Monster In Me

Monster In Me
Hanya Dusta?


__ADS_3

“Apa sudah ada yang menyalakan ponselnya lagi? Ada berita lain dari luar?” tanya Danita penasaran sambil menatap para siswanya satu per satu. “Sudah lewat satu hari sejak kalian menghubungi orang tua kalian, kan?”


“Ibuku hanya seorang wanita tua yang hidup sendirian,” jawab Trisha dengan wajah murung. “Ibu mungkin sedang kebingungan memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menolongku. Ibu tidak berani berbicara atau menghubungi orang asing, apalagi bepergian sendirian. Jadi, kurasa sampai saat ini, Ibu hanya bisa menangis dan menunggu kabar dariku.”


“Baiklah, tidak apa-apa, Tris.” Terburu-buru Danita mengulurkan tangan guna menenangkan Trisha, meskipun gadis itu tidak terlihat seperti akan menangis.


Justru Danita yang saat ini mulai merasa putus asa setelah menghadapi kenyataan bahwa harapan mereka semakin berkurang satu per satu. Ditambah lagi, ponselnya sendiri telah hilang, mungkin terjatuh di suatu tempat. “Bagaimana denganmu, Evan?”


“Baterai ponselku sudah benar-benar sekarat, Bu.” Evan menjawab sambil mendengkus. “Sepertinya hanya bisa dinyalakan satu kali lagi. Jadi, aku simpan untuk keadaan darurat.”


“Bukan hanya air minum, ternyata kamu juga pelit baterai HP, ya,” celetuk Trisha sambil menjulurkan lidahnya.


Evan hanya menggelengkan kepalanya tanpa menanggapi sang gadis dan memilih untuk terus berbicara dengan Danita. “Terakhir kali aku hubungi, orang tuaku tidak kunjung mengangkatnya. Sepertinya mereka benar-benar sedang sibuk.”


Danita merapatkan bibirnya sambil mengerutkan kening. Bukannya menuduh Evan berbohong, tetapi guru muda itu sama sekali tidak bisa memercayai bahwa ada orang tua yang mengabaikan telepon anaknya di saat sang anak terjebak di tempat yang berbahaya. Atau mungkin orang tua Evan belum mengetahui situasi mereka saat ini? Tidak mungkin. Berita soal banyaknya pengunjung Taman Bermain yang menghubungi anggota keluarga dengan panik pasti sudah menyebar luas, bagaimanapun caranya.


Saat awal mula semua kekacauan ini terjadi, Danita melihat dengan jelas banyaknya pengunjung yang masih memiliki ponsel mereka untuk meminta tolong. Namun, kenapa sampai saat ini belum ada satu pun bantuan yang datang?


“Biar aku coba hubungi ibuku satu kali lagi!” Dengan semangat Abian mengajukan diri, otomatis membuat Danita tidak lagi diam merenung dan justru menatapnya penuh harap.

__ADS_1


Danita, Trisha, Evan, dan Gunawan lantas merapatkan posisinya dengan Abian. Mereka berlima mendengarkan nada sambung bersama-sama, sepenuhnya telah mampu mengabaikan suara dari Karsa yang terus bergerak tanpa lelah. Tidak ada satu pun yang berani bersuara sampai suara Ibu Abian terdengar dari seberang telepon.


“Ibu!” seru sang pemuda gembira. “Ibu! Aku masih di Taman Bermain. Tapi jangan khawatir, aku aman. Ada guru-guru yang menemaniku.”


Sejenak, Danita dan Gunawan saling bertukar pandang. Gunawan pikir, Danita tengah meminta tolong kepadanya untuk berbicara mewakili mereka berdua. Oleh karena itu, ia mengulurkan tangannya, hendak mengambil alih panggilan. Namun, tiba-tiba Danita buka suara.


“Halo, Bu. Saya Danita, guru Abian. Sebisa mungkin saya akan—“


“Bian, anakku! Maafkan Ibu!” Teriakan Ibu Abian di seberang telepon membuat Danita menghentikan ucapannya. “Sejak kemarin kamu menelepon Ibu, Ibu dan Ayah langsung berangkat menuju ke sana. Tapi ternyata banyak gangguan yang terjadi di jalan. Dan … dan sekarang kami terjebak macet sehingga harus beristirahat di pom bensin terdekat.”


Abian membelalakkan mata mendengar suara ibunya yang bergetar. Berkali-kali ia memanggil sang ibu, meminta ibunya untuk tenang. Namun, sepertinya suaranya tenggelam oleh keramaian yang terjadi di sekitar tempat ibunya berada. Dari ponselnya, Abian bisa mendengar banyak suara klakson mobil serta orang-orang berteriak.


