Monster In Me

Monster In Me
Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Zean mengendap-endap di balik rak-rak toko yang masih berdiri tegap. Menyembunyikan sosoknya yang terus melihat sekitar dengan waspada. Kedua tangannya menggenggam pisau kecil yang memang selalu ia bawa ke mana pun. Zean selalu menggunakannya sebagai pengganti gunting. Tidak sedikit pun ia berniat menjadikannya sebagai senjata, seperti saat ini.


‘Dia tidak terlihat seperti zombie,’ pikir Zean saat ia berjongkok dan mengintip di balik persembunyian. Sosok pria yang tengah ia awasi tampak bergerak lebih teratur dibandingkan dengan para zombie. Meskipun tetap saja, pria itu hampir menyerupai mayat hidup dari banyaknya bercak merah yang menghiasi seluruh pakaian serta dari caranya merangkak di atas jalan. ‘Mungkin ia sedang menyamar? Untuk apa? Aku sudah memeriksa, di sekitar sini tidak ada zombie.’


Zean berbalik. Terduduk sebentar guna beristirahat sekaligus menyusun strategi. Namun, mendadak tubuhnya kaku saat merasakan ujung benda tajam menyentuh lehernya. Sedikit meninggalkan luka gores di sana. Refleks Zean mengangkat kedua tangannya ke atas, tepat di samping kepalanya.


“Jangan bergerak!” perintah orang asing itu, yang ternyata adalah pemuda yang tadi terus ia amati. “Siapa kamu? Kenapa mengawasiku?”


Perlahan, Zean berdiri. Pisau di lehernya mengikuti gerakannya dengan meninggalkan goresan menyakitkan. Zean lantas menggerakkan tangan kanannya, berniat meraih pisau di dekat lehernya itu. “Tolong, tenanglah. Sama sepertimu, aku hanya bersikap waspada. Bukannya mau menyerang,” ucapnya hati-hati.


Tampaknya, ucapannya cukup bisa dipercaya, karena sang pria asing akhirnya menjauhkan pisau dari lehernya. Zean menarik dan membuang napas panjang. Mengusap lehernya yang sedikit mengeluarkan darah.


“Aku Zean.” Dengan tenang Zean mengulurkan tangannya.


Pemuda di hadapannya tampak ragu-ragu. Namun, ia tetap menyambut uluran tangan Zean setelah menyimpan pisau lipatnya ke dalam saku celana. “Adnan,” jawabnya pelan. “Kamu manusia pertama yang aku temui di sini.”


“Wow. Kalau begitu aku harus merasa terhormat,” gurau Zean. Namun, tiba-tiba keningnya berkerut. “Tunggu. Maksudmu, aku manusia pertama yang kamu temukan setelah serangan zombie terjadi, kan?”


“Bukan. Aku baru datang kemari setelah mendengar peristiwa mengerikan yang terjadi di sini.”

__ADS_1


Zean melebarkan mata tidak percaya. “Wow. Jadi, kamu datang dari luar? Luar biasa. Bahkan pihak berwajib saja sepertinya belum ada yang datang satu orang pun.” Zean terus mengoceh. Ia sama sekali tidak tampak seperti dirinya yang biasanya, tetapi Adnan tidak mungkin tahu itu. “Kalau begitu, apa kamu bisa menunjukkan jalan yang kamu ambil saat masuk? Seperti yang mungkin sudah kamu ketahui, aku sangat ingin keluar dari tempat ini.”


Mendengar itu, Adnan lantas menggaruk tengkuknya kebingungan. “Hmm … begini. Aku masuk ke sini tanpa persiapan sama sekali. Tanpa pikir panjang aku hanya melompati setiap tempat yang bisa kulompati untuk sampai kemari. Sampai akhirnya ….”


“Akhirnya?”


“Puluhan …. Tidak. Ratusan zombie mengejarku. Aku bertahan sekuat tenaga dan mencoba menjebak mereka dengan menghancurkan satu-satunya jalan yang membuatku kemari.”


Setelah selesai mengatakan semua itu, Adnan terdiam. Mencoba memperhatikan ekspresi pria di depannya. Adnan pikir, Zean pasti merasa sangat kecewa mendengar penjelasannya. Sama seperti dirinya yang terus menyalahkan diri sendiri karena bertindak ceroboh.


Bagaimana caranya ia membawa Adira keluar dari sini jika ia sendiri tidak tahu jalan keluar?


