Monster In Me

Monster In Me
Perjalanan Menuju Adira


__ADS_3

“Sepertinya semua orang ini juga mengarah ke Taman Bermain yang sama,” ujar Irwan setelah selama beberapa menit mobil yang ia kendarai terhambat oleh kemacetan yang terjadi di jalan besar menuju Taman Bermain Cakrabuana. Banyak mobil terjebak di tengah-tengah jalanan yang basah setelah diguyur hujan yang singkat tetapi cukup besar. “Percuma saja aku ngebut jika akhirnya kita terjebak di tempat ini.”


Sejak meninggalkan rumah, Irwan terus berusaha memacu kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Hingga perjalanan yang seharusnya memakan waktu lebih dari dua jam, bisa ia tempuh jauh lebih cepat dati itu. Hanya butuh sedikit lagi hingga akhirnya mereka akan sampai ke Taman Bermain Cakrabuana. Namun, rupanya ia dan keluarganya masih harus bersabar sedikit lagi.


“Cepat cari jalan lain, Ayah! Kita sudah terlalu banyak menghabiskan waktu di perjalanan!” titah Dewi yang tengah menonton video di ponselnya. Sebuah rekaman yang diunggah oleh penyintas anonim yang mengaku masih terjebak di pusat Taman Bermain Cakrabuana. Video itu tampak buram, entah karena lensa kamera yang kotor atau getaran dari tangan sang pemilik. Namun, Dewi masih dapat melihat setiap gambar dengan jelas. Seluruh tubuhnya bergidik ngeri saat melihat keadaan Taman Bermain yang tidak lagi dapat dikenali.


Sebuah tempat wisata seharusnya penuh dengan kegembiraan. Pajangan dan aksesoris warna-warni memeriahkan suasana dari berbagai sisi. Banyak pengunjung menabur senyum kepada satu sama lain, bersama dengan anak-anak yang berjingkrak kegirangan mengikuti alunan musik ceria. Tidak ada satu pun dari semua itu yang dapat Dewi lihat dari video yang masih berputar di depan matanya.


“Ibu, sepertinya lewat mana pun akan sama saja. Lebih baik aku turun dan pergi duluan,” saran Adnan yang duduk di samping ibunya. Tadinya, ia tidak memilih duduk di depan karena ingin mencoba menenangkan Dewi yang masih saja bergetar oleh cemas berlebih, tetapi sepertinya saat ini ibunya telah cukup tenang untuk ia tinggalkan.


“Tidak! Tidak boleh!” larang Dewi sambil menarik tangan anaknya. Menahan Adnan agar tetap duduk diam di sampingnya. “Ibu tidak mau jika sampai kamu juga ikut menghilang! Adnan, jangan lakukan itu kepada Ibu!”


“Aku tidak akan menghilang, Bu. Aku pasti akan segera kembali dengan membawa Adira.” Adnan mengusap tangan ibunya yang masih menggenggamnya. “Ibu percaya sama aku, kan?”


Ditanyai seperti itu membuat Dewi lantas terdiam. Raut cemasnya kini berganti dengan ekspresi kebingungan. Ia tampak enggan melihat anak sulungnya dan memilih menatap wajah sang suami yang dipantulkan spion mobil. Irwan yang menyadari hal itu lantas menarik napas panjang dan berbalik sebentar ke belakang.

__ADS_1


“Sudah, tidak usah macam-macam! Diam dan turuti saja ibumu!” titahnya tegas. “Bukankah Ayah sudah mengingatkanmu dengan jelas kalau saat terakhir kamu bertindak seenaknya, semuanya justru semakin berantakan?”


“Itu hanya satu kesalahan!” Kali ini Adnan memutuskan untuk melawan. Tidak bisa lagi ia mendengar ayahnya terus mencoba membuatnya rendah diri hanya karena sedikit kekeliruan. “Lagipula, bagaimana aku bisa tahu kalau semua ini akan terjadi tepat di hari karya wisata angkatan Adira? Ayah tidak berhak untuk menyalahkanku sepenuhnya!”


Dewi sungguh merasa tidak nyaman menyaksikan bagaimana ayah dan anak itu berdebat. Meskipun bukan kali pertama, rasa sakit yang Dewi rasakan tetap sama. Sudah lama ia berhenti berharap bahwa Irwan dan Adnan akan berubah menjadi lebih akur.


Ia tahu, tidak seharusnya ia berputus asa terhadap keluarganya sendiri. Namun, hatinya yang lemah tidak ingin selalu bergantung kepada harapan yang semu. Dewi selalu memastikan bahwa ia hanya akan berpegangan pada tali impian yang cukup tebal dan kuat untuk menahan bobot tubuhnya.


