Monster In Me

Monster In Me
Air Minum


__ADS_3

“Hah! Tidak bisa dipercaya!” Tanpa lelah Trisha terus mengungkapkan keluhannya. “Selama ini kita terus berusaha keras untuk melindungi diri dari gigitan zombie! Tapi sekarang apa? Ada penyebab lain yang harus kita hindari? Benar-benar memuakkan!”


“Mau sampai kapan kamu mengoceh terus seperti itu? Kamu pikir hanya kamu yang ketakutan di sini?” tanya Evan sinis.


“Oh, aku tahu kalau Abian, Bu Danita, dan Pak Gunawan juga sama cemasnya sepertiku,” jawab Trisha sinis sambil mengarahkan telunjuknya ke setiap orang yang ia sebut sebelum menunjuk hidung Evan. “Tapi aku tahu betul bahwa kamu sama sekali tidak peduli tentang apa pun selain dirimu sendiri! Kamu bahkan tidak meneteskan satu butir air mata pun di saat Karsa berubah!”


“Kamu dan Abian juga tidak!”


“Kamu hanya tidak melihat kami dengan jelas!”


“Trisha, Evan. Tenanglah, Ibu mohon,” pinta Danita dengan memelas. “Apa kalian tidak kasihan kepada Karsa?”


Kedua siswa tersebut lantas melihat ke tempat Karsa diikat. Kini bukan hanya mulutnya yang disumpal, tetapi kedua matanya juga ditutup menggunakan kain kumal yang mereka temukan. Trisha bergidik membayangkan seberapa banyak kuman yang mungkin menempel di kain itu, tetapi mereka tidak punya pilihan lain. Sejak matanya ditutup, Karsa terlihat menjadi lebih tenang. Meskipun tetap saja ia mengerang dan menggelinjang di tempat beberapa menit sekali.


“Sama seperti zombie lainnya, sepertinya pendengaran Arsa masih berfungsi dengan baik. Bahkan mungkin jauh lebih baik dari manusia biasa,” jelas Gunawan. “Setiap kali kalian berteriak, Karsa mengamuk di tempatnya. Jadi, sebaiknya kita berbicara dengan suara yang lebih pelan.”


“Apa situasi saat ini memungkinkan untuk kita lebih memperhatikan kondisi zombie daripada kita yang masih manusia?” tanya Evan ketus. Ia menatap tajam Gunawan dengan kedua matanya yang sipit, sebelum melihat ke arah Karsa dengan pandangan jijik. “Dia sudah sangat beruntung kita tidak langsung membunuhnya.”


“Evan! Teganya kamu bilang seperti itu!”

__ADS_1


“Sadarlah, Tris! Dia sudah bukan lagi Karsa yang kamu sukai!”


“Anak-anak, Ibu mohon. Jangan memperburuk suasana di antara kita,” pinta Danita. “Ibu mengerti kalian semua sudah sangat lelah dan tersiksa, tapi kita harus tetap menjaga satu sama lain. Kita tidak akan bertahan jika sampai terpecah belah.”


Evan mendengkus dengan kasar. “Aku hanya akan diam jika kita buang Karsa ke bawah sekarang juga.”


“Evan!”


“Jangan munafik, Trisha! Aku tahu kamu merasa sangat ketakutan melihat Karsa saat ini.”


Abian hanya terdiam menyaksikan semuanya. Perlahan, ia menggeser posisinya sedikit menjauh. Duduk di salah satu sudut balkon dengan pandangan kosong. ‘Dalam film, jika rekan satu perjuangan mulai berteriak kepada satu sama lain, maka sebentar lagi akan ada yang mati.’ Pikirannya mulai melayang-layang ke mana-mana. ‘Tunggu. Bukankah secara teknis, Karsa sudah mati saat ini? Seharusnya tidak perlu ada korban lagi.’


“Tentu saja aku takut! Siapa yang tidak akan histeris melihat temannya sendiri mulai berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda?” Trisha mulai terisak. Kedua matanya mengilap oleh air mata yang menggenang. “Ke-ketakutanku kepada zombie di luar sana saja sudah tidak sanggup lagi untuk kutanggung, apa lagi sekarang? Melihat penderitaan Karsa secara langsung seperti ini membuatku … me-membuatku semakin sadar betapa lemahnya kita sebagai manusia. Aku takut harus terus berlari seumur hidupku. Tapi … aku lebih takut untuk ma-mati dengan menyedihkan seperti itu!”


