
“Sial! Apa dia tidak membawa ponselnya?” keluh Irwan sambil meremat ponselnya sendiri sekuat tenaga. Menahan diri agar tidak meledak oleh amarah, di saat istrinya masih terkulai lemah di sisinya. “Dasar anak tidak berguna! Bisanya cuma menambah beban orang tua!”
“Mau berapa kali kamu merutuki Adnan seperti itu?” tanya Dewi tiba-tiba. Rupanya ia kini telah cukup kuat untuk membuka kedua matanya dan duduk tegak di samping Irwan. Dengan tegas ia menolak sebotol air mineral yang Irwan sodorkan kepadanya. “Terus mengomel tidak akan menyelesaikan apa pun. Lebih baik kamu coba bertanya lagi kepada para petugas itu. Mungkin saja ada berita baik.”
Irwan mendengkus kasar. “Berita baik apa yang akan kita dapat? Terlihat jelas sekali bahwa para petugas itu hanya terus terdiam di posisi. Tidak ada satu pun yang memberanikan diri untuk masuk ke dalam, bahkan untuk sekadar mengamati keadaan. Buang-buang waktu saja!”
“Tapi selama kita masih di sini, sebaiknya kita memanfaatkan kesempatan untuk—“
“Sudah, diam!” potong Irwan tanpa memedulikan raut wajah sakit hati yang diperlihatkan Dewi. “Percayalah, semua ide yang terpikirkan olehmu sekarang sudah lebih dahulu terpikirkan olehku. Aku tidak melakukannya karena memang semua itu percuma! Lebih baik kamu bersiap.”
Dewi menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya seolah menyempit saat ia melihat ekspresi suaminya. Bertahun-tahun bersama membuatnya selalu bisa memahami Irwan dengan mudah, hanya dengan mengamati wajah pria itu.
Irwan kini sudah tidak lagi berusaha keras mencari cara untuk menyelamatkan mereka. Tubuh Dewi seketika bergetar setelah menyadari bahwa suaminya itu memutuskan untuk menyerah. Irwan kini tengah beranjak keluar mobil, hendak pindah ke kursi pengemudi.
“Setelah kemacetan di belakang terurai, kita akan segera putar balik,” ujar Irwan dengan tegas tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Kedua tangannya telah bersiap di atas roda kemudi, sementara matanya masih menatap barikade yang berdiri beberapa meter di depan. Terhalang oleh beberapa mobil yang juga memuat keluarga dari para pengunjung Taman Bermain Cakrabuana yang masih belum diketahui kabarnya.
Baru kali ini Dewi tidak merasa senang telah menebak pikiran suaminya dengan tepat. Ia sangat berharap bahwa ia hanya sedang berhalusinasi karena dehidrasi. Sayangnya, tidak. Perlahan ia bisa merasakan mobil mereka mulai bergetar karena mesinnya telah dinyalakan oleh Irwan. Pria itu kini terus melihat spion untuk mengamati situasi di belakang.
Hingga kemudian para mobil di belakang mereka mulai berpindah ke samping. Namun, bukan karena mereka hendak putar balik, melainkan hendak mempersilakan mobil lain yang baru datang untuk lewat.
__ADS_1
Kedua mata Irwan melebar melihat mobil mewah yang selama ini hanya bisa ia lihat di televisi kini berada tepat di belakangnya. Warna merah mencolok sempat membuat matanya menyipit sebelum dengan refleks ia mengarahkan mobilnya sedikit menepi untuk memberikan jalan.
Rupanya mobil mewah itu tidak sendirian. Ada beberapa mobil polisi lengkap dengan lampu sirine menyala tanpa suara yang mengikuti mobil mewah tersebut tepat di belakang. Irwan membuka jendela mobilnya dan mengeluarkan kepalanya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Hei, kau! Iya, kamu! Apa kamu tahu siapa itu?” Ayah Adira itu bertanya kepada pengemudi lain yang ada di depannya dengan berteriak. Pengemudi itu juga tengah menjulurkan kepalanya penuh ingin tahu.
“Saya juga tidak tahu, Pak,” jawabnya sambil menoleh ke belakang. Rupanya ia masih berusia muda, atau setidaknya, wajahnya terlihat muda. Mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Adnan.
