Monster In Me

Monster In Me
Rahasia Fikram


__ADS_3

“Apa perlu kumatikan lagi listriknya? Sepertinya tidak perlu.” Fikram mengamati sekitar dari posisinya di bagian teratas Bianglala. Wahana terbesar yang terletak tepat di tengah-tengah kawasan Taman Bermain Cakrabuana itu masih berdiri kokoh berkat tiang-tiang raksasa yang menyangganya. Fikram duduk dengan santai meskipun sesekali ia mengerutkan kening melihat zombie-zombie yang menerjang tiang Bianglala tanpa henti. “Suara mereka berisik sekali. Penampilan mereka juga. Aku hampir tidak ingin menyalakan listrik kemarin malam, karena malas melihat penampakan mengerikan itu.”


Ia lantas menyandarkan kepalanya. Menengadah menatap tangannya yang terangkat sambil menggenggam bungkusan kecil berbalut plastik hitam. Dengan ibu jarinya, ia mengusap-usap benda tersebut. “Apa sekarang aku harus mencobanya? Sudah bertahun-tahun aku mendistribusikan benda berbahaya ini, tapi aku sendiri belum pernah membuka bungkusnya satu kali pun,” gumamnya pelan sambil terus meneliti benda itu.


“Aku berharap kamu tetap pada pendirianmu.”


Tiba-tiba suara Doni, teman sekaligus pelanggan setianya, terngiang di kepalanya. Fikram tersentak dan menegakkan tubuhnya, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari bungkusan di tangannya.


“Jangan pernah mengonsumsi benda ini. Tidak peduli seberapa besar rasa penasaranmu nanti, tetaplah berpegang teguh pada pendirianmu saat ini.”


“Hah … dasar!” Fikram kembali mengantongi bungkusan itu. Dengan sengaja mendorongnya lebih jauh ke dasar saku celananya. Mencegah benda itu keluar dari sana. “Kenapa sok keren begitu? Pada akhirnya, kamu dan aku sama-sama terjebak di tempat ini. Jadi, apa bedanya?”


Saat ia hendak berdiri, mendadak ringisan pelan keluar dari bibirnya. Ia merintih sambil kembali duduk dengan merentangkan kaki ke depan. Tangannya yang bergetar menyentuh bagian kaki serta lehernya yang dihiasi luka cabik. Di lengannya juga terdapat luka berupa titik-titik yang membentuk huruf U. Perlahan, Fikram terdiam sebelum terkekeh melihat semua itu. Lama kelamaan ia mulai tertawa terbahak-bahak, hingga kepalanya menengadah jauh ke belakang.


“Ah, sungguh lucu! Ternyata digigit itu rasanya sakit sekali,” keluhnya di sela-sela tawanya. “Aku tahu aku tidak akan mati hanya karena ini. Tapi pada akhirnya, aku memanjat sampai ke atas sini karena tidak ingin terkena serangan lagi. Ternyata aku pengecut juga.”


Ia lantas mengeluarkan ponselnya dan membuka kamera. Memperbesar tampilan yang ditunjukkan kamera itu untuk memotret setiap luka-lukanya dengan jelas. “Kenang-kenangan. Jika sampai suatu saat aku berpikiran gila, aku harus ingat bahwa aku pernah bersusah payah melewati penderitaan seperti ini,” ujarnya dengan sedikit angkuh.

__ADS_1


Hingga saat ia selesai memotret dan mulai mengalihkan kameranya ke arah lain, terlihat sosok dua orang gadis yang kini tengah berbaring di atas dinding terluar Taman Bermain. Fikram sama sekali tidak terlihat terkejut. Ia justru tersenyum lebar dan terus menekan tombol zoom in di ponselnya.


“Sudah kuduga. Mereka akan selamat,” ucapnya, masih sambil tersenyum lebar. “Aku kalah dengan gadis SMA. Mereka saja tidak berhenti berjuang, meskipun sempat dilempari batu. Eh, tunggu!”


Fikram mengernyitkan keningnya. Selama beberapa saat ia menjauhkan ponselnya dari wajahnya. “Siapa kira-kira yang tega melempari batu seperti itu? Apa ada jenis zombie yang tidak kuketahui? Hah! Yang benar saja! Bahkan menyebut mereka zombie saja sudah terlalu konyol.”