Dan kali ini, ia sesungguhnya mengetahui bahwa kemungkinan Adira masih berjuang hidup di Taman Bermain sana sungguh tipis dan hampir mustahil. Jika mengikuti prinsipnya, seharusnya Dewi telah mempersiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk. Sayangnya, ia tidak bisa melakukannya kepada anaknya sendiri.


Menyadari hal itu, akhirnya Dewi menarik napas panjang dan melepaskan pegangannya kepada tangan Adnan.


“Tunggu sepuluh menit lagi. Jika sampai kemacetan tidak kunjung terurai hingga saat itu, kamu boleh pergi duluan,” ucap Dewi akhirnya. Ia menatap Adnan dengan kilau mata penuh tekad yang jarang ia perlihatkan. “Untuk saat ini, kita harus tetap berjuang untuk pergi bersama. Bukan hanya kamu yang ingin menyelamatkan Adira.”


Adnan tertegun beberapa saat sebelum menganggukkan kepala. “Baiklah, Bu. Aku mengerti.”

__ADS_1


Sementara itu, Irwan yang sebenarnya mulai kelelahan hanya bisa terus memusatkan konsentrasinya untuk menyetir. Memastikan bahwa ia cukup sigap untuk melaju kapan pun jalan di hadapannya terbuka lebar.


Ternyata tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kemacetan terurai. Sebagian besar kendaraan roda empat memilih berbalik arah, meninggalkan beberapa kendaraan lainnya yang masih bersikeras untuk meneruskan perjalanan.


Semakin dekat mereka dengan Taman Bermain Cakrabuana, semakin banyak pria berseragam yang terlihat. Salah satu dari para pria itu sempat menghentikan mobil Irwan, menanyakan serta menyampaikan beberapa informasi seperti keterbatasan akses untuk memasuki wilayah Taman Bermain. Namun, dengan sedikit memaksa, Irwan berhasil mengantar keluarganya untuk sampai di tujuan.


Ralat. Mereka tidak diperbolehkan untuk mendekati gerbang terluar Taman Bermain, sehingga Irwan terpaksa memarkirkan mobilnya beberapa meter dari gerbang tersebut. Terdapat barikade serta banyak orang yang menghalangi akses jalan di depan mereka. Banyak polisi juga berbaris membentuk formasi pertahanan. Semua itu membuat Adnan yang memiliki tubuh tinggi sekalipun hampir tidak dapat melihat penampakan gerbang besar dari Taman Bermain Cakrabuana.


Setelah berusaha keras untuk menaiki atap mobilnya sendiri dan menggunakan kamera ponselnya untuk memperjelas penglihatannya, Adnan mendapati bahwa bagian dalam gerbang pertama itu tampak sepi dan hanya berisi berbagai kendaraan roda empat. Tampaknya kekacauan hanya terjadi di dalam gerbang kedua, gerbang yang memisahkan wilayah Taman Bermain dengan tempat parkir.


“Kalian tunggu saja dulu di sini. Aku akan mencari tahu dengan bertanya ke orang-orang di sana,” ucap Irwan setelah Adnan kembali memasuki mobil. Ia menunjuk ke arah kumpulan manusia yang rupanya tengah meneriakkan nama orang-orang tersayang yang terjebak di dalam Taman Bermain. Keningnya berkerut saat ia menyadari beberapa orang memegang foto besar yang menampilkan sosok gadis yang seusia dengan Adira. Kemungkinan besar mereka adalah orang tua dari teman-teman anak bungsunya. “Aku akan segera kembali. Adnan, jaga ibumu dengan baik!”


Adnan menganggukkan kepala dan mengambilkan bantal di bagasi mobil untuk menyamankan posisi ibunya bersandar. Dewi yang mulai merasakan kelelahan teramat sangat setelah semua kekhawatiran yang ia rasakan lantas memejamkan mata. Meskipun tetap saja ia tidak bisa benar-benar tertidur sebelum memastikan keadaan Adira baik-baik saja.


‘Aku yakin, Ayah tidak akan mendapatkan informasi apa pun hanya dengan bertanya. Orang-orang yang menjaga tempat ini pasti telah diperintahkan untuk tidak bicara sembarangan,’ pikir pemuda itu sambil menatap wajah ibunya yang basah oleh keringat dingin. ‘Aku harus segera melakukan sesuatu.’

__ADS_1


***


__ADS_2