Monster In Me

Monster In Me
Bertengkar


__ADS_3

“Apa kamu sudah gila?!” amuk Adira sambil mengusap dadanya dengan napas terengah-engah. Bisa ia rasakan detak jantungnya yang cepat dan keras. Hampir membuat rusuknya terasa ngilu. Kejadian tadi sungguh menguji nyalinya, melebihi acara jurit malam yang seringkali diselenggarakan oleh sekolah sebagai bagian dari kegiatan Pramuka yang wajib diikuti seluruh siswa.


“Memangnya siapa yang bisa tetap waras dalam situasi seperti ini?” protes Firda sambil memegang erat boneka kera lusuh di tangannya. Wajah boneka itu tampak koyak di beberapa titik, sementara stik drum yang dipegangnya hilang satu. Namun, boneka itu tetap mengeluarkan suara genderang yang nyaring setiap kali bagian tengah tubuhnya ditekan.


Suara genderang menyebalkan itulah yang membuat mereka didatangi puluhan zombie dalam sekejap dan nyaris terbunuh.


Adira memejamkan mata erat. Ia sungguh tidak lagi dapat menahan amarahnya terhadap sang sahabat. Sejenak ia memperhatikan speaker rusak yang berada di dekat mereka. Pengeras suara itu terus memutar tembang jawa yang biasanya dihubung-hubungkan dengan kisah mistis. Tentu saja, karena mereka sedang berada di wahana Rumah Hantu.


Ditambah lagi dengan suara gemeresak akibat dari serangan bertubi-tubi zombie terhadap speaker itu membuat tembang yang mengalun terkesan jauh lebih mengerikan.


Namun, suara menyeramkan itulah yang mampu menyelamatkan Adira dan Firda saat ini. Tampaknya, para zombie tidak akan tertarik dengan suara yang terus terdengar secara konsisten. Dan suara apa pun yang keluar dari mulut Adira dan Firda berbaur menjadi satu dengan alunan lagu tersebut, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan diserang.


Karena itu jugalah mereka berdua kini bisa menegur satu sama lain dengan leluasa.


“Aku tahu semua yang terjadi saat ini hampir membuat kita kehilangan akal! Apalagi tidak pernah satu kali pun kita mempelajari cara bertahan hidup sekaligus menghindari makhluk keji seperti zombie!” Adira mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menatap Firda yang masih menjaga jarak dengannya. “Tapi seharusnya kamu tahu bahwa kita tidak bisa sembarangan bertindak! Apa yang kamu lakukan tadi hampir mencelakai kita berdua!”


“Oke! Aku minta maaf!” teriak Firda akhirnya. Dengan kesal ia membuang boneka kera yang menjadi salah satu alasan mereka berdua kini bertengkar. “Aku hanya ingin sedikit mengalihkan perhatianku dari semua kengerian yang terus kita alami tanpa henti! Karena itulah aku memungut boneka yang kita temukan di luar toko baju. Mana aku tahu kalau boneka itu akan bersuara begitu nyaring?”


Firda tampak mulai kesulitan bernapas karena emosinya yang meluap. Ia berhenti beberapa saat sebelum kembali berbicara. “Lagipula, sampai kapan aku harus terus diam dan bersembunyi tanpa melakukan apa pun? Kalau begitu, apa bedanya kita dengan orang yang mati?”

__ADS_1


Seketika Adira terdiam. Rasa frustrasi yang Firda ungkapkan mendarat tepat sasaran di benak Adira. Ia sungguh bisa memahami perasaan temannya itu, karena sesungguhnya ia sendiri tidak berhenti menahan seluruh perasaan negatifnya agar tidak meluap ke permukaan. Namun, ia juga hanya murid SMA biasa yang belum banyak menghadapi kekejaman dunia. Apalagi serangan zombie bukanlah hal yang pernah dialami oleh banyak orang sebelumnya. Orang dewasa pun belum tentu kuat bertahan di situasi seperti ini. Semua itu terbukti dari banyaknya jasad pria dan wanita yang bertebaran di sepanjang jalan.


Dan meskipun Adira enggan mengakuinya, ia tahu betul bahwa tidak semua orang yang kehilangan nyawa disebabkan oleh kekejaman zombie. Tidak sedikit di antara para pengunjung yang memilih pasrah bahkan mengakhiri hidupnya sendiri karena putus asa.


