Monster In Me

Monster In Me
Tidak Ingin Lagi Menjadi Manusia


__ADS_3

Adira dan Firda bertemu di hari pertama masa orientasi Sekolah Menengah Pertama. Secara kebetulan berada di barisan siswa baru yang sama. Firda berdiri tepat di belakang Adira yang datang ke sekolah tanpa semangat.


Bagaimana ia bisa bersemangat, jika pada akhirnya ia hanya akan kembali menjalani kehidupan yang membosankan bersama orang-orang yang tidak akan pernah mengerti dirinya?


Adira telah bertekad untuk menyelesaikan SMA dengan tenang, sama seperti saat di SMP.


Benar. Pada akhirnya ia bisa lulus tanpa catatan buruk apa pun. Tentu saja berkat peran dari keluarganya yang ‘terhormat’.


Hingga tiba-tiba gadis dengan binar mata penuh semangat menepuk pundaknya dengan pelan.


“Hai! Aku Firda! Senang berkenalan denganmu!”


Hampir saja Adira mendengkus keras mendengar itu. Ia ingat, bagaimana terganggunya ia oleh kata-kata Firda. ‘Bagaimana dia bisa senang berkenalan denganku kalau dia sama sekali belum mengenal diriku?’


Namun, kemudian ia ingat permohonan Adnan yang begitu menginginkannya untuk memiliki teman. Oleh karena itu, dengan sangat terpaksa, Adira menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk senyuman yang mungkin terlihat aneh dan menyeramkan.


“Aku Adira. Semoga kita bisa menjadi teman sekelas nantinya.”


‘Karena aku tidak mau repot-repot berkenalan dengan siswa lain,’ tambah Adira di dalam hati.


Mulai dari situ, Adira mendapati bahwa Firda ternyata merupakan remaja yang sangat senang menjalin pertemanan. Bukan hanya dengan Adira, Firda menyapa banyak anak hingga mungkin puluhan siswa mengetahui namanya hanya dalam waktu satu hari. Itu semua merupakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa Adira lakukan.


Adira sendiri hanya terdiam setiap kali Firda mengajaknya untuk memperluas pertemanan. “Aku tidak butuh banyak teman,” jawab Adira dengan ketus setiap kali Firda memaksanya.


Mendengar itu, Firda akan tersenyum sangat cerah. Menganggap bahwa Adira merasa cukup hanya dengan berteman dengannya.


Mungkin karena itu, Firda memutuskan untuk menjadi teman terbaik hingga Adira mau mengakuinya sebagai sahabat.


Firda siap membela Adira setiap kali ada yang bicara buruk tentang temannya itu. Dalam pelajaran yang membutuhkan kelompok, Firda berusaha untuk mengajak banyak siswa lain agar mau berada di kelompok yang sama dengan Adira. Meskipun sang gadis merupakan salah satu siswi terpintar, seringkali sulit bagi Firda untuk menemukan anggota kelompok, sebab banyak orang merasa terintimidasi oleh Adira.


Meski hanya selalu diam dan menerima, Adira tahu betul semua yang telah Firda korbankan untuknya. Oleh karena itu, Adira tidak lagi menutup diri dan menerima Firda menjadi sahabatnya.

__ADS_1


Mengabaikan beberapa hal yang mengganjal hatinya.


Firda yang sudah terlanjur nyaman menjadi satu-satunya teman terdekat Adira, seringkali bersikap seenaknya. Ia mulai banyak menasihati, memerintah, bahkan mengendalikan pilihan Adira dengan dalih bahwa ia memiliki lebih banyak pengalaman berhadapan dengan orang lain dibandingkan Adira. Firda mulai menganggap bahwa Adira hanya akan terjebak masalah jika tidak ada dirinya.


“Aku sungguh hanya ingin memberikan coklat ini untuk Adira! Kenapa tidak boleh?” tanya Karsa saat OSIS di sekolah mereka merayakan hari Kasih Sayang di bulan Februari.


“Tidak boleh. Karena aku tahu kamu ada maksud tertentu!” Firda membentak sang pemuda sambil bersedekap dada. Berdiri membelakangi Adira yang lantas memusatkan konsentrasi hanya kepada buku di hadapannya.


Namun, tentu saja ia tidak bisa, karena pembicaraan Firda dan Karsa terdengar cukup keras.


Karsa membuang napas dengan kasar sebelum menendang meja di dekatnya. “Tentu saja aku punya tujuan! Aku ingin memperlihatkan perhatianku kepadanya melalui coklat ini!” protes sang pemuda. “Sekarang, bisakah kamu menyingkir dan biarkan aku berhadapan dengan Adira secara langsung? Terserah dia apakah dia akan menerima coklatku atau tidak. Mau sampai kapan kamu bertindak seperti pengawalnya?”