Kata-kata yang Trisha ucapkan dengan terbata-bata serta suara yang serak membuat semua orang seketika terdiam. Hanya suara gemeresak dari Karsa yang masih bergerak-gerak di tempat yang mengisi suasana. Evan tampak membuang muka ke sembarang arah, tidak sanggup untuk melihat orang-orang yang terus memancing amarahnya, sementara Gunawan dan Danita terus menunduk. Merasa sangat bersalah karena tidak bisa berbuat banyak untuk menolong siswa-siswinya.


Sedangkan Abian, pemuda itu secara terang-terangan ikut menangis bersama Trisha. Ia sungguh mudah terbawa suasana.


Jarang mengungkapkan isi hati membuat Trisha sulit berhenti saat ini. Rasanya seperti bendungan di hatinya tidak lagi bisa menahan semua unek-unek yang selama ini ia pendam. Dinding itu roboh seketika, membiarkan ombak mengalir deras tanpa penahan yang menghalang. “Bagaimana ini? Kenapa di saat seperti ini aku justru mengingat semua penyesalan yang biasanya tidak pernah kupikirkan? Sebelumnya, aku tidak pernah peduli jika aku hanya menjadi beban serta anak yang memalukan bagi orang tuaku. Aku tidak peduli jika semua yang kupikirkan selama hidupku hanyalah bagaimana caranya bersenang-senang.”

__ADS_1


Trisha terbatuk-batuk sambil memukul pelan dadanya sendiri. Berusaha menyingkirkan sesak yang mencekiknya. “Ta-tapi sekarang aku menyesali semuanya. Bu Danita, Pak Gunawan. Tolong bantu aku untuk bisa kembali bertemu orang tuaku. Aku mau minta maaf.”


Tepat setelah selesai menyampaikan kalimat terakhir, tangis Trisha pecah. Bukan hanya isakan pelan dengan air mata yang menetes sesekali, tetapi tangisan hebat yang membuatnya meraung-raung serta terbatuk-batuk. Tangisan yang mungkin dapat didengar bahkan dari jarak puluhan meter sekalipun. Tangisan yang pada umumnya manusia tinggalkan sejak menginjak usia lebih dari 10 tahun.


Terburu-buru Danita beranjak dan duduk di samping Trisha. Merangkul gadis itu erat sambil mengusap bahunya lembut. Sang guru muda bersusah payah menahan kepanikannya sendiri demi menenangkan Trisha. “Tidak apa-apa, Trisha. Kita akan segera keluar dari sini. Bersama-sama.”


Janji kosong. Danita tahu bahwa ia sama sekali tidak yakin bahwa ia akan mampu mewujudkan kata-katanya. Apalagi setelah ia menyadari bahwa tidak ada tanda-tanda pihak berwajib yang datang untuk menolong mereka. Kemungkinan besar mereka semua sudah dianggap mati atau telah berubah menjadi zombie seperti yang lain. Mereka cukup beruntung bahwa Taman Bermain itu belum diledakkan sampai saat ini.


Karena tidak peduli berapa kali Danita mencoba memikirkan jalan keluar terbaik untuk orang banyak, ia hanya bisa memikirkan jalan yang termudah. Biar bagaimanapun, kebanyakan orang tidak akan mau bersusah payah hanya untuk menyelamatkan orang yang tidak mereka kenal. Maka, jika tidak ada satu pun orang penting yang juga terjebak dalam Taman Bermain ini, Danita pikir pemerintah juga tidak akan bersusah payah untuk mengevakuasi para penyintas.


“Sudah, berhenti menangis. Jika terus seperti ini, kamu hanya akan menyakiti tenggorokanmu,” ucap Danita setelah membiarkan Trisha menangis untuk beberapa saat. “Kamu pasti haus, ya? Bagaimana ini? Kita tidak memiliki air yang layak untuk diminum.”


“Evan punya,” sahut Abian tiba-tiba. “Aku lihat Evan memberi Karsa minuman sebelum kita sampai ke tempat ini. Sebelum … sebelum Karsa berubah.”


“Oh, benar begitu, Evan?” tanya Danita dengan wajah berseri.


Namun, Evan justru semakin memeluk tasnya erat.


***

__ADS_1


__ADS_2