Monster In Me

Monster In Me
Kakak! Aku Datang!


__ADS_3

Jangan salah. Adnan takut bukan hanya karena ia tahu bahwa dirinya telah tersudut, tetapi karena kemungkinan ada makhluk lain di luar sana yang telah memuat para zombie itu menjadi senjata berjalan yang lebih berbahaya seperti ini.


‘Aku tidak boleh menyerah. Aku harus melindungi Adira dari neraka ini,’ pikir Adnan. Jauh di dalam benaknya ia masih ingin berjuang untuk dapat berdiri di sisi Adira, tetapi kini ia tidak bisa mengatakan keinginannya dengan lantang dan percaya diri.


Sebab Adnan bisa merasakan kesadarannya hilang seiring dengan darahnya yang mengalir ke luar. Setiap detik tubuh Adnan semakin melemas, sementara para zombie yang kembali mengerubunginya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Perlahan, kedua mata Adnan menutup, raut wajahnya menunjukkan dengan jelas betapa ia tidak ingin meninggalkan dunia dengan cara seperti ini.


Semua bagaikan terjadi dalam waktu yang sangat lambat bagi Adira yang menyaksikan. Ia tidak lagi berusaha melepaskan diri dari pegangan Firda yang membalik tubuhnya dan membuatnya melarikan diri sejauh mungkin dari para zombie. Namun, sebisa mungkin Adira terus menoleh ke belakang, berharap dapat melihat kakaknya merangkak keluar dari bukit zombie itu dan menghampirinya dengan senyum cerah. Sayang, harapan tinggal harapan. Adnan tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya kembali.


‘Kenapa Kakak ada di sini?’ Adira terus bertanya-tanya selama ia berjalan tertatih-tatih di samping Firda dan Aron. ‘Aku tahu Kakak akan datang menyelamatkanku, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa Kakak akan begitu nekat. Maka seharusnya aku juga berbuat hal yang sama.’


“Bertahanlah, Dir! Kita hanya harus menghindari jalur bepergian para zombie itu!” ucap Firda menyemangati Adira dari samping. “Sama seperti kemarin, pasti mereka hanya ingin menghampiri sumber suara lagu Taman Bermain.”


Lagu Taman Bermain? Ah, Adira bahkan tidak menyadari bahwa suara bising itu kini telah berubah menjadi lagu yang mengalun riang. Seperti yang sebelumnya Adira perkirakan.


Mendadak Adira mengentakkan kakinya dengan keras sebelum berhenti berjalan sepenuhnya. Ia menatap Firda dan Aron dengan tajam, sebelum melepaskan diri dari genggaman Firda. “Kalian pergilah! Aku harus menyelamatkan Kak Adnan dulu!”

__ADS_1


Dengan panik Firda mencoba menahan Adira. “Dir! Ini tidak benar! Tidak mungkin Kak Adnan bisa keluar dengan selamat dari sana!”


“Diam!” Amarah mulai menguasai Adira. Seolah matanya kini merah membara. Ia tampak bisa melakukan apa saja demi bisa pergi ke sisi Adnan sekarang juga. “Jangan bicara sembarangan! Kamu tahu seberapa luar biasanya kakakku! Dia bahkan datang ke tempat ini hanya demi aku! Bagaimana bisa aku pergi begitu saja?”


Firda akui ia sedikit bergetar melihat seberapa murkanya Adira saat ini. Sesungguhnya ia tahu bahwa dirinya tidak berhak memaksa Adira yang sangat ingin pergi menyelamatkan kakaknya. Namun, di sisi lain, Firda tahu betul bahwa Adira hanya akan berakhir menyusul kakaknya meninggalkan dunia jika sampai sang gadis menerjang kumpulan zombie itu tanpa rencana dan persiapan matang.


Aron yang kini memeluk pinggang Firda dengan erat pun mulai bergetar hebat. Anak kecil seperti dirinya tentu belum mampu memahami apa yang tengah terjadi. Satu-satunya yang ia tahu bahwa mereka harus segera pergi menyelamatkan diri. Namun, kenapa Adira dan Firda tidak kunjung beranjak? Apalagi kini kerusuhan zombie yang menyerang pemuda tadi mulai berkurang, dan kini beberapa mayat hidup telah berjalan ke arah mereka.


