
Di luar dugaan, Aron hanya menghela napas panjang sebelum mengusap kedua matanya dengan salah satu lengannya. Ia menatap Firda dengan tatapan sendu, hampir membuat jantung Firda kesakitan menyaksikan ekspresi menyedihkan itu.
“Gak apa-apa, kata Ayah, Aron anak kuat!” ucap Aron meyakinkan dirinya sendiri. “Alon ke sini aja karena dapet hadiah dari Ayah! Katanya Alon anak hebat. Jadi Alon ke sini sama Ayah sama Ibu.”
“Wah, hebat!” seru Adira semangat. Sekilas ia menatap mata Firda yang tampaknya memperingatkannya untuk tidak asal bicara. “Kak Adira aja jarang banget dapat hadiah dari Ayah Kakak! Aron benar-benar luar biasa! Terus, apa kamu ingat kenapa kamu bisa berada di dalam tong besi?”
“Hah?” Ekspresi ketakutan Aron kembali. Tubuhnya meringkuk seolah ia ingin membuat sosoknya mengecil hingga tidak lagi terlihat.
“Eh, enggak, enggak!” Buru-buru Firda menyela. Dengan sengaja ia beranjak dan menempatkan dirinya di antara Aron dan Adira. Berusaha membuat sosok Adira tidak lagi terlihat oleh sang bocah kecil. Firda tetap bergeming saat ia merasakan bahwa Adira mencubit pinggangnya. “Coba ceritakan lagi. Pasti Aron seneng banget, ya, jalan-jalan sama Ayah dan Ibu?”
Di belakang Firda, Adira memutar bola matanya dengan malas. Bertanya-tanya, mengapa Firda memilih cara yang berputar-putar jika mereka bisa langsung menanyakan semua yang ingin mereka ketahui? Firda sungguh membuang-buang waktu. Apa ia lupa bahwa mereka sedang berusaha keluar dari Taman Bermain neraka ini? Bukannya membuat kemajuan, mereka malah harus berbalik mundur hanya karena seorang anak kecil.
Setelah dipikir-pikir lagi, Adira sama sekali tidak mengerti mengapa mereka harus menginterogasi Aron seperti saat ini. Anak itu terlihat cukup sehat, tanpa luka yang serius. Aron juga bisa berbicara dan sepertinya juga berjalan dengan lancar. Selama anak itu tidak akan menimbulkan banyak masalah untuk Adira dan Firda, maka semuanya baik-baik saja.
Mungkin memang sepasang sahabat itu hanya ingin memenuhi rasa ingin tahu mereka sendiri. Karena biar bagaimanapun, Aron adalah anak pertama yang mereka temukan masih dalam keadaan hidup. Selama mereka terjebak di Taman Bermain, Adira dan Firda sudah cukup sering melihat jasad anak-anak, sehingga mereka pikir anak-anak memang tidak cukup kuat untuk bertahan dalam situasi saat ini. Namun, kini setelah mereka menemukan Aron, mereka mulai mempertanyakan kembali pikiran mereka.
Kalau ada anak kecil yang berhasil bertahan hidup, apa mungkin akan ada juga anak yang berubah menjadi zombie?
‘Aku harap tidak.’ Adira bergumam dalam hati. ‘Firda sudah cukup menganggapku berhati dingin hanya karena aku tidak ingin membawa Aron bersama kami. Akan seburuk apa lagi citraku jika harus membunuh zombie anak-anak? Yah, bukan berarti aku peduli dengan nama baikku juga, sih.’
__ADS_1
“Seneng,” Aron kembali menjawab dengan tenang, “soalnya udah lama Aron pengen jalan-jalan, tapi gak bisa soalnya Ibu gak bisa jalan.”
“Gak bisa jalan? Kenapa?” Tanpa sadar Firda terus mencondongkan tubuhnya ke arah sang bocah. Semakin lama ia semakin ingin mengenal Aron sebab ia sudah mulai menganggap bocah itu sebagai adiknya sendiri. “Apa Ibunya Aron sakit?”
Aron mengangguk dan saat itulah dada Adira dan Firda terasa sangat berat.
Seorang anak yang sepertinya belum mencapai usia 7 tahun. Sendirian di tengah serangan zombie di saat seharusnya ia bermain bersama keluarga setelah menunggu cukup lama. Adira tidak tahu bahwa sebuah kisah mampu membuatnya tidak nyaman seperti ini.
Kalau seandainya Aron sedikit lebih besar, mungkin Adira akan meminta anak tersebut untuk bersikap lebih kuat dan tidak cengeng. Namun, Aron benar-benar masih merupakan anak polos yang bahkan tidak bisa berlama-lama ditatap oleh Adira. Sudah termasuk luar biasa Aron kini bisa berbicara dengan tenang tanpa menangis setiap beberapa detik.
Aron menggelengkan kepala setelah termenung beberapa saat. “Gak tahu. Tapi Ibu suka didorong ayah pake kursi yang ada bannya. Aron juga suka ikut naik.”
Dan itu gawat. Adira masih tetap pada pendiriannya bahwa ia dan Firda sama sekali tidak sanggup untuk bertanggung jawab terhadap nyawa Aron.
“Sudah cukup,” titah Adira tegas. “Tidak perlu cerita terlalu banyak. Kita sudah membawanya kemari, kemungkinan besar tidak akan ada zombie yang ke sini selama tidak ada sesuatu yang memancing mereka. Aron aman di sini. Sekarang kita bisa pergi.”
“Adira, kupikir kita sudah sepakat?” Suara Firda terdengar lemah. Entah karena ia sudah lelah berdebat dengan Adira atau ia masih tertekan oleh rasa sedih yang ia rasakan dari cerita Aron. “Kita akan membawanya bersama kita.”
“Tapi, Fir, kita sendiri kesulitan bertahan!” Adira menyugar rambutnya frustrasi. Ia memalingkan mukanya saat merasakan Aron menatapnya kebingungan. “Begini saja. Kita akan mencari keberadaan orang tuanya, dan meminta mereka untuk segera mencari Aron ke sini. Gimana?”
__ADS_1
“Kamu pikir—“ Mendadak Firda menutup mulutnya dengan tangan. Ia melihat Aron sekilas sebelum berjalan menghampiri Adira. Kali ini ia bicara dengan berbisik tepat ke telinga sang sahabat. “Kamu pikir orang tuanya masih hidup? Apa kamu lupa kalau kita menemukannya di dalam tong? Pasti ada alasan kenapa dia ada di sana, Dir! Mungkin orang tuanya sendiri yang menempatkan dia di sana sementara ayah dan ibunya diserang zombie!”
Adira menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga ia hampir membuatnya berdarah. Meski enggan mengakui, Adira tahu bahwa Firda benar. Bahkan ia sendiri sebenarnya sudah memikirkan hal yang sama sejak detik pertama mereka menemukan Aron. Kegelisahannya membuatnya mengatakan apa pun yang terpikirkan demi bisa terlepas dari Aron.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Adira sendiri mulai penasaran dengan cerita Aron. Kini ia berjongkok di depan sang bocah. Kedua matanya memperhatikan setiap detail yang ada di ujung kepala hingga ujung jari kaki Aron. “Jadi, Aron, apa kamu tahu di mana Ayah dan Ibumu?”
“Kamu bilang kita harus sudahi sesi ceritanya?” protes Firda.
Adira mengendikkan bahu. “