Wajah Firda memerah saat ia menoleh ke belakang untuk meminta tanggapan Adira. Adira yang lelah hanya bisa mengendikkan bahu. Sepenuhnya ingin mengabaikan Karsa, Firda, serta teman-teman lainnya yang tengah menyaksikan semuanya.


Meskipun jauh di dalam hati, Adira mulai merasa senang. Sikap Firda yang suka mengekang memang terkadang menyesakkan, tetapi Adira pikir Firda memang terlalu menyukai dirinya sebagai teman hingga bersikap seperti itu.


‘Rupanya Kak Adnan benar. Tidak ada salahnya berteman dengan orang lain.’


Ternyata, butuh sebuah serangan zombie untuknya menyadari, bahwa pertemanan sejati itu tidak pernah ada.


Tergambar jelas di dalam ingatannya, bagaimana Firda meninggalkannya tanpa ragu di saat ia sangat membutuhkan bantuan. Di saat ia sangat putus asa, karena kakak kesayangannya tengah meregang nyawa tidak jauh darinya.


Semua manusia sama saja.


Mulai dari Irwan, ayahnya, yang hanya mementingkan nama baiknya sendiri serta kekuasaan miliknya, hingga Firda yang ternyata selama ini hanya berpura-pura bersikap layaknya teman baik.


Semua manusia sama saja.


Mereka hanya akan bergerak berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Adira baru menyadari, bahwa Firda sengaja memonopoli dirinya yang cukup populer agar Firda sendiri ikut tenar.


Semua manusia sama saja.

__ADS_1


Menyakiti sesama manusia dengan berbagai cara. Baik secara langsung, maupun tidak langsung. Secara fisik, maupun mental. Sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan.


Kini Adira melirik satu kali lagi ke arah Firda yang tidak lagi bergetar ketakutan. Sepertinya, posisi Adira yang terikat kuat membuat ketakutan Firda sirna. Gadis yang telah Adira anggap sebagai mantan sahabat itu kini menatapnya tanpa ekspresi.


Adira bersumpah bahwa ia sempat melihat salah satu sudut bibir Firda tertarik ke atas.


‘Kak. Aku tarik kembali ucapanku.’ Adira memejamkan mata sambil membayangkan sosok Adnan. ‘Kakak salah. Aku tidak butuh berteman. Hidup sambil berhubungan dengan orang lain itu merepotkan dan mengerikan. Manusia adalah makhluk yang paling berbahaya karena isi hati mereka tidak mudah ditebak.’


Saat Adira kembali membuka mata, ia melihat semua orang yang masih menatapnya. ‘Mereka semua bersatu hanya karena ketakutan. Sedikit saja nyawa mereka terancam, mereka tidak akan segan-segan mengorbankan orang lain. Untuk apa hidup bersama makhluk hina seperti itu? Aku tidak ingin lagi menjadi makhluk yang sama seperti mereka.’


Air mata menetes dari sudut kedua mata sang gadis, tetapi kedua tangannya masih tertahan sehingga tidak dapat mengusapnya. Akhirnya, Adira hanya bisa pasrah membiarkan wajahnya basah oleh air mata selagi ia menertawakan dirinya sendiri.


Berbeda dengan ekspresinya saat ini, sesungguhnya Adira sangat ingin menertawakan dirinya. Ia mulai menyadari betapa konyol dirinya yang semula menganggap bahwa ia telah menjadi monster karena tertular virus asing dari zombie.


Padahal kenyataannya, sejak dulu ia memang manusia yang menanggung banyak frustrasi. Mencari kesempatan untuk bertindak agresif tanpa penghalang.


Mencari kesempatan untuk memusnahkan semuanya.


Dan sekarang, ia akan melakukannya. Dengan atau tanpa terinfeksi zat Alpha Cerebrum.


Brak!


Gadis itu membantingkan tubuhnya hingga ikatannya terlepas begitu saja. Menyisakan luka gores yang cukup parah di pergelangan tangan dan kakinya. Namun, Adira tidak peduli. Ia mengambil benda terberat yang bisa ia angkat di dekatnya, dan mulai melemparkannya ke hadapan Danita dan para remaja seusianya.


Zean melompat untuk menahan pergerakannya, tetapi Adira menghindar dengan lebih cepat.


Wajah semua orang menegang, melihat Adira menyeringai.


“Akan kubunuh kalian semua!”


***

__ADS_1



__ADS_2