Monster In Me

Monster In Me
Siapa yang Salah?


__ADS_3

Irwan melangkah pasti melewati koridor dan berdiri di depan pintu kamar Adnan yang tidak tertutup rapat. Ia bisa melihat sang pemuda tengah menatap layar ponselnya dalam diam. Posisi Adnan yang memunggungi pintu masuk membuat Irwan tidak bisa melihat ekspresi putranya dengan jelas. Namun, getaran pada kedua pundak pemuda itu menunjukkan bahwa Adnan tengah menangis tanpa suara.


Tanpa membuang waktu lagi, Irwan berdeham dan melangkah masuk. Refleks Adnan berbalik dan menatap sang ayah penuh tanya. “Apa dari pihak kepolisian tidak ada yang menghubungi kita, Ayah? Atau pihak sekolah? Aku terus mencari berita yang mengabarkan situasi terkini taman bermain, tapi aku tidak kunjung menemukannya.” Suara Adnan terdengar bergetar, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang memancarkan tekad luar biasa. Pemuda itu pasti telah berhasil menguatkan dirinya untuk tetap tegar menghadapi situasi saat ini.


Seharusnya Irwan merasa bangga menyaksikan bagaimana ia telah berhasil mendidik Adnan menjadi seorang kakak laki-laki yang kuat secara fisik dan mental juga sangat menyayangi adiknya, Adira. Namun, Irwan sama sekali tidak tampak senang dengan itu semua. Kedua bibirnya bahkan tidak pernah menyunggingkan senyum tipis satu kali pun. Pria itu hanya berjalan lurus menghampiri Adnan dengan kedua tangan terkepal.


Hingga saat jaraknya dengan sang anak sudah cukup dekat, kapalan tangan Irwan menghantam rahang Adnan dengan keras. Pemuda itu lantas mengerang kesakitan sambil memegang rahangnya yang terkena pukulan, sementara tangannya yang lain menyangga tubuhnya yang hampir jatuh terbaring.


“Apa lagi salahku kali ini?” tanya Adnan dengan suara nyaring. Menatap ponselnya yang kini tergeletak di atas lantai selama beberapa detik sebelum kembali memelototi sang ayah. “Tidak ada waktu untuk menghabisiku sekarang, Ayah. Kita seharusnya mengerahkan seluruh waktu dan tenaga untuk menemukan cara menyelamatkan Adira!”


Irwan mendengkus sambil mengibaskan tangannya yang telah ia pakai untuk meninju Adnan. Usianya yang tidak lagi mudah membuatnya dengan mudah merasa kebas dan kesemutan. Padahal, sejak dulu, ia sudah sangat terbiasa menghukum sang anak laki-laki dengan cara yang sama. “Kalau saja sejak awal kamu tidak pernah menentang aturan Ayah, semua ini tidak akan terjadi.”


Adnan sontak membelalakkan mata mendengar itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sang ayah akan bersikap kekanak-kanakan dengan menumpahkan semua kesalahan kepadanya. Seolah  semua ini belum cukup untuk menyiksa Adnan. Seolah Adnan tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri karena telah lalai menjaga Adira.

__ADS_1


“Kenapa kamu menatap Ayah seperti itu?” tanya Irwan sambil beranjak dan duduk di atas ranjang Adnan. Bersedekap dada dengan kedua mata tidak berhenti menatap Adnan tajam. “Apa kamu sudah lupa tentang apa yang kamu lakukan di hari itu? Kalau begitu, biar Ayah ingatkan satu kali lagi.”


“Tidak perlu,” jawab Adnan cepat. Ia sungguh masih mengingat semuanya. Irwan tidak perlu menambahkan garam kepada luka yang Adnan derita.


Namun, bukan Irwan namanya jika ia mampu mendeteksi penderitaan sang anak dengan baik. Irwan selalu berpikir bahwa anak remaja adalah pembangkang yang harus dihadapi dengan ketegasan dan kekerasan. Dalam hal ini, Irwan tidak akan berhenti membeberkan semua kelemahan Adnan sebelum anak sulungnya itu benar-benar terlihat tersiksa oleh keadaan.


“Ayah masih ingat bagaimana kamu mendatangi Ayah dengan angkuhnya di hari itu.” Irwan mulai bercerita sambil mengawasi perubahan ekspresi Adnan yang masih duduk lemas di atas lantai. “Kamu bilang Ayah telah melakukan kesalahan dalam mendidik Adira sehingga membuat adikmu itu gila belajar dan jarang bermain dengan teman seusianya.”


