
Adnan menoleh ke arah Zean, sebelum kembali melihat bercak darah aneh di depannya. “Apa kamu sedang melihat yang sama denganku? Atau kamu hanya sedang melamun saja?” tanyanya kepada Zean yang tidak bergerak sedikit pun di tempatnya.
Perlahan, Zean mengangguk. “Aku rasa jejak itu terlihat aneh. Aku memang pernah melihat zombie tanpa kaki yang bergerak dengan menyeret tubuhnya, tapi jejaknya tidak lurus seperti itu. Yang satu ini terlihat seperti ….”
“Ada orang yang menyeret zombie itu ke suatu tempat, kan?” tanya Adnan. Dengan mudahnya ia menebak kalimat yang ingin Zean ucapkan.
“Benar.” Zean menghela napas berat lalu menghadap Adnan sambil tersenyum. “Biarkan saja, itu semua tidak penting. Lebih baik sekarang kita mulai mencari adikmu.”
Dengan berani, Zean mulai berjalan menuju pintu keluar. Tangannya dengan cekatan mengambil barang-barang yang cukup berguna untuk membela diri, meskipun tidak banyak benda keras yang tersisa di sana. Saat hanya butuh satu langkah lagi untuknya keluar dari toko tersebut, ia baru menyadari bahwa Adnan sama sekali tidak mengikutinya.
Zean memejamkan mata erat, berusaha menahan keinginannya untuk meninggalkan Adnan. Biar bagaimanapun, ia telah berjanji akan membantu sang pemuda. Tidak peduli seberapa pun menyebalkannya Adnan, Zean tetap harus memenuhi janjinya.
“Sedang apa kamu? Ayo, pergi!” ajak Zean setelah ia kembali membuka matanya dan berbalik. Ia kira Adnan hanya sedang berdiri di tempat dengan ekspresi muram. Namun, rupanya pemuda itu tengah mengikuti jejak darah yang tadi mereka bicarakan.
Karena Adnan tidak kunjung menjawab, akhirnya Zean kembali mengalah dengan menghampiri pemuda itu. “Apa yang mau kamu lakukan? Jangan buang-buang waktu!”
“Aku harus melakukan ini,” jawab Adnan akhirnya. “Cukup satu kali saja aku merasa sangat bodoh karena terlambat mengetahui informasi yang seharusnya kutahu sebelum aku memasuki tempat ini.”
Mendengar itu, Zean mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Aku harus mencari tahu sebanyak mungkin informasi tentang mayat-mayat hidup sialan ini!” Adnan berjalan cepat ke arah pintu kecoklatan dan memegang kenop pintu itu dengan erat. “Jejaknya berhenti di sini. Seharusnya zombie itu ada di dalam sini.”
“Zombie tidak bisa membuka pintu sendiri.”
__ADS_1
“Maka dugaan kita benar. Ada orang yang membawanya kemari.”
Kedua pemuda itu kembali melihat ke belakang. Memperhatikan bagaimana warna merah kehitaman mewarnai lantai dengan banyak garis tanpa pola. Seolah seseorang dengan jahil mengepel lantai dengan cat kental. Namun, tentu saja mereka tahu bahwa bercak itu bukanlah hasil dari keisengan semata.
Apalagi bau menyengat yang tercium sangat membuat mereka mual. Zean menutup hidungnya rapat-rapat dan mencoba bernapas melalui mulut, hingga rasa mualnya justru bertambah berkali lipat. Ia berdecak kesal sambil mengibaskan tangannya dengan cepat. “Padahal sejak kemarin aku cukup tahan dengan bau para zombie itu. Tapi yang satu ini benar-benar tidak tertahankan! Bagaimana bisa aku baru menciumnya sekarang, padahal sejak tadi kita diam di tempat ini?”
Adnan sama sekali tidak menanggapi itu dan kembali memusatkan perhatiannya kepada lemari asing di depannya. Sekilas, ia bisa menebak benda apa saja yang ada di balik pintu itu, karena ia sering melihatnya di berbagai tempat, terutama mal maupun restoran.
Alat kebersihan. Lemari penyimpanan alat kebersihan adalah tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sesuatu.
“Apa kamu juga berpikir mungkin ada sesuatu yang berguna di dalam sini?” tanya Adnan akhirnya.
