Monster In Me

Monster In Me
Hentikan, Adira!


__ADS_3

Firda tercengang mendapati Evan telah menahan tubuh Trisha untuk menjadikannya tameng demi menghalau … Abian?


Abian terlihat kebingungan sambil merentangkan tangannya yang dihiasi luka koyak. Pemuda itu memiringkan kepalanya dan berjalan perlahan mendekati Evan dan Trisha. Sebuah tali yang terputus sambungannya tampak menjuntai dari tangannya yang lain.


“E-Evan,” panggil Abian dengan suara serak. Membuat Trisha semakin menjerit dan meronta, ingin segera melepaskan diri dari cengkeraman tangan Evan.


“Menjauh dariku, kau zombie mengerikan!” titah Evan sebelum ia melempar Trisha dan berlari menjauh dari gerbang.


Sama sekali tidak ada kesempatan baginya untuk mencoba kunci di tangannya. Rencananya kacau. Danita terbaring lemah karena Taka terus melampiaskan amarahnya kepada sang guru, Trisha terseok-seok berusaha menjauh dari Taka yang perlahan berjalan sambil mengerang kesakitan, sementara Firda membeku dengan shock. Evan berdecak kesal dan kembali melihat ke depan untuk memperhatikan ke mana ia berlari.


Terlambat. Tubuhnya bertabrakan dengan seseorang hingga ia terjatuh dengan keras.


Saat Evan mendongak, seluruh napasnya sontak meninggalkan tubuhnya.


Adira berdiri di sana, dengan tubuh berlumuran darah.


“Wah, waaahh! Ada apa ini?” Taka yang rupanya teralihkan oleh suara tabrakan Evan dan Adira lantas tersenyum senang melihat kedatangan Adira. “Sang siswi teladan rupanya. Kamu mandi selai stroberi di mana?”


Adira yang semula siap memukul Evan lantas berhenti dan mulai berlari ke arah Taka. Tanpa mengucapkan apa pun, Adira mencengkeram leher Taka dan membantingnya begitu saja. Dalam sekejap, sang pemuda berhenti bergerak. Semua orang yang tersisa menyaksikan semua itu sambil menahan napas.


Terutama Firda. Tubuh gadis itu tidak mampu berhenti bergetar. Ia jatuh bersimpuh dengan kedua tangan mengatup di depan tubuh. “A-Adira. Syukurlah, kamu masih hidup!”

__ADS_1


Sang gadis yang belum berhenti menendang Taka lantas melirik ke arah Firda. Kedua matanya yang sedikit menyipit tampak menyiratkan emosi yang tidak mudah diartikan. Firda pikir temannya itu mungkin masih terpukul atas kematian kakaknya, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Adira tampak tidak mengenali Firda sama sekali dan baru menghampirinya ketika wajah Taka tidak lagi berbentuk normal dan pemuda itu berakhir terbaring lemah bersama Danita.


Terburu-buru Firda bangkit dan berlari menuju Trisha. “Tolong aku! Dia dendam kepadaku! Dia akan membunuhku!”


Firda tidak tahu dengan pasti, hal apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Mungkin karena ia telah melihat dengan kepala sendiri bagaimana Adira menggebuki Taka tanpa ragu. Atau dari jejak cairan merah yang memenuhi tubuh sahabatnya itu memberi petunjuk seberapa banyak pertarungan yang telah ia lalui. Firda sungguh tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan Adira dalam situasi seperti ini. Sebelumnya, ia benar-benar yakin Adira telah menjadi zombie, atau setidaknya … mati.


Sementara itu, Trisha yang sepertinya sudah kehabisan banyak tenaga hanya pasrah saat Firda datang dan memeluk tubuhnya erat. Mereka berdua terlihat seperti sepasang sahabat yang sangat akrab, jika saja wajahnya keduanya tidak terlihat begitu ketakutan. Perlahan, Trisha menggenggam kedua tangan Firda. Jauh di dalam hati mereka memanjatkan doa yang sama.


Yaitu untuk keluar dari situasi ini hidup-hidup.


Sampai akhirnya, Abian menarik tangan Adira. Namun, gadis itu dengan mudah melepaskan diri dan memukul Abian tanpa ampun.


