak membuat Adira lebih tenang, tetapi ia memilih untuk tetap diam dan mencoba menikmati kegiatan ‘berbelanja baju’ yang sedang ia lakukan. Melupakan fakta bahwa yang mereka lakukan saat ini termasuk penjarahan.


Sebab apa boleh buat? Lagipula, sepertinya setelah semua kejadian ini berakhir, kemungkinan besar pemilik toko tidak akan mau mengambil kembali semua barang jualannya yang hanya akan membuatnya mengingat tragedi yang pernah terjadi.


Kesal karena tidak kunjung menemukan yang sesuai dengan keinginannya, Adira akhirnya berjongkok di depan tumpukan baju yang berada di sebelah kanan, dan mengambil atasan dan bawahan masing-masing satu buah, secara acak.


Yang ia dapatkan adalah sebuah kaus lengan panjang berwarna hitam dengan gambar maskot Taman Bermain Cakrabuana berada di tengah. Maskot itu terlihat sangat cerah, kontras dengan warna pakaian itu secara keseluruhan. Penampakannya sama sekali tidak memenuhi selera Adira, tetapi ia tidak punya pilihan lain.


Setidaknya, ia memilih celana jin biru tua yang cukup terlihat keren.


“Apa menurutmu kita bisa menemukan makanan di dekat sini?” Adira bertanya sambil melepas seragamnya dan mengenakan baju barunya. Posisinya yang membelakangi Firda membuatnya tidak tahu apa Firda sedang mendengarkannya atau tidak.

__ADS_1


“Wah, kamu ganti baju di sini? Begitu saja?” Firda justru balas bertanya. Ternyata gadis itu berada tepat di belakang Adira saat ini. Berkacak pinggang dengan setumpuk baju melingkar di lengannya. “Soal makanan, kita masih bisa mengisi sedikit energi dengan camilan di tasku. Tenang saja, aku yakin saat kita bergerak besok, kita akan menemukan makanan dan minuman yang banyak.”


“Besok?” Adira yang telah selesai memakai pakaian baru berbalik dan menatap Firda dengan salah satu alis terangkat. “Kupikir kita akan terus berusaha untuk keluar dari sini hari ini?”


“Kita berdua tahu kalau itu tidak mungkin.” Hembusan napas berat kembali Firda lolos dari bibirnya. “Seburuk apa pun situasinya, kita tidak boleh memaksakan diri.”


“Kamu benar.” Adira menganggukkan kepala setuju. Ia lantas mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan yang memiliki luas menyerupai supermarket yang biasa ia kunjungi bersama keluarganya sebulan sekali. Hanya saja, tempat ini hanya memiliki satu lantai dan hanya berisi pakaian dan aksesoris. “Mau berkeliling? Sepertinya tempat ini cukup aman.”


Firda tersenyum sinis saat melihat apa yang Adira lakukan. “Kamu bilang aman, tapi kenapa kamu mengambil tongkat itu?”


Adira yang tengah mengambil bagian dari rak pajangan baju yang hancur lantas mengendikkan bahu. “Meskipun kita sudah mengalahkan semua zombie yang ada di ruangan ini, bukan tidak mungkin jika ada yang masih bersembunyi, kan?”


“Benar juga.” Tanpa sadar Firda menutup mulutnya yang menganga saat ia mengingat kembali sosok makhluk mengerikan yang ia temui beberapa waktu lalu. “Tadi saja aku hampir kena serangan jantung karena bertemu dengan zombie yang bertingkah seperti hantu suster ngesot. Mungkin kali ini kita akan menemukan zombie tanpa kepala?”


Hingga ia melihat noda kemerahan di atas lantai putih toko itu. “Fir …”


“Ya, aku melihatnya. Itu terlihat sudah mengering, jadi bukan berasal dari zombie yang baru saja kita kalahkan dan kita seret ke gudang belakang.”


Perlahan-lahan mereka berdua berjalan mengikuti jejak kemerahan itu, yang membawa mereka ke sisi lain ruangan. Tidak butuh waktu lama hingga mereka mendapati jejak itu berakhir di dekat sebuah meja yang terlihat familier.


“Apa kamu mau membayar baju yang kamu pakai sehingga kamu mendatangi kasir?” gurau Firda yang tidak dihiraukan Adira.

__ADS_1


Semakin mendekat, mereka semakin mendengar suara geraman khas para zombie yang sudah sangat mereka hafal. Adira dan Firda lantas mengangkat senjata masing-masing. Adira dengan tongkatnya, sementara Firda pisau yang belum lama ini ia pungut di jalan. Ia juga mengambil pajangan berbentuk permen loli. Diameter lingkarannya yang cukup besar membuatnya tampak seperti tameng bertangkai yang dapat memperkuat pertahanan.


Kedua gadis itu tampak merapatkan bibir, bersiap untuk menghadapi situasi terburuk untuk yang ke sekian kali.


Adira yang maju lebih dulu mulai mengayunkan tongkatnya, tetapi tiba-tiba ia berhenti. Menatap ke bawah tanpa berkedip.


Firda tidak bisa melihat apa yang gadis itu lihat, sehingga ia kini hanya berdiri dengan raut wajah penasaran. “Apa? Ada apa?”


“Lihat saja sendiri.”


Mendengar itu, Firda lantas buru-buru mendekat. Ia kini berdiri di samping Adira yang masih bersiap dengan tongkatnya. Betapa lebar Firda membuka matanya saat ia melihat makhluk yang tengah menggeliat di atas lantai.


Seorang wanita. Dengan seragam di tubuhnya. “Sepertinya dia karyawan di tempat ini. Seorang kasir … mungkin?” Tanpa ragu Firda menyimpan pajangan lolinya dan memasukkan pisau ke kantong depan tasnya. Ia kemudian berjongkok untuk mengamati zombie itu dengan lebih jelas.


Takut? Tentu saja Firda takut. Namun, ia merasa aman karena zombie itu tidak lagi memiliki tangan dan kaki yang utuh untuknya bangun dari posisinya yang berbaring. Bahkan luka di bagian lehernya terlihat cukup besar dan terbuka, membuat kepalanya terkulai dengan lemas.


Kini, setelah Firda melihat penampakannya, geraman zombie itu menjadi terdengar lebih memilukan dibandingkan menakutkan. Matanya bahkan hampir berkaca-kaca karenanya.


Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Adira melayangkan pukulan kepada zombie itu. Suara tongkat kayu yang menghantam kepala zombie itu dengan keras membuat Firda tersentak. Paku yang masih menancap di bagian ujung tongkat sempat memuat tongkat itu menyangkut di tengkorak sang zombie.


Tenaga Adira tidak cukup membuatnya mampu menghancurkan kepala mayat hidup dalam satu pukulan. Maka ia biasanya mendaratkan pukulan lebih dari sekali.

__ADS_1


Namun, kali ini ia tidak bisa melakukannya, karena Firda menahan tangannya. “Hentikan, Dir!”


***


__ADS_2