Monster In Me

Monster In Me
Dendam


__ADS_3

“Argh! Kenapa dasi sialan ini belum sobek juga? Sial!” umpat Taka sambil terus berusaha menggigit dasi yang mengikat tangannya. Ia bahkan menggunakan bantuan kakinya, berharap bisa sedikit saja melonggarkan ikatan antara ikat pinggan dengan dasi. Namun, nihil. Bukannya ikatannya yang lepas, Taka justru merasakan gigi dan tubuhnya ngilu karena terlalu berusaha keras dengan beragam posisi.


Sementara itu, beberapa zombie sudah mulai mendekatinya dari berbagai sisi. Zombie terdekat adalah zombie setengah tubuh yang sejak tadi menghampiri Taka dengan pantang menyerah. Tidak peduli seberapa hancur tubuhnya karena ditendang berkali-kali oleh sang pemuda, zombie itu tetap merangkat sambil menggeram hebat. Kedua matanya yang memutar ke belakang sungguh membuat Taka bergidik ngeri.


“Enyah kalian semua! Menjauh dariku! Kalian hanya makhluk tidak berakal yang sibuk meronta dan menggelinjang bagai cacing kepanasan!”


Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang Taka lontarkan. Seandainya para mayat hidup itu masih memiliki sedikit saja kesadaran, mungkin kini mereka sudah merasa tersinggung atau bahkan semakin mengamuk. Sayangnya, mereka tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun dan hanya terus mencoba menggigit maupun menerjang Taka dengan sekuat tenaga. Taka mulai kewalahan menghalau semua serangan dengan hanya menggunakan kedua kakinya.


Hingga tiba-tiba kaki kanannya tertahan karena digigit oleh salah satu zombie. Taka masih cukup beruntung, karena ia menggunakan sepatu yang tebal yang mencegah mulut makhluk menjijikkan itu menyentuh kulitnya, tetapi pemuda itu sangat kesulitan melepaskan diri, hingga membiarkan sepatunya terlepas dari kakinya begitu saja.


Taka bergidik ngeri menyadari bahwa ia pertahanannya semakin runtuh. Ia tidak bisa lagi menggunakan kaki kanannya untuk menendang jika tidak ingin digigit. Namun, tidak mungkin baginya untuk terus menendang dengan kaki kiri, karena seluruh tubuhnya kini sudah sangat kelelahan dan tidak bertenaga.


“Tidak mungkin! Apa pada akhirnya aku akan mati seperti ini?” Taka mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Wajahnya yang semula terus dihiasi ekspresi jahil dan berani kini mulai pucat dan tampak ketakutan. “Yang benar saja! Seharusnya akhir hidupku jauh lebih keren dari ini!”


Tidak ada satu manusia pun di dunia yang bisa memilih bagaimana mereka akan lahir, maupun menduga dengan tepat bagaimana kematian mereka nanti. Bahkan manusia yang menggores tangan mereka sendiri bisa saja kembali terbangun di Rumah Sakit jika memang belum waktunya untuk meninggalkan dunia ini. Taka selalu memahami hal itu, tetapi selama ini ia menganggap bahwa dirinya adalah pengecualian. Bahwa ia cukup berkuasa untuk menentukan takdirnya sendiri.

__ADS_1


Keyakinan itulah yang mampu membuatnya bertahan sejak serangan zombie dimulai. Ia dapat mempertahankan ketenangannya dan menyelamatkan dirinya sendiri dengan baik. Tidak sedikit pun ia gentar melihat kekacauan yang terjadi. Tidak sedikit pun ia bergidik ngeri melihat pertumpahan darah yang terjadi tepat di depan matanya. Bahkan ia mampu mengumpulkan sedikit informasi berguna tentang zombie yang sampai saat ini masih ia simpan rapat-rapat seorang diri.


Namun, ternyata berada sangat dekat dengan para zombie tetap mampu membuat Taka merasakan kengerian luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Apalagi saat ia dapat melihat dengan jelas luka-luka menganga serta kulit pucat para mayat hidup itu. Meskipun tidak ada belatung maupun hewan-hewan busuk menjijikkan yang biasanya ia lihat pada zombie dalam film, Taka tetap merasa mual dan hampir mengeluarkan seluruh isi perutnya begitu saja.


Otak pemuda itu terus mengingatkannya untuk tetap tenang dan waspada. Hanya saja, tubuhnya bereaksi lebih cepat. Taka meronta dengan hebat, berusaha menjauhkan para zombie itu dari dirinya.