Atau Adira benar-benar sudah berubah menjadi zombie? Penampilannya sama sekali tidak menyerupai banyak zombie lainnya.


“A-aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Aku janji!” teriak Trisha setelah Adira berhasil melumpuhkan Abian dan kembali berjalan ke tempat ia dan Firda berada.


“Adira! Sadarlah! Kamu sama sekali bukan orang jahat!” Firda ikut menimpali.


Sementara itu, gadis yang sedang mereka teriaki sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Adira hanya sempat terdiam sambil memejamkan mata. Kedua tangannya terentang ke samping, seolah ia sedang mengumpulkan seluruh energi di dalam tubuhnya sebelum ia kembali membelalak. Deru napasnya memburu sementara kulit wajahnya yang belum tertutupi debu dan darah tampak memerah oleh amarah. Tidak butuh waktu lama sampai gadis itu menggeram hebat. Dalam hitungan detik ia sudah berada di depan Firda, mengayunkan kepalan tangannya yang dipenuhi gurat nadi.


Dengan berani, Firda melemparkan tubuhnya sendiri ke depan dan mencoba menghentikan pergerakan tangan Adira. Hal itu membuat Adira meronta hebat sambil menendangkan kakinya ke tubuh sang gadis malang. Firda menjerit kesakitan, terutama saat Adira membenturkan kepalanya sendiri ke kening sang sahabat.

__ADS_1


Atau mungkin sekarang mereka harus disebut sebagai sepasang mantan sahabat.


Firda memegang keningnya yang sakit luar biasa. Jari-jarinya yang bergetar kini lengket oleh darah. Gadis itu meringis dan mulai menangis. Ia pasrah jika memang hidupnya ditakdirkan untuk berakhir di tangan Adira.


Adira baru saja akan mengayunkan tubuhnya satu kali lagi untuk kembali menyundulkan kepala saat tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkari pundak dan lehernya. Dengan efektif mengunci pergerakannya sepenuhnya. Sang gadis mengerikan mencoba melayangkan tendangan ke belakang, tetapi ia hanya berakhir menendang udara kosong.


“Tenanglah, Adira. Kakakmu tidak akan senang melihatmu bersikap seperti ini,” ucap Zean dengan suara yang lembut dan menenangkan. Dulu ia biasa berbicara seperti kepada Helsa, setiap kali adiknya itu merengek karena sakit. Kini ia melakukan hal yang sama kepada Adira, adik dari pemuda yang belum lama ia kenal. “Adnan pasti ingin kamu menjalani hidup normal dan bahagia seperti sebelumnya,” lanjutnya.


Adira meraung dan meronta dengan sekuat tenaga. Zean sempat kesulitan menahan tubuh sang gadis yang sebenarnya jauh lebih mungil darinya. Pemuda itu lantas mengerutkan kening kebingungan. ‘Sepertinya kesedihan dan amarah yang besar memberinya tenaga yang luar biasa,' gumamnya dalam hati.


Namun, Zean adalah seorang pemuda yang terbiasa berolahraga dan melatih ototnya secara rutin. Tenaganya mungkin telah jauh berkurang karena harus bertahan hidup di tempat yang seperti neraka, tetapi Zean masih memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk bisa menaklukkan Adira. Berbekal segala ilmu bela diri yang lama tidak ia gunakan, Zean menahan pergerakan Adira dengan membuat sang gadis telungkup di atas aspal. Sementara Zean menahan kedua tangan dan kakinya.


Perlahan-lahan, raungan Adira berubaha menjadi erangan pelan, kemudian berubah kembali menjadi suara yang menyerupai rengekan. Zean memukul belakang kepala Adira hanya untuk membuatnya kehilangan kesadaran untuk sementara. Dalam sekejap, pandangan Adira berubah gelap sepenuhnya.


Sebelum ia benar-benar tenggelam dalam bunga tidur, Adira mendengar suara kakaknya yang memanggilnya dengan riang.


Hanya saja, suara Adnan tidak terdengar seperti suara pemuda berusia belasan tahun.


***


__ADS_1


__ADS_2