Monster In Me

Monster In Me
Uji Nyali di Ketinggian


__ADS_3

“Sampai kapan kita harus berjalan seperti ini? Kamu tahu, kan, aku takut ketinggian?” protes Firda sambil memegang kedua lututnya yang bergetar. Sejenak ia berhenti berjalan, tanpa memedulikan jaraknya dengan Adira yang berada di depannya semakin menjauh.


“Jangan bohong! Kamu suka naik Bianglala, dan Roller Coaster. Bagaimana mungkin kamu takut berada di tempat tinggi.” Adira menyanggah dengan santai. Langkahnya perlahan, tetapi pasti. Menapaki permukaan dinding tebal yang berdiri di perbatasan luar Taman Bermain Cakrabuana. Sedikit berhati-hati karena dinding itu basah oleh hujan yang sempat turun beberapa waktu lalu.


Gadis itu melihat ke sebelah kanan. Menyadari bahwa Taman Bermain masih terlihat indah jika ia hanya melihatnya sekilas. Namun, jika ia menatap sedikit lebih lama, akan terlihat cukup jelas, bagaimana tempat wisata yang seharusnya tampak indah dan menyenangkan itu kini berubah mengerikan. Beberapa wahana serta pepohonan terguling, asap membumbung di banyak titik, hingga berbagai noda yang mengotori jalan dan setiap jengkal Taman Bermain. Belum lagi orang-orang yang bergerak dengan pergerakan tidak biasa. Berteriak, menerjang benda hidup maupun tidak hidup, hingga meronta-ronta di tempat tanpa diketahui penyebabnya. Adira menghela napas berat dengan tatapan sendu.


Sementara itu, jika ia melihat ke sisi kiri, ia disuguhi pemandangan sepi lahan parkir Taman Bermain Cakrabuana. Berbagai kendaraan roda empat masih berdiam dengan rapi di sana. Siapa pun yang melihat semua itu tidak akan pernah menyangka bahwa sebagian besar dari manusia yang semula mengendarai semua mobil itu kini tidak lagi dapat membedakan mana makanan dan mana yang bukan. Mereka tidak lagi memiliki akal untuk tetap bersikap selayaknya manusia.


“Sampai kapan kita harus berjalan di sini?” Suara Firda terdengar pelan dan menyedihkan. “Aku bahkan tidak berani untuk duduk saking sempitnya dinding ini. Aku takut akan terjatuh!”


“Ketebalan dinding ini hampir mencapai setengah meter. Kita bisa duduk dengan aman,” jawab Adira ketus. Namun, ia tetap berbalik guna memastikan keadaan sang sahabat. “Kalau lelah, kita bisa istirahat dulu.”


Tanpa berbasa-basi, Firda langsung mendaratkan bokongnya dan duduk di atas dinding itu. “Hah … kalau dipikir-pikir, kita ini konyol sekali. Bisa naik tapi gak bisa turun.”


“Siapa yang sangka kalau situasi di luar dinding ini akan sangat kosong? Kupikir setidaknya akan ada pohon besar untuk membantu kita turun atau semacamnya,” keluh Adira sambil duduk menghadap Firda. “Lihat! Bahkan kendaraan-kendaraan besar diparkir di sisi lain. Padahal kalau cukup dekat, kita bisa melompatinya meskipun tetap dengan risiko patah tulang.”


“Astaga! Mudah sekali kamu bicara seperti itu.”

__ADS_1


“Tentu saja. Saat ini tidak ada yang lebih mengerikan bagiku selain para zombie itu.” Tubuh Adira bergetar hebat, ia sampai harus memeluk erat dirinya sendiri untuk menenangkan diri. “Berjanjilah kepadaku. Jika sampai aku tertangkap oleh mereka, kamu harus lari sejauh mungkin. Jangan pernah lihat ke belakang!”


Firda sempat terkejut mendengar itu. Kedua matanya terbuka lebar, dengan mulut sedikit menganga. Gadis itu tidak sanggup memberikan tanggapan apa pun dan hanya terdiam sambil merenung. Memikirkan bagaimana dirinya yang tidak bisa langsung mengatakan ‘tidak’ setelah mendengar permintaan Adira.