“Pergi kalian semua! Pergi! Kenapa kalian begitu ingin menyerangku, hah? Dasar pengecut! Beraninya main keroyokan!”


Buk!


Salah satu zombie beradu kepala dengan Taka hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Penglihatan Taka sampai berputar dibuatnya. Tubuhnya terdiam, tidak lagi bergerak hingga akhirnya menjadi sasaran empuk para zombie yang terus menggeram maupun menggelinjang di dekatnya dengan mulut terbuka.


Mungkin karena tidak ada lagi perlawanan maupun teriakan yang menarik perhatian, tidak butuh waktu lama hingga para zombie berhenti menyerang Taka. Mereka tetap terlihat kejang-kejang dan menggeram sesekali, tetapi mereka tidak lagi menggigit dan hanya sibuk menggelinjang di tempatnya sendiri. Lama kelamaan, para zombie itu mulai menyebar, menjauh dari tubuh malang Taka yang kini berbaring dengan wajah hampir tidak dapat lagi dikenali.


Warna merah menutupi hampir sekujur tubuhnya. Kedua tangannya yang terlepas dari ikatan saat ia diserang terkulai lemah di kedua sisi tubuh. Ia tidak kehilangan satu pun anggota tubuhnya, tetapi jika seseorang melihatnya saat ini, mereka pasti akan mengira bahwa Taka baru saja diserang oleh beruang yang mengamuk. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa dari sang pemuda.

__ADS_1


Banyak lalat mulai beterbangan di sekitarnya, saat tiba-tiba salah satu tangannya bergerak dan menangkap lalat itu. Menghancurkannya dengan mengeratkan kepalan tangan.


Taka membelalakkan mata dan menatap langit yang masih terlihat cerah seolah tengah menertawakan nasibnya.


“Aku sudah mengira bahwa aku tidak akan mati. Tapi ternyata rasanya lebih menyiksa dari yang kubayangkan,” gumam pemuda itu sambil berusaha bangkit. Ia meringis kesakitan sambil sedikit menyentuh wajahnya yang dipenuhi luka gigitan. Dengan terpaksa ia meraih bagian dasi yang masih cukup panjang dan melilitkannya secara asal di wajahnya. Berusaha menutupi seluruh bagian kecuali mata, hidung, dan mulutnya. Sayang sekali panjang dasi itu tidak mencukupi, sehingga hanya menutupi bagian atas dan membuat Taka seperti menggunakan topeng tokoh Batman.


Dengan waspada Taka melihat zombie yang berada paling dekat dengannya. Tangannya terulur, mencoba menarik reaksi apa pun dari sang zombie.


“Sudah kuduga,” ucapnya saat melihat zombie itu mengejar tangannya sebelum berhenti karena ia pukul dengan keras. “Zombie-zombie ini mengejar kembali tanganku bahkan setelah dipukul bukan karena marah, tapi karena mereka bodoh sampai-sampai lupa bahwa mereka telah dipukul.”


Taka tahu bahwa apa yang telah ia katakan sungguh tidak masuk akal, tetapi ia tidak peduli. Seluruh waktu yang ia habiskan dengan mengintai di atas replika istana sebelumnya membuatnya mendapatkan banyak pengetahuan tentang zombie yang tidak bisa ia terjemahkan ke dalam satu maupun dua kalimat. Yang terpenting adalah ia tahu apa yang akan ia lakukan mulai saat ini.


“Tidak mungkin aku pulang dengan keadaan seperti ini, kan?” Taka bertanya kepada dirinya sendiri sambil terus meraba-raba tubuhnya. Mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ia sedikit bernapas lega setelah memastikan bahwa luka-lukanya jauh lebih ringan dari yang ia duga. “Kalau begitu, aku tetap di sini saja.”


Pemuda itu berdiri dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Meskipun bibirnya sedikit sobek di salah satu ujung, Taka tetap menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar. “Aku tidak akan lagi memedulikan apakah aku bisa keluar dari sini atau tidak. Yang jelas, aku harus membalas dendamku kepada kakak beradik sial itu!”

__ADS_1


Tawa terdengar keras dari sang pemuda. Dengan mudahnya ia berkelit dari beberapa zombie yang mendekat karena tertarik oleh suaranya. “Kalau perlu, sekalian kumusnahkan saja semua manusia yang tersisa di tempat ini!”


***


__ADS_2