Rasanya Abian ingin menangis mendengar betapa keras ibunya berjuang demi keselamatannya. Namun, ia tetap bertahan demi bisa berbincang dengan ibunya lebih lama. “Apa Ibu baik-baik saja? Ibu dan Ayah harus tetap sehat agar kita bisa berkumpul kembali.”


Kedua mata Danita mulai berkaca-kaca menahan haru. Ia sungguh tersentuh menyaksikan betapa Abian menyayangi kedua orang tuanya. Tidak tahan, guru muda itu akhirnya memalingkan wajah dan membiarkan air mata mengalir di pipinya. Hanya sebentar, karena ia takut berakhir dehidrasi jika menangis terlalu lama.


Gunawan menepuk pelan pundak Danita. Memberikan kekuatan tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


“Ibu … Ibu baik-baik saja. Kalau Ayah, mungkin sedikit tidak enak badan, tapi tidak parah,” jawab Ibu kandung Abian setelah terdiam beberapa saat. “Apa baterai ponselmu masih banyak? Kamu harus lebih menghematnya. Jangan khawatirkan apa pun, di sini semuanya baik-baik saja. Setelah Ayah dan Ibu sampai di sana, kami akan langsung menghubungimu.”

__ADS_1


“Jadi, di luar sama sekali tidak ada serangan zombie?” Tanpa sadar Gunawan menyuarakan rasa penasarannya.


“Ibu, jadi selain di sini, sama sekali tidak ada zombie di tempat lain?” ulang Abian ketika ibunya tidak kunjung menjawab.


Mereka lantas meringis sambil menutup telinga saat suara klakson nyaring terdengar dari ponsel Abian. Setelah itu, panggilan terputus begitu saja, dan Abian tidak bisa lagi menghubungi orang tuanya. Tidak peduli berapa kali pun ia mencoba menelepon ulang.


“Tidak apa-apa. Ibu rasa sudah cukup. Yang penting kita tahu bahwa orang-orang di luar sana juga sedang mengusahakan yang terbaik untuk kita,” ucap Danita sambil mencondongkan tubuh. Menepuk tangan Abian beberapa kali sebelum kembali mengedarkan pandangan. Ia lantas kembali bertemu pandang dengan Gunawan. “Bagaimana dengan Bapak? Apa Bapak sudah menghubungi kembali anak dan istri Bapak?”


Gunawan menggelengkan kepala. “Baterai ponsel saya habis karena kemarin anak saya tidak mau menyudahi panggilan video. Tapi tidak apa-apa. Mereka tahu saya kuat bagai pahlawan super.”


Danita, Abian, dan Trisha lantas terkekeh mendengar itu. Suasana hati mereka sungguh telah membaik hanya dengan satu panggilan telepon yang Abian lakukan tadi. Terutama Trisha, yang kini terlihat lebih berseri dibandingkan sebelumnya.


Sejenak mereka bisa mengesampingkan misteri yang sedari tadi membuat mereka ketakutan sekaligus kebingungan. Meskipun tetap saja, kehadiran Karsa yang masih mengerang dan meronta tidak jauh dari mereka terus menjadi pengingat bahwa mereka tidak bisa hanya berdiam dan bersantai. Jika ingin keluar dari Taman Bermain Cakrabuana dengan selamat, mereka harus memahami betul virus seperti apa yang sebenarnya tengah mereka hadapi.


Namun, masih ada satu orang yang sedari tadi tetap mempertahankan ekspresi seriusnya. Siapa lagi kalau bukan Evan, yang kini menatap tidak percaya ke arah yang lainnya. “Mendengar kabar seperti itu saja kalian sudah berbahagia seperti ini? Hei, sadarlah! Kita masih terjebak di sini! Berpindah pun tidak berani karena kita sudah kehilangan semua senjata maupun alat yang bisa digunakan untuk melindungi diri!”


“Evan!” Kali ini Gunawan tidak tinggal diam. “Jaga bicaramu!”


“Baiklah! Biar aku katakan satu hal ini dengan sangat sopan.” Salah satu sudut bibir Evan terangkat saat Gunawan menatapnya tidak suka. “Kemungkinan besar, para orang tua maupun orang lain di luar sana hanya mengatakan hal-hal baik untuk membuat kita tenang. Padahal kenyataannya mungkin jauh lebih mengerikan dari yang kita duga.”

__ADS_1


***


__ADS_2