“Ah, dasar! Tidak berguna!” Irwan mengumpat dan mencoba mencari tahu lebih lanjut dengan turun dari mobilnya. Mengabaikan teriakan balasan dari pemuda yang tadi ia tanyai.
Selama puluhan tahun hidup, Irwan sudah biasa melempar maupun menerima umpatan dari kanan dan kiri, depan dan belakang. Ia selalu tahu bahwa hidup itu sulit, maka tidak ada salahnya melampiaskan kekesalan maupun rasa tidak berdaya dengan mengumpat. Dan ia pun tidak masalah menjadi target umpatan orang lain, selama tidak kelewat batas.
Dengan cara yang sama, Irwan telah membuat Adnan tidak pernah benar-benar bisa membangkang kepadanya.
Namun, segala caci maki dan jeritan di sekitarnya semakin terdengar banyak dan nyaring. Membuat Irwan lantas mengerutkan kening. Ia tidak merasa telah berbuat kesalahan yang membuatnya pantas menjadi target cacian dari orang-orang yang bahkan belum ia kenal, di tempat yang baru pertama kali ia datangi pula. Ada yang aneh.
Saat Irwan mengalihkan perhatiannya dari mobil mewah di depannya, saat itulah baru ia mengerti.
Semua orang di sana bukan sedang mengumpat kepadanya, tetapi kepada pria di dalam mobil mewah itu yang terlihat duduk santai meskipun banyak orang mulai melempari jendela mobilnya dengan batu.
__ADS_1
“Wah! Wahh! Ada apa ini? Memangnya siapa pria itu?” Irwan terus bertanya-tanya dengan suara keras, berusaha untuk mengalahkan kebisingan yang terjadi di sekitar, sambil turut memunguti batu yang mampu ia temukan. Tanpa sedikit pun mengetahui alasannya, Irwan ikut bergabung dengan orang-orang yang melempari batu ke arah mobil mewah itu. “Apa mereka semua sudah gila karena terlalu lama menunggu kejelasan?”
“Turun kau! Kenapa datang kalau hanya untuk bersembunyi di balik kereta kencanamu!”
“Tanggung jawab! Selamatkan anak-anak kami dari Taman Bermain nerakamu!”
“Mati kau! Mati!”
Perlahan-lahan, setelah memusatkan seluruh konsentrasinya, akhirnya Irwan mampu mendengar beberapa kalimat yang diteriakkan dengan sedikit lebih jelas. Kedua matanya lantas membelalak. Jika tebakannya benar, itu artinya orang yang tengah berdiam di dalam mobil mewah itu bukanlah orang biasa.
“Dia … pemilik Taman Bermain Cakrabuana?” gumam Irwan. Sepertinya sulit baginya untuk percaya, karena ia sungguh tidak mengerti, apa alasan orang sepenting itu datang ke tempat seperti ini. Apalagi orang itu tampak tidak melakukan apa pun yang berarti untuk mengatasi semua situasi tidak terduga. Jadi, untuk apa?
‘Apa … ia ingin menyaksikan seberapa menderitanya para keluarga pengunjung yang terjebak di Taman Bermain miliknya?’ Irwan mulai berpikiran macam-macam. Ia sungguh tidak pernah bisa berprasangka baik kepada orang lain, khususnya orang yang mampu mengintimidasinya hanya dengan penampilan.
Dan pria yang katanya pemilik Taman Bermain Cakrabuana itu sungguh hampir membuatnya tunduk hanya dengan pesona yang menembus kaca jendela mobil. Irwan sangat tidak menyuka I itu.
Maka tanpa berpikir lebih lanjut, Irwan mundur beberapa langkah untuk melakukan ancang-ancang, sebelum berlari sekuat tenaga menerjang mobil mewah yang masih dikelilingi banyak petugas polisi. Tindakannya mengundang para keluarga korban lainnya untuk bergabung dan menerjang pertahanan polisi bersamanya.
Dewi hanya bisa menyaksikan semua kekacauan ini dari dalam mobil sambil terus merapal doa untuk gadis kecilnya.
__ADS_1
***