Menangkap ketakutan Aron, akhirnya Firda membulatkan keputusannya. “Dir, untuk yang terakhir kalinya, aku mohon! Ayo, pergi bersama kami! Tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan Kak Adnan!”


Dengan sangat menyesal Firda mencoba menyadarkan Adira akan kenyataan yang tengah mereka hadapi. “Dir, semua itu berbeda dengan situasi saat ini. Saat itu kita hanya menghadapi sedikit zombie. Dan kita juga berkali-kali hampir mati karena semua itu! Sekarang, turuti aku atau hidupmu akan berakhir!”


Adira terkejut mendengar ungkapan terus terang sang sahabat. Kedua matanya lantas bergetar bersamaan dengan mulutnya yang menganga. Adira sama sekali tidak menemukan jawaban yang mampu membantah pernyataan Firda, hingga akhirnya ia berjalan mundur.


“Aku tidak tahan, Fir. Aku tidak tahan lagi.” Ucapan Adira kini terdengar sangat menyakitkan. Gadis itu mulai kesulitan mengelap air mata yang telah mengalir deras. “Untuk apa aku bertahan selama ini hanya untuk membuat nyawa kakakku satu-satunya melayang begitu saja? Tidak ada lagi yang lebih kuinginkan saat ini melebihi keinginanku untuk kembali menghabiskan waktu dengan Kak Adnan. Tapi sekarang semua itu tidak mungkin terwujud.”

__ADS_1


“D-Dir, berhenti!” Firda mulai merasa sangat gugup. Ia melihat cahaya di mata Adira perlahan meredup. Mewakili semangat hidup sang sahabat yang kini hampir tidak lagi bersisa. Firda berusaha meraih tubuh Adira, tetapi tangannya sendiri kini terasa berat. Seolah ia tengah membawa banyak batu bata besar di lengannya. “Adira, kumohon. Masih ada harapan di luar sana. Pikirkan orang tuamu!”


Adira tersenyum kecut mendengar hal itu. Baru ia sadari bahwa sejak semua kekacauan ini terjadi, tidak pernah satu kali pun ia merindukan maupun mengkhawatirkan kedua orang tuanya. Satu-satunya hal yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara untuknya bisa menghubungi Adnan, untuk memberitahukan posisinya kepada sang kakak. Karena kalaupun Adnan tidak pernah berjanji untuk melindunginya, Adira selalu tahu bahwa Adnan akan bersedia pergi ke mana pun setiap Adira membutuhkannya.


Adira adalah segalanya bagi Adnan, dan Adnan adalah sosok dunia yang Adira tahu.


Bisa gadis itu rasakan bahwa rombongan zombie mulai mengarah ke tempat ia, Firda, dan Aron berada saat ini, Adira tetap tidak mengkhawatirkan apa pun dan hanya memikirkan sosok kakaknya. Sosok Adnan yang selalu tersenyum meskipun menanggung beban yang Ayah dan Ibu berikan kepadanya sebagai anak laki-laki tertua. Adnan yang senantiasa siap sedia memasang tubuhnya untuk menjadi benteng pelindung Adira. Tidak ada satu pun hal yang akan ia biarkan menyentuh sang adik, termasuk Irwan dan Dewi, orang tua mereka.


Bahkan sebenarnya Adira tahu, bahwa sang kakak telah mengorbankan banyak hal, agar Irwan mau mengizinkan Adira untuk ikut karya wisata sekolah. Namun, Adira tidak pernah mengatakan apa pun karena tahu bahwa Adnan ingin merahasiakan hal itu darinya.


Kini, saat sosok Adnan perlahan lenyap dari hadapannya, Adira mulai menyesali dirinya yang tidak pernah membalas sedikit saja kebaikan sang kakak.


Berbekal semua penyesalan itu, Adira akhirnya melangkah dengan berani dan mulai berlari menerjang ke arah para zombie. Tanpa memedulikan Firda dan Aron yang menangis meraung memintanya kembali.


***

__ADS_1



__ADS_2