
“Tidak bisa,” jawab Zean sambil merangkul erat Helsa yang kini berdiri di belakangnya. Gadis itu membawa ransel yang menjadi rebutan di punggungnya. “Adikku sakit. Ransel itu berisi berbagai obat yang ia butuhkan. Obat-obat itu tidak akan ada gunanya untukmu.”
“Benar.” Taka menggaruk kepalanya menggunakan pergelangan tangannya yang masih memegang pecahan kaca besar. “Tapi aku sudah melihat semuanya. Ransel itu tidak hanya berisi obat-obatan. Benar, kan?”
Tubuh Zean lantas menegang mendengar itu. Di dalam hati ia lantas merutuki dirinya sendiri. ‘Bodoh! Sudah tahu kalau ada yang mengikuti, tapi kenapa aku mengeluarkan semua makanan itu tadi? Seakan aku memang sengaja memancing predator untuk datang.’
Dengan susah payah Zean mempertahankan ekspresinya agar tetap terlihat berani meskipun kekhawatiran kini mulai memenuhi benaknya. Tubuhnya masih belum pulih benar sejak ia jatuh pingsan karena tertimpa reruntuhan. Belum lagi perjalanan melelahkan yang baru saja ia tempuh sambil menggendong Helsa serta barang-barang lainnya. Zean ragu, apakah ia masih mempunyai cukup tenaga jika ia harus berkelahi dengan pemuda di hadapannya.
Terlihat jelas bahwa Taka merupakan siswa SMA. Sebab meskipun pemuda itu telah mengganti celana abu-abunya dengan celana jin hitam, Taka masih mengenakan kemeja putih dengan lambang khas di bagian saku. Ia hanya menutupinya dengan sebuah jaket hitam yang terlihat baru.
Namun, tetap saja Zean merasa harus waspada. Ekspresi Taka saat ini menyerupai singa kelaparan, yang rela melakukan segalanya demi bisa menangkap mangsa. Zean harus berhati-hati dalam bertindak. Jika sampai salah langkah, bisa-bisa Helsa ikut terluka.
‘Apa aku berikan saja ransel kami? Tapi Eca membutuhkan semua itu. Menyerahkannya sama saja dengan menyerahkan nyawa Eca.’ Zean mendesah keras.
“Tik, tok, tik, tok,” ucap Taka tiba-tiba sambil menunjuk pergelangan tangannya yang kosong. “Waktu terus berjalan, Tuan Keren. Aku tidak sesabar itu untuk terus menunggu.”
Zean bisa merasakan Helsa berdiri merapat di belakangnya. Tubuh sang gadis semakin bergetar saat Taka kembali mengulurkan pecahan kaca besar ke depan wajah Zean. Zean sama sekali tidak bergerak bahkan saat ujung kaca itu menggores bagian dagunya.
Taka tersenyum saat Zean mendorong tangannya menjauh dan menatapnya tajam.
“Ambil saja kalau bisa.”
__ADS_1
Dalam sekejap mata Zean mencekal dan memelintir tangan Taka. Membuat remaja itu mengaduh dan terpaksa melepas senjatanya begitu saja. Denting suara beling yang jatuh membentur jalanan seakan menjadi bel tanda dimulainya aksi sang aktor. Zean menerjang tubuh Taka tepat saat sang pemuda hendak melayangkan bogem mentah ke arahnya.
Helsa menjerit lalu berjongkok sambil menutup erat kedua mata dan telinganya. Seumur hidup, gadis itu tidak pernah melihat orang lain bertengkar apalagi sampai beradu tinju. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan, mengkhawatirkan keselamatan kakaknya yang sudah banyak menderita sejak kemarin.
Sadar bahwa posisi mereka belum aman sepenuhnya, Helsa akhirnya membekap mulutnya sendiri. Mencegah dirinya mengeluarkan suara apa pun yang dapat membuat nyawa mereka semua terancam. Kakaknya sudah cukup kerepotan menghadapi Taka yang menyebalkan, jangan sampai ia juga harus menghadapi zombie.
Sementara itu, di luar dugaan, Zean dapat mengunci pergerakan Taka dengan cukup mudah. Ia kini menimpa tubuh sang pemuda, menahan kedua tangannya agar tidak bisa menyerangnya. Taka mengerang sambil terus mencoba untuk memberontak.