“Aku juga minta maaf,” balas Adira akhirnya. Ia berjalan pelan dan duduk di dekat replika ambulans. Bersandar pada keranda yang tergeletak di atas tanah. Tidak sedikit pun ia merasa takut pada semua patung hantu maupun tiruan benda-benda mengerikan, sebab yang terjadi di luar sana berkali lipat lebih menakutkan dari semua ini. “Hanya saja, kita harus sangat berhati-hati. Jangan sampai kita berakhir menjadi salah satu zombie karena bertindak ceroboh.”


Meskipun masih banyak keluhan yang ingin Adira ungkapkan, sekuat tenaga ia menahan diri. Membiarkan kata-katanya berhenti sampai di sana dan memberikan kesempatan untuk Firda merenungkan semuanya. Bukan. Lebih tepatnya mereka berdua.


Di situasi genting seperti ini akan sangat mudah bagi mereka untuk saling berseteru. Pertemanan yang belum terjalin cukup kuat bisa terputus begitu saja hanya karena perdebatan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Mereka masih berdiri tegap, tanpa luka yang berarti. Meski tidak banyak tenaga tersisa, Adira dan Firda masih lebih dari sanggup untuk berbicara dengan lebih tenang, dari hati ke hati.


Tidak ada yang tahu kapan mereka akan harus kembali berhadapan dengan zombie. Apalagi kapan mereka akan diselamatkan dari tempat ini. Maka selama masih ada kesempatan, seharusnya Adira dan Firda saling menghargai keberadaan masing-masing dengan saling berpegangan tangan, bukannya dengan meneriaki satu sama lain.


“Mungkin memang sebaiknya kita istirahat dulu. Tadi kita pergi dari toko saat fajar, berarti sebentar lagi matahari akan terbit,” saran Adira. “Kita sudah banyak berjalan, bahkan perbekalan di dalam tasmu sudah lama habis. Jika seperti ini terus, bisa-bisa kita ambruk.”


“Sepuluh menit.”


Adira mengerjapkan mata. “Apanya?”


“Aku mau tidur sebentar. Sepuluh menit saja. Setelah itu kita bisa pergi lagi.” Firda menatap Adira sebentar sebelum menjulurkan kakinya ke depan. Mencari posisi yang cukup nyaman untuknya tidur. Meskipun tetap saja punggungnya terasa nyeri bersandar kepada dinding wahana yang keras dan bertekstur kasar. Ia sungguh tidak peduli. Rasa lelah teramat sangat membuatnya menikmati apa pun yang bisa ia dapatkan saat ini.

__ADS_1


Adira ingin mengingatkan Firda bahwa mereka tidak memiliki benda apa pun yang bisa menunjukkan atau menghitung waktu untuk mereka, tetapi ia urungkan niat itu. Ia dan Firda berhak beristirahat selama apa pun yang mereka butuhkan.”


Satu hal yang menjadi masalah adalah, Adira belum merasa cukup aman sehingga kantuk sama sekali tidak mendatanginya. Akhirnya ia hanya memejamkan mata dalam posisi duduk sambil berusaha meyakinkan otaknya bahwa ia benar-benar sedang beristirahat.


Suara alunan lagu mengerikan masih menggema dari pengeras suara. Namun, entah mengapa, Adira merasa suasana di antara mereka kini terasa lebih menenangkan dibandingkan sebelumnya. Seolah setiap suara yang terdengar adalah melodi alami yang biasa terdengar dari air terjun maupun dari tetesan hujan yang mengenai genting. Nyaring, tetapi tidak mengganggu pendengaran mereka sama sekali.


“Sudah cukup. Kapan pun kamu siap, kita bisa pergi,” ujar Firda tiba-tiba hingga membuat Adira cukup terkejut.


Adira menoleh ke arah sahabatnya yang entah sejak kapan sudah kembali berdiri. Lengkap dengan senyum serta semangat yang kembali membara. “Apa? Kamu tidak ingin pergi?” Firda tampak mengerutkan kening melihat Adira yang hanya menatapnya dalam diam.


Adira lantas berdeham. “Oh, maaf. Aku hanya terkejut. Kukira kamu akan marah kepadaku lebih lama dari ini.”


“Apa maksudmu?” tanya Firda sambil terkekeh. “Kita bisa lanjut bertengkar setelah kita berhasil keluar dari sini dengan selamat.”


Mereka berdua lantas tertawa. Ternyata istirahat mereka yang sebentar mampu membuat suasana hati kedua gadis itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya Adira berdiri dan merangkul Firda dengan senyum mengembang.


“Baiklah. Kalau begitu, apa rencana kita kali ini?”


***

__ADS_1


__ADS_2