Monster In Me

Monster In Me
Saling Mengandalkan


__ADS_3

Zean mengerjapkan mata berkali-kali untuk memastikan bahwa ia benar-benar tidak lagi terpejam. Sebab ia sempat tertipu oleh warna hitam yang ternyata menutupi indra penglihatannya. Sungguh keajaiban ia tidak sampai menyangka bahwa ia menjadi buta, karena tubuh seseorang yang memeluk kepalanya dengan erat benar-benar membuatnya tidak bisa melihat apa pun setelah ia terbangun dari pingsannya.


Dengan sekuat tenaga artis muda itu mengangkat kedua tangannya yang terasa lemas dan meraih pundak adiknya tempat ia keningnya bersandar itu. Mengusap Helsa yang tengah sesenggukan dengan pelan. Seketika Zean bisa merasakan tubuh Helsa membeku.


“Kakak! Kakak sudah sadar!” teriak gadis itu sambil berusaha menatap wajah sang kakak. Zean menggeram saat Helsa tanpa sengaja menyentuh luka di tubuhnya. “A-aku takut sekali. Kupikir Kakak meninggalkanku sendiri!”


“Kenapa begitu? Kakak pernah bilang kalau Kakak akan selalu ada di sisimu,” jawab Zean sambil tersenyum. Kini ia menegakkan posisi duduknya agar dapat menatap sang adik dengan lebih baik. Beberapa kali ia mengerjapkan kedua matanya untuk beradaptasi dengan suasana malam yang tampak remang-remang dengan pencahayaan minim.


“Ha-habisnya … habisnya.” Bibir Helsa mulai bergetar. Tampaknya ia akan kembali menangis tersedu-sedu. “Darah. Kakak berdarah banyak sekali,” ujarnya sebelum benar-benar merengek dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Berusaha meredam suara tangisannya sendiri.


“Banyak bagaimana? Kakak merasa baik-baik saja.” Dengan percaya diri Zean menyentuh bagian belakang kepalanya yang ditunjuk oleh Helsa. Seketika ia merasakan cairan lengket dan hangat memenuhi telapak tangannya.


Kedua mata Zean pasti terlihat membelalak ketakutan, karena detik berikutnya Helsa menjerit dan tampak semakin panik. “Aku harus bagaimana? Kakak terluka gara-gara aku!” Dengan kasar ia menarik topi rajut yang menutupi sebagian rambut sebahunya.


Terburu-buru Zean menahan pergerakan Helsa dengan meraih kedua tangan sang adik. “Ca, tenang dulu. Lihat Kakak! Kakak sama sekali tidak merasa sakit. Luka di kepala memang seringkali terlihat lebih seram dibandingkan yang sebenarnya.” Zean sedikit berdusta karena sesungguhnya ia mulai merasakan perih serta ngilu di sekujur tubuhnya.


Namun, mau bagaimana lagi? Ia harus bisa membuat Helsa berhenti menjerit jika ingin menyelamatkan nyawa mereka berdua.


Samar-samar ia kembali mengingat mengapa mereka bisa berakhir terbaring dengan tubuh dipenuhi pasir dan kerikil. Ia tengah mengajak Helsa yang tiba-tiba lemas untuk beristirahat sebentar sambil menikmati jus buah di salah satu gazebo yang tersedia di sudut Taman Bermain. Namun, tiba-tiba datang segerombolan orang yang berlarian dengan panik, serta menyerang satu sama lain dengan agresif. Beberapa di antaranya menerjang salah satu tiang gazebo tempat Zean dan Helsa bernaung.


Demi menghindari reruntuhan dari gazebo yang hancur, Zean memeluk adiknya erat dan terpaksa menjatuhkan diri ke samping. Dan berakhir membenturkan kepalanya ke atas aspal yang keras.

__ADS_1


Zean masih dapat membayangkan bagaimana rasanya saat tubuhnya tertimpa tumpukan puing yang sebenarnya kini tidak lagi menimpanya. Mungkin selama ia pingsan, Helsa menyingkirkan semuanya dengan sekuat tenaga. Zean merasakan hatinya sakit saat membayangkan bagaimana adiknya harus bertahan sendirian untuk beberapa saat.


“Apa kamu terus menangis sejak tadi? Bagaimana dengan para manusia mengerikan yang menyerang kita itu?” tanya Zean hati-hati setelah memastikan adiknya sudah jauh lebih tenang.


Helsa menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut. Sesekali ia masih terisak dan harus mengusap kedua matanya yang basah. “Aku terus pura-pura mati di balik tubuh Kakak. Sampai akhirnya, para zombie itu pergi menyerang orang lain.”