Mungkin karena jauh di dalam benak Firda, ia memang sudah berniat untuk menomorsatukan dirinya sendiri. Meskipun sejauh ini ia selalu siap untuk bekerja sama dan saling menjaga dengan Adira, tetapi Firda selalu memperhitungkan segalanya. Ia hanya akan bertindak jika ia rasa risikonya tidak terlalu besar.


Perasaan bersalah mulai mengikat dadanya hingga ia sempat terbatuk karena kesulitan bernapas. Firda kini menyadari bahwa ia bukanlah seorang sahabat ideal yang mampu mengorbankan segalanya untuk Adira. Biar bagaimanapun, ia juga mempunyai keluarga yang sangat ingin ia temui saat ini. Tidak mungkin baginya mengorbankan kesempatannya untuk kembali pulang ke rumah hanya untuk seorang sahabat yang belum tentu akan terus bersamanya sepanjang hidup.


Akhirnya, Firda menganggukkan kepala. “Baiklah. Kamu juga harus melakukan hal yang sama,” jawabnya dengan tegas.


Matahari masih bersinar dengan terik. Posisi mereka yang berada di tempat tinggi membuat kedua gadis itu semakin tersiksa oleh panas yang menyengat setiap jengkal tubuh mereka. Berkali-kali Adira menyingkirkan tetesan keringat yang mengalir di pelipis maupun lehernya. Mereka tidak boleh terus berdiam seperti ini, apalagi dengan tidak adanya air untuk diminum. Bisa-bisa mereka pingsan karena dehidrasi.


“Ayo, jalan lagi!” ajak Adira sambil bangkit dari posisinya. Ia sedikit mengerang saat merasakan kedua kakinya begitu pegal dan kehilangan banyak tenaga. “Mungkin saja kita akan segera menemukan sesuatu untuk kita turun.”


“Aku ragu kita akan menemukan sesuatu. Tapi kita tidak punya pilihan lain, kan?” Firda menghembuskan napas berat. “Kenapa mereka membangun benteng berlapis seperti ini? Seandainya dindingnya hanya ada satu, kita hanya perlu berteriak untuk menarik perhatian warga yang lewat.”


“Setidaknya di sini kita tidak perlu mengkhawatirkan zombie.”

__ADS_1


Tepat setelah Adira mengatakan itu, sebuah batu seukuran ibu jari menghantam keningnya. Menimbulkan goresan merah yang dekat dengan alis kanannya. Gadis itu meringis sambil kembali berjongkok. Kedua matanya yang refleks menutup membuatnya takut hilang keseimbangan dan berakhir terjatuh.


“Ada apa? Kenapa?” Firda yang tidak melihat dengan jelas apa yang terjadi kebingungan melihat Adira yang kesakitan. Ia segera menghampiri sahabatnya itu, tetapi sebuah batu lain juga menghantam tangannya.


Rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya membuatnya menjerit dan hampir terjungkal ke belakang. Beruntung, Adira dengan sigap meraih tangannya dan menariknya ke dalam posisi duduk.


“Apa itu tadi?” tanya Firda sambil berteriak. Ia mengibaskan tangan kanannya yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit. Namun, tetap saja ia merasa sangat kesal. “Siapa yang berani-berani melempar batu ke arah kita? Tidak mungkin zombie, kan?”


“Merunduk!” titah Adira. Ia berlutut lalu menunduk sedalam mungkin sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


Terburu-buru Firda meniru posisi Adira, tepat di samping sang gadis. Ia terus menjerit saat merasakan banyak batu lainnya mengarah ke mereka. Suara yang dihasilkan benda keras itu saat membentur dinding membuatnya semakin panik. “Hentikan! Kumohon hentikan!” teriaknya, entah kepada siapa.


Rasa putus asa kembali menyerang kedua gadis itu. Bagaimana tidak? Setiap kali mereka merasa cukup tenang dan nyaman di tempat yang jauh dari para zombie, selalu ada kejadian yang memaksa mereka untuk kembali waspada, atau lebih buruk, membuat mereka kembali tersiksa. Seperti saat ini. Adira dan Firda hanya bisa diam dan pasrah sementara tubuh mereka terus dihujani batu oleh penyerang yang tidak mereka ketahui.


Masih dalam posisi merunduk, Adira memaksa otaknya untuk berpikir. “Apa mungkin ada zombie yang cukup pintar untuk menyerang kami yang diam di atas sini?”


***

__ADS_1


__ADS_2