Sejenak Zean terdiam mendengar itu. Tangannya tanpa sadar merogoh bungkusan plastik hitam yang masih menghuni saku celananya. Namun, dengan segera ia menarik tangannya kembali dan bersedekap dada. “Tidak. Kurasa di dalam sana hanya akan ada zombie. Mungkin dia cukup pemalu sehingga bersembunyi dari zombie lainnya.”
Setelah mengatakan itu, Adnan mulai berhitung mundur mulai dari angka tiga. Memberikan aba-aba kepada Zean untuk bersiap. Karena bisa saja apa yang ada di balik pintu itu akan membahayakan nyawa mereka berdua.
Saat pintu akhirnya terbuka, Adnan telah bersiap untuk menghajar apa pun yang menyambutnya. Namun, di luar dugaan, ia hanya disuguhkan pemandangan yang cukup mengerikan untuknya.
Tergeletak jasad seorang wanita dengan tangan dan kaki yang tidak lagi utuh. Bahkan salah satu lengannya benar-benar tidak terlihat. Kepalanya yang remuk serta berhiaskan luka tusuk hampir terlepas dari tubuh karena luka besar di lehernya. Secara keseluruhan, penampilan jasad perempuan itu sungguh menggores hati. Seorang Adnan yang selalu tidak memedulikan orang lain selain keluarganya saja tidak mampu melihatnya lama-lama.
Hanya saja, ada satu hal yang tampak mencolok yang membuat sang pemuda tidak bisa memalingkan wajahnya begitu saja.
Adnan menggerakkan jasad itu dengan kakinya. Memastikan bahwa wanita itu sudah tidak bergerak sepenuhnya sebelum akhirnya ia berjongkok dan menatap lekat-lekat wajah mayat itu. Dengan perlahan, ia mencabut kain yang menyumpal di bagian mulut.
__ADS_1
“Apa dia mati sebagai manusia, atau zombie?” tanya Zean yang hanya terus berdiri di belakangnya.
“Kurasa zombie. Untuk apa lagi seseorang menyumpal mulutnya jika bukan untuk mencegahnya menggigit orang lain?” Adnan melempar kain di tangannya ke sembarang arah. Hampir mengeni kaki Zean jika saja pemuda itu tidak memiliki refleks yang bagus. “Tapi kenapa dia dikurung? Apa ada kemungkinan dia bangun lagi setelah mati?”
Zean terkekeh mendengar itu. “Pikiranmu terlalu liar. Tidak ada satu pun kisah zombie yang menceritakan bahwa mereka bisa hidup lagi setelah dibunuh,” ujarnya sambil menunjuk ke seisi lemari berwarna coklat terang itu. “Lihat. Ada banyak jejak darah di dalam sini. Pasti zombie ini belum mati saat dikurung. Sehingga dia banyak meronta sampai akhirnya kematiannya datang.”
Sontak Adnan berteriak frustrasi dan kembali berdiri. Menendang jasad di depannya penuh amarah sebelum berjalan menjauh. Dengan sangat susah payah ia mencoba menarik napas sedalam mungkin, berusaha menyingkirkan amarah di dalam dadanya. Namun, tampaknya oksigen yang ia tarik malah membuat api amarahnya semakin membara.
“Aku tahu aku bertindak bodoh dengan menganggap aku bisa menemukan banyak petunjuk dalam waktu singkat!” keluhnya sambil meninju benda apa pun yang ada di dekatnya. “Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi! Mana bisa aku bertemu dengan Adira dengan keadaan tidak tahu apa-apa seperti ini? Dasar payah! Padahal Adira mengandalkanku.”
Zean menyaksikan Adnan menyalurkan rasa frustrasinya dengan lekat. ‘Rupanya nama adiknya adalah Adira,’ gumamnya dalam hati. ‘Andai aku juga bisa meluapkan emosiku seperti itu, apa rasanya akan lega?’
Tidak tega terus melihat Adnan menyiksa dirinya sendiri, Zean akhirnya memutuskan untuk memberitahu sang pemuda rahasia yang tadinya ingin ia simpan rapat-rapat untuk sementara waktu. ‘Kupikir ia jauh lebih membutuhkan harapan daripada aku.’
“Adnan, tenanglah! Semua ini tidak sia-sia!” ujar Zean nyaring.
Adnan lantas menatapnya dengan sinis. “Jangan lagi paksa aku untuk mendengar omong kosong lainnya.”
“Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi aku akan memberitahumu hal yang kuyakini.”
Zean akhirnya mengeluarkan benda dari dalam sakunya. Memperlihatkannya ke depan wajah Adnan yang lantas membelalakkan mata.
***
__ADS_1