
“Kenapa Kakak selalu melakukan itu? Hentikan! Aku ngeri melihatnya!” protes Adira yang tengah bersantai sambil berbaring di atas tempat tidur Adnan.
Adnan berbalik dari posisinya yang duduk di depan meja belajar. “Melakukan apa?” tanya pemuda itu kebingungan.
Adira menggeram kesal. “Tadi saat di kantin, Kakak dengan mudahnya memukul semut di atas meja. Lalu Kakak juga menyingkirkan kadal yang melewati pekarangan rumah kita dengan menginjaknya! Bukankah Kakak bisa mengusirnya saja? Nyawa binatang juga sama berharganya dengan nyawa kita,” protes sang gadis. Masih dalam posisi telentang, menatap langit-langit kamar Adnan yang berwarna abu gelap dengan kening berkerut. Kedua tangannya terayun ke sana kemari mengiringi setiap kata yang ia ucapkan.
Sementara itu, Adnan yang tidak sepenuhnya mengerti alasan di balik kekesalan Adira saat ini hanya bisa mengendikkan bahu. “Entahlah. Kakak hanya menyingkirkan hal-hal yang Kakak pikir akan mengganggu kenyamanan. Bukankah kamu juga tidak suka hewan?”
“Tapi bukan berarti aku ingin mereka mati!”
“Memangnya kenapa? Kakak juga selalu memastikan mereka langsung mati di tempat dan bukannya mati perlahan-lahan.”
“Tapi, itu ….” Adira sontak bangkit dan terduduk sambil meremat rambutnya frustrasi. Ia memang tidak pernah menang berdebat dengan kakaknya. “Ah, sudahlah! Terserah Kakak saja! Cukup pastikan jangan pernah melakukan hal-hal seperti itu lagi di depanku!”
Bukannya mengangguk atau mengiyakan permintaan Adira seperti biasanya, Adnan kini justru bangkit dan berjalan mendekati sang adik. Adira refleks bergeser, menyediakan tempat untuk kakaknya duduk. Namun, Adnan memilih duduk berseberangan dengan Adira, bukannya di sampingnya.
“Adira, dalam hidup, kamu tidak bisa selalu menghindari hal-hal yang tidak kamu sukai,” ujar Adnan sambil menatap kedua mata Adira. “Tindakan pengecut itu harus disingkirkan sedikit demi sedikit agar bisa menghilang sepenuhnya.”
Adira yang tidak mengerti lantas merengut. “Apa Kakak sedang mengejekku?”
“Tidak, bukan begitu,” sanggah Adnan cepat. “Sama sepertimu, Kakak juga punya banyak hal yang Kakak takuti maupun tidak sukai. Tapi Kakak sadar, bahwa tidak seharusnya kita dikalahkan oleh ketakutan kita sendiri.”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti.” Jari-jari Adira tampak meremat ujung bantal di dekatnya dengan gelisah. “Bukankah rasa takut ada untuk menjaga kita? Kalau manusia tidak punya rasa takut, mereka tidak akan menjauh dari bahaya. Jadi, kenapa harus disingkirkan?”
Sejenak Adnan terdiam. Sejak dulu, ia selalu tahu bahwa Adira selalu menomorsatukan logika di atas semua hal. Keingintahuan sang gadis pada setiap hal juga membuatnya seringkali melontarkan pertanyaan yang cukup sulit untuk Adnan jawab. Bukan karena pemuda itu tidak mampu, tetapi terkadang ia harus berhati-hati agar dapat menyampaikan jawaban yang tepat sesuai situasi.
Oleh karena itu, Adnan sempat kesulitan menyusun kata-kata untuk ia ucapkan. “Begini … kamu tahu, kan, kalau Kakak itu sebenarnya takut melanggar perintah Ayah? Kalau Kakak itu selalu takut dipukuli sampai babak belur jika sampai Kakak mengecewakannya?”
“Ya, aku tahu. Dan aku selalu heran setiap kali Kakak justru tampak sengaja memancing amarah Ayah,” jawab Adira sambil berdecak kesal.
“Itu karena Kakak tahu bahwa posisi Ayah berada jauh di atas Kakak. Bahwa kemampuan Kakak belum mencukupi untuk Kakak melawan Ayah. Karena itulah, Kakak terima saja dipukuli maupun diinjak, karena itulah takdir makhluk yang lebih lemah.”
Penjelasan dari Adnan sama sekali tidak membantu Adira untuk lebih memahami semuanya. Gadis itu justru semakin kebingungan. Tanpa sadar ia terus mencondongkan tubuh ke arah kakaknya. “Tapi Kakak bukanlah makhluk lemah. Kakak jauh lebih kuat dariku.”