“Sial! Kamu tidak terlihat seperti seseorang yang bisa berkelahi!” keluh Taka sambil mendongak. Berusaha melemparkan tatapan tajamnya ke arah Zean. “Akh! Aku tidak bisa merasakan tanganku! Kasihanilah aku sedikit saja! Aku cuma seorang anak yang kelaparan!”
Ekspresi wajah Zean yang sempat mengeras lantas sedikit melembut. “Aku tahu. Aku bisa melihat seragammu dengan jelas.” Tanpa benar-benar melepaskan Taka dari pegangannya, Zean bangkit dan berjongkok di sisi sang pemuda. Ia memutar sedikit bahunya yang terasa ngilu sebelum kembali berbicara. “Tapi entah kenapa aku tidak suka melihatmu. Kamu berbahaya untuk kami.”
“Berbahaya bagaimana?” tanya Taka sambil merengek. “Ibu! Ayah! Aku kesakitan!”
Akhirnya, meski dengan terpaksa, Zean melepaskan Taka. Namun, sebelumnya ia menarik pemuda itu hingga menjauh dari Helsa. “Sekarang, pergilah! Jangan sampai aku melihatmu lagi!” titahnya dengan tegas.
Dalam posisi berlutut Taka menempelkan kedua telapak tangannya di depan tubuh. “Baiklah, terima kasih banyak, Tuan!”
Zean mendengkus keras dan berbalik. Secepat mungkin ia menghampiri Helsa yang masih berjongkok ketakutan.
Tidak sedikit pun ia menyadari Taka yang tersenyum sinis sambil melemparkan sesuatu ke arahnya.
__ADS_1
“Argh!” Zean mengaduh kesakitan sambil memegang kepalanya yang kembali basah oleh darah. Perban yang sempat dipasangkan seadanya oleh Helsa kini terbuka. Semua gara-gara potongan kayu yang menghantam kepalanya tadi.
Dengan segera Zean berbalik. Kedua matanya membelalak melihat Taka kini memegang bongkahan batu sebesar kepalan tangan di kedua tangannya.
“Tidak ada yang boleh memperlakukanku seenaknya!” teriak Taka sambil tertawa keras. “Orang-orang menyebalkan seperti kalian sebaiknya enyah saja dari dunia ini!”
Taka sudah gila. Zean menyadari hal itu. Maka, tanpa menanggapi pemuda tidak waras itu lebih lanjut, Zean berlari menghampiri Helsa, dan mengenakan ranselnya di salah satu pundak. “Kita harus segera pergi! Eca, ayo, naik lagi ke punggung Kakak!”
Helsa yang baru berani membuka matanya kembali setelah mendengar suara sang kakak lantas mengerutkan kening. “Mau ke mana, Kak? Bukannya kita lebih aman di sini?”
Tanpa menjawab, Zean mengarahkan menggendong adiknya dan berlari. Hampir saja ia tidak mampu menghindari bongkahan batu yang kini menghantam jalanan tepat di belakang kakinya.
Tepat setelah mereka keluar dari balik patung kura-kura raksasa, mereka disambut tatapan serta raungan mengerikan dari para zombie yang tampak mulai berkumpul akibat kebisingan yang Zean dan Taka sebabkan. Dengan mengerahkan segala kemampuan serta pengalamannya saat membintangi film aksi dulu, Zean berlari sambil menghindari para zombie yang hendak meraih mereka berdua. Sementara itu, hujan batu dari Taka masih saja berlangsung.
“Dasar tidak waras! Apa dia tidak takut diserang zombie juga?” Zean bertanya-tanya sambil mengambil sebuah tangga panjang yang tergeletak di dekatnya. Ia menggunakan tangga itu sebagai perisai sementara mereka menerobos gerombolan zombie. Tenaganya terkuras cepat oleh beratnya bobot para mayat hidup yang harus ia dorong, tetapi adrenalin meningkat di dalam dirinya membantunya untuk menjadi jauh lebih kuat.
Entah sejak kapan Helsa turun dan membantunya di sisinya. Adik kecilnya itu bahkan melepaskan jaketnya guna menutup mulut salah satu zombie yang telah menganga ke arah mereka. Zean ingin melarang Helsa untuk melakukan apa pun lebih dari itu, tetapi ia sendiri juga sedang kewalahan.
Jumlah zombie yang menghampiri mereka dari segala arah semakin bertambah. Sebisa mungkin Zean menghalau semuanya agar tidak menyentuh Helsa. Meskipun rasa putus asa mulai menghampiri benaknya.
Hingga suara tawa Taka terdengar menggema di belakang mereka.
__ADS_1
“Butuh bantuan?”
***