Sebenarnya, masih terdapat beberapa baju yang lumayan layak untuk dipakai, tetapi hampir semuanya tergeletak di salah satu ruangan dengan keadaan sangat berantakan.


“Sepertinya sempat ada orang yang kemari dan mengambil beberapa baju,” gumam Zean sambil mendekati tumpukan baju itu. Sama sekali tidak menyadari Adnan yang masih menatapnya dengan heran.


Adnan mengikuti langkah Zean dengan mata penuh selidik. “Kenapa kamu tenang sekali? Aku baru saja bilang kalau jalan yang mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar telah kurusak. Kamu juga bersikap terlalu santai, padahal kita baru saja bertemu.” Adnan mengeluarkan pisau lipatnya kembali dan mengacungkannya ke arah Zean. Kali ini menyisakan jarak yang cukup agar ujungnya yang tajam tidak menyentuh kulit Zean sedikit pun. “Aku bisa saja menusukmu dari belakang.”


Zean akhirnya mengarahkan perhatiannya kembali ke arah Adnan. Sedikit mengguratkan senyum yang sama sekali tidak membuat wajahnya terlihat lebih berseri. Justru sebaliknya, ia kini terlihat begitu menyedihkan dengan kedua mata yang sedikit mengilap oleh air mata. “Tidak ada untungnya untukmu menyerangku. Lagipula ….” Zean menarik napas panjang sambil melihat kelopak bunga merah jambu yang terus ia genggam sejak tadi. “Lagipula, aku tidak takut kehilangan apa pun lagi. Bahkan mungkin aku menantikan saat-saat kematianku sendiri.”

__ADS_1


Mulut Adnan tampak sedikit menganga sebelum ia akhirnya menyimpan pisaunya lagi dan mulai mendekati tumpukan baju yang sempat mencuri perhatian Zean. “Cukup masuk akal. Semua yang kamu alami di sini pasti cukup membuatmu putus asa atau pasrah dengan keadaan. Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi biar aku beritahu satu hal.”


“Apa itu?”


“Semua serangan zombie ini hanya terjadi di tempat ini. Di luar sana orang-orang masih hidup dengan damai. Setidaknya, di permukaan. Mereka tidak ‘menggigit’ manusia lain secara harfiah dan hanya saling menyakiti secara sembunyi-sembunyi, seperti biasanya.” Adnan berjongkok dan mulai melihat baju dari tumpukan di depannya satu per satu. Wajahnya merengut setelah mendapati bahwa tidak ada satu pun baju yang sesuai dengan seleranya. “Aku pikir aku perlu memberitahumu, karena sejauh yang kulihat, kamu tidak mempunyai cara untuk mengetahui keadaan di luar.”


Zean tampak diam mematung dengan mata yang mengerjap pelan. Adnan pikir Zean cukup terkejut dengan informasi yang baru saja ia sampaikan, sampai akhirnya Zean buka suara.


“Aku tahu kalau ini hanya terjadi di sini,” jawab Zean tegas. “Karena itulah aku ingin segera keluar, karena keadaan di luar jauh lebih aman. Bukankah begitu?”


Mendengar itu, wajah Adnan sontak sedikit memanas. Rupanya ia telah salah menduga. “Baiklah kalau begitu. Kupikir kamu akan mengira kalau kekacauan ini terjadi di seluruh negeri.”


“Tidak apa-apa. Informasimu berguna untuk menguatkan dugaanku,” balas Zean cepat. “Tapi belum tentu penyintas lain berpikiran sama sepertiku. Ucapanmu membuatku berpikir bisa saja ada orang yang memutuskan untuk menyerah karena berpikir tidak ada lagi jalan keluar. Sungguh malang nasib orang-orang seperti itu.”


Adnan tampak mengangkat satu alisnya sambil menatap Zean aneh. “Apa kamu memang selalu banyak bicara?” tanyanya terus terang.


Zean mengendikkan bahu dan menghela napas panjang. “Tidak. Tapi semenjak aku menyaksikan adikku merenggang nyawa di tempat ini, sepertinya aku berusaha untuk mengalihkan perhatianku dengan mengatakan apa pun yang muncul di kepalaku.”


Mendengar kata ‘adik’ membuat Adnan refleks mengangkat tangannya. Meminta Zean berhenti bicara sejenak. “Aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang. Aku harus menyelamatkan adikku.”

__ADS_1


***


__ADS_2