“Kenapa bawa-bawa jenis kelamin—”
“Pada intinya ….” Adnan menyela ucapan Adira. “Setiap benda maupun makhluk di dunia ini memiliki posisinya masing-masing. Yang lebih tinggi mengalahkan yang lemah. Sama seperti saat Ayah menindasku, atau saat aku membunuh hewan kecil. Bahkan Ibu memotong kepala ikan dan memasaknya karena Ibu mempunyai kekuatan untuk itu,” jelasnya panjang lebar.
Pemuda itu lantas terkekeh saat melihat wajah Adira merengut. Gadis itu pasti tidak pernah menyangka bahwa sebuah protes sederhana darinya bisa membuat mereka membicarakan topik yang lebih luas dan lebih sulit dimengerti. Perlahan, Adnan menepuk puncak kepala adik perempuannya itu. “Kelak kamu pasti memahami apa maksud Kakak. Untuk saat ini, hanya ada satu hal yang harus kamu lakukan. Yaitu untuk menjadi lebih kuat. Karena dengan begitu, kamu boleh melakukan apa pun kepada yang lebih lemah.”
“Aku hanya ingin menikmati hidupku sendiri dengan damai. Tidak pernah satu kali pun aku berniat untuk menjadi yang terkuat atau semacamnya,” celetuk Adira dengan bibir mengerucut.
Tawa Adnan semakin keras dibuatnya. “Oke, Kakak mengerti maksudmu. Kamu tidak perlu melakukan apa pun, karena kamu punya Kakak yang akan selalu siap melindungimu dari apa pun itu.”
__ADS_1
“Iya, deh, iya. Aku benar-benar beruntung punya Kakak laki-laki yang bisa diandalkan,” ucap Adira setengah hati.
Adnan lantas berpura-pura sakit hati dengan mengusap dadanya sendiri dan memasang raut sedih. Namun, pemuda itu justru mendapatkan hadiah berupa lemparan bantal dari sang adik.
Mengingat setiap kenangannya dengan Adira selalu berhasil membuat Adnan tersenyum. Bahkan di saat tubuhnya kini dipenuhi luka karena harus memanjat pohon dan dinding, serta melompat dari ketinggian, Adnan masih bisa berlari dengan kekuatan penuh. Seluruh energinya seolah bertambah puluhan kali lipat setiap kali ia ingat bahwa ia melakukan semua ini demi memenuhi janjinya kepada Adira.
“Benar-benar kosong. Sepertinya keributan di luar gerbang masuk tadi menarik perhatian seluruh zombie yang ada di dekat sini,” gumamnya sambil tetap mengamati sekitar dengan waspada. Saat ia menempuh perjalanan kemari dengan menumpang mobil sang ayah, Adnan menghabiskan waktunya dengan menonton setiap video kerusuhan Taman Bermain Cakrabuana yang bisa ia temukan di internet. Mulai dari video yang diunggah kanal resmi milik pemerintah maupun kanal-kanal asing dengan kualitas video yang buruk. Semua itu membuatnya lebih mengetahui apa yang tengah terjadi dan dapat bersiap dengan lebih baik.
Seperti saat ini, Adnan tahu bahwa ia tidak boleh mengeluarkan suara yang lebih nyaring daripada suara speaker rusak yang masih berusaha mengalunkan lagu Taman Bermain di sekitarnya. Meskipun situasi di sekitar terlihat aman, Adnan tetap berusaha untuk menyembunyikan sosoknya di balik setiap benda besar yang ia temukan.
“Taman Bermain ini sungguh terlihat kacau. Apa benar ini perbuatan manusia?” Ia bertanya-tanya sambil melihat setiap barang yang hancur serta jasad yang bergeletakan di sekitarnya. “Bisa saja sebagian alasan dari kehancuran ini adalah karena kesiapan Taman Bermain yang belum matang. Aku yakin, wahana yang hancur lebih banyak memakan korban daripada serangan zombie.”
Adnan sedikit tersentak saat ia merasakan seseorang menahan kakinya. Ia lantas mendengkus setelah menemukan bahwa mayat hidup yang berada di bawah reruntuhan pohon besar menggeram dan menarik kakinya dengan lemah. Adnan mengentakkan kakinya sekuat tenaga, hingga bukan hanya kakinya yang terbebas dari genggaman zombie, tetapi tangan mayat hidup itu juga ikut terlepas dari tubuhnya. Pemuda itu lantas meringis jijik menyaksikan semua itu.
Buk! Buk!
“Dasar makhluk sial!” umpatnya sambil menginjak bagian tubuh zombie yang tersisa. “Berani-beraninya kamu menyentuhku seperti itu!”
Adnan lantas menarik napas panjang setelah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghabisi zombie itu. “Aku harus cepat menemukan Adira. Tempat ini sungguh tidak layak untuk ditempati adikku yang berharga!”
***
__ADS_1