“Sudah Kakak bilang, mereka bukan zombie.”


“Terus apa?”


Zean terdiam sebentar sebelum menghela napas berat. “Kakak juga tidak tahu. Tapi yang pasti, kita harus mewaspadai siapa pun saat ini.” Zean tersenyum saat melihat Helsa menganggukkan kepala. “Terima kasih sudah menjaga Kakak dengan baik selama Kakak pingsan. Kita pasti bisa keluar dari tempat ini dengan selamat,” ujarnya sambil mengusap kepala sang adik.


Padahal ia sangat berharap hari ini ia bisa membahagiakan Helsa, tetapi yang terjadi ia malah membuat mereka berdua terjebak di antara para mayat hidup yang menyerang dengan ganas. Maka dari itu, tidak peduli bagaimanapun caranya, Zean siap berkorban demi bisa memastikan adiknya kembali ke rumah dalam keadaan utuh dan sehat.


“Aku ini jauh lebih hebat dari yang Kakak kira,” celetuk Helsa dengan bangga. Ia lantas melepas pegangan mereka dan meraih ransel yang berada di samping Zean. Mengeluarkan kotak P3K kecil yang biasa mereka bawa ke mana pun.


Tentu saja Zean sempat menolak saat Helsa menyuruhnya untuk menunduk. Sebab semua obat itu ia bawa untuk berjaga-jaga jika Helsa terluka. Ia tidak bisa membiarkan adiknya memakaikan obat kepadanya.


“Kakak, kan, akan memastikan aku tidak terluka. Jadi, aku tidak butuh semua obat dan perban ini.” Dengan percaya diri Helsa menuangkan sebotol alkohol ke salah satu sisi kepala Zean yang terluka. Susah payah Zean menahan diri agar tidak meringis.


Sesungguhnya Helsa sendiri tidak tahu banyak soal mengobati luka. Setiap kali Zena merawatnya, ia hanya akan memejamkan mata menahan rasa perih yang menyerang. Sehingga saat ini ia hanya memercayakan instingnya sendiri untuk mengobati luka Zean. Mengabaikan kedua tangannya yang sesungguhnya masih bergetar ketakutan.

__ADS_1


“Sudah,” ucap Helsa bangga sambil menatap potongan kain perban yang baru saja ia pasang ke kepala kakaknya dengan menggunakan plester. Ia menyimpan gunting yang sempat ia gunakan ke dalam saku celana.


Zean meraba hasil kerja Helsa. Ia lantas tersenyum saat menyadari bahwa adiknya telah memasangkan perban ke rambutnya, sehingga perban itu tidak terpasang dengan rapat. “Kerja bagus,” pujinya. Ia kemudian melihat keadaan sekitar. “Kalau kamu sudah siap, kita akan coba pergi dari sini.”


“Kenapa? Apa tidak sebaiknya kita menunggu sampai bantuan datang?” tanya Helsa dengan cemas.


Zean merapatkan bibirnya sebelum menggelengkan kepala. “Di saat seperti ini, kita tidak boleh hanya diam dan pasrah. Pihak berwenang pasti membutuhkan banyak waktu untuk menyelamatkan banyak pengunjung Taman Bermain ini,” ucapnya sambil menatap kedua mata sang adik. “Kita juga tidak tahu kapan para makhluk mengerikan itu akan kembali datang dan menyerang kita.”


Jelas sekali Helsa tidak setuju dengan ucapan Zean, sebab ia tampak enggan membalas tatapan kakaknya untuk beberapa saat. Gadis kecil itu terus memandang ke arah lain sebelum akhirnya kedua matanya membelalak dan ia tersenyum semangat. “Kakak ingat, kan, tadi aku bilang kalau ada orang lain yang menjadi sasaran para zombie itu sehingga kita bisa selamat?”


“Ya, tentu saja Kakak ingat,” jawab Zean lembut.


“Setelah kupikir-pikir, sepertinya mereka sengaja memancing para zombie itu ke suatu tempat untuk kemudian menyerangnya. Mereka semua memakai seragam putih abu yang sama. Dan ada wanita dewasa bersamanya.”


Secara perlahan, Zean mencoba memahami ucapan adiknya. “Sepertinya mereka rombongan anak sekolah, ya?” tanyanya kemudian.


“Kayaknya begitu, Kak,” jawab Helsa antusias. “Mereka membawa tongkat sebagai senjata. Bukankah itu ide bagus? Mungkin kita bisa cari sesuatu untuk mempertahankan diri.”


Sontak Zean tertegun. Sepertinya kekagumannya kepada sang adik tidak akan pernah berhenti bertambah.


***

__ADS_1


__ADS_2