Tiba-tiba ponsel pria itu berdering. Pada awalnya, Fikram mengabaikan panggilan itu, tetapi sang penelepon cukup keras kepala dengan meneleponnya berkali-kali. Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Fikram mengirimkan pesan singkat guna memberitahukan bahwa ia tidak bisa menerima panggilan saat ini.


Tidak butuh waktu lama sampai ia menerima pesan balasan. Namun, Fikram menyempatkan diri untuk menarik napas dalam terlebih dahulu sebelum membuka pesan itu.


“Ayah kenapa belum pulang juga?”


“Maaf, Ayah sedang banyak kerjaan. Sampaikan salam Ayah kepada ibu dan adikmu, ya.”


Berkali-kali ia menghapus dan mengetik ulang semuanya sebelum ia menekan tombol kirim. Proses pengiriman pesan tidak pernah terasa begitu lama bagi Fikram sebelumnya, tetapi kali ini berbeda. Ia sungguh tersiksa menunggu hingga tanda centang bertambah menjadi dua.


Setelah memastikan pesannya telah terkirim, terburu-buru Fikram mematikan ponselnya. Menggenggam benda pipih itu dengan erat, seerat ia merapatkan gigi-giginya saat ini. Sudah lama sejak terakhir kali ia merasakan dadanya begitu sesak oleh perasaan bersalah.

__ADS_1


Anak dan istrinya, serta seluruh anggota keluarga besarnya tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan untuk mencari nafkah. Tidak ada yang tahu bahwa ia pergi ke Taman Bermain Cakrabuana untuk bertransaksi dengan banyak pelanggan. Mereka hanya tahu bahwa Fikram pergi bekerja sebagai pegawai lepas di salah satu perusahaan tekstil yang jauh dari rumah.


Maka jika nyawanya berakhir di tempat ini, mungkin keluarganya tidak akan pernah menemukan jasadnya, dan mengira bahwa ia menghilang karena tidak tahan lagi bekerja keras untuk membiayai kebutuhan keluarga.


Fikram menyugar rambutnya sambil mendesah berat. “Sial! Kenapa aku jadi banyak pikiran seperti ini?” keluhnya sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya yang masih kosong. Namun, tidak peduli seberapa keras ia berusaha untuk berhenti mengeluhkan semuanya, kepala Fikram tetap dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi di dalam hidupnya.


Seandainya, ia belajar lebih keras di masa muda, apa ia akan berhasil mendapatkan pekerjaan impian dan membuat keluarganya bangga? Seandainya, ia lebih berhati-hati memilih teman, apakah hubungannya dengan orang tuanya tidak akan pernah rusak? Seandainya ia tidak menikah dan tidak mempunyai anak, mungkin ia tidak harus menyiksa dirinya hanya untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa.


Jika saja ia dulu cukup berani untuk menolak tawaran pekerjaan ini, apa semuanya akan berbeda?


“Tidak.” Mendadak Fikram menampar dirinya sendiri. “Aku tidak ingin menyesali apa pun. Meskipun awalnya, aku memilih profesi ini karena keadaan yang mendesak. Tapi aku masih melakukannya sampai saat ini karena pilihanku sendiri. Tidak berhak untukku menyalahkan keadaan.”


Fikram bangkit dari posisinya. Sedikit berhati-hati agar tidak memberikan beban kepada bagian-bagian tubuhnya yang terluka. “Sekarang, apa yang sebaiknya aku lakukan?” Pria itu bertanya-tanya sambil berkacak pinggang. Menoleh ke sana kemari, meskipun pada akhirnya ia tetap terpaku menatap ke arah depan. Di mana dua gadis remaja terlihat sebagai titik di kejauhan. “Di atas sana sepertinya menarik. Apa aku ke sana saja?”


Dengan cekatan, Fikram mengeluarkan senjata tajam yang ia selipkan di bagian pinggang celananya. Memotong celana hitam panjangnya menjadi lebih pendek, dan mengikatkan bagian yang terpotong di luka-lukanya yang menganga.


Ia menggeram, merasakan sakit luar biasa yang belum pernah ia rasakan. Sebab meskipun berkecimpung di dunia hitam, Fikram selalu bermain aman dan memastikan sosoknya selalu tersembunyi di balik kegelapan. Ia tidak pernah menempatkan dirinya di posisi berbahaya.

__ADS_1


Sepertinya, kali ini prinsipnya itu tidak akan lagi ia pegang teguh.


***


__ADS_2