Irwan menggelengkan kepala dengan wajah merengut. “Kamu tahu? Ayah hanya selalu menuntut kesempurnaan darimu. Karena biar bagaimanapun, kamu anak laki-laki tertua serta satu-satunya di rumah ini. Kamu harus tumbuh dan berkembang dengan maksimal,” ucap pria itu sambil bangkit. Perlahan ia berjalan mendekati Adnan. “Tidak pernah satu kali pun Ayah menuntut hal yang sama dari adikmu. Adira sendiri yang ingin menjadi sempurna karena ia tumbuh dengan melihatmu sebagai panutan. Jadi, Ayah tidak perlu bersusah payah.”


Adnan bisa merasakan bagaimana tenggorokannya tercekat mendengar semua itu. Selama ini ia tidak pernah tahu bahwa secara tidak langsung ia telah membantu sang ayah untuk membentuk kepribadian Adira. Irwan tidak pernah mendidik Adira dengan keras, tetapi Adira melihat bagaimana konsekuensi yang Adnan dapat dari Irwan setiap kali ia tidak memenuhi ekspektasi sang ayah. Adira tidak pernah dituntut menjadi sempurna, tetapi gadis itu menyaksikan bagaimana kesempurnaan membuat Adnan terlihat begitu bersinar, tanpa menyadari bahwa semua itu hanya di permukaan.


Sesungguhnya Adnan terus tenggelam dalam kegelapan tidak berujung. Ia terbiasa hanya berjalan di atas jalur yang telah dipersiapkan sang ayah hingga tidak tahu lagi tujuan sesungguhnya yang ia inginkan. Adnan tidak bisa meneruskan hidup tanpa tuntutan sang ayah yang selalu ia jadikan patokan setiap kali menentukan suatu pilihan. Pemuda itu merasa tidak menjadi manusia utuh yang memiliki kehendak bebas sendiri.

__ADS_1


Adnan tidak ingin Adira berubah menjadi sepertinya. Oleh karena itu, setelah mendengar bahwa sekolah mereka kembali mengadakan karya wisata untuk merayakan kenaikan kelas para siswa kelas 10 ke kelas 11, Adnan pergi menemui Irwan seorang diri. Mengerahkan segala kemampuan otak dan lidahnya untuk bernegosiasi dengan sang ayah. Pemuda itu terus menyampaikan berbagai manfaat yang akan Adira dapat jika mengikuti karya wisata. Ia bahkan membanding-bandingkan kehidupan sosial Adira dengan gadis seusia adiknya itu. Sesungguhnya Adira cukup terlihat kesulitan berbaur dengan remaja lainnya karena sikapnya yang tertutup dan lebih menyukai kegiatan belajar daripada bermain.


“Kamu bilang Adira menjadi penyendiri dan bersikap tertutup karena Ayah. Ayah bilang itu hanya sementara, karena kamu juga dulu seperti itu. Tapi kamu tetap bersikeras untuk membuat adikmu pergi bermain bersama teman sebayanya.” Irwan berkata dengan tenang. Seolah semua kepanikan dan kemarahan yang baru saja ia rasakan tidak pernah menghinggapi dirinya. “Ayah terpaksa mengabulkan permintaanmu karena kamu bilang kamu akan lebih berusaha untuk mendapatkan nilai sempurna pada seluruh mata pelajaran di ujian nanti.”


“Dan aku benar-benar bertekad untuk mewujudkannya!”


“Apa kamu yakin? Meskipun mungkin kamu tidak akan pernah bertemu dengan Adira lagi karena kesalahanmu sendiri?”


Pertanyaan Irwan begitu menusuk. Menancap tajam ke dalam lubuk hati Adnan dan menyerap seluruh kekuatan yang tersisa. Tatapan pemuda itu kini terlihat kosong. Kedua tangannya bergetar, tetapi ia tidak tahu ke mana ia harus menempatkan tangannya. Apakah ia harus mengusap dadanya yang terasa nyeri dan sesak? Atau ke matanya yang mulai dibayangi air mata? Atau mungkin seharusnya ia melemparkan benda berat terdekat ke arah sang ayah.


Belum sempat ia melakukan apa pun saat Irwan beranjak keluar kamar. “Cepat bersiap. Kita akan segera pergi menjemput Adira!”


***

__ADS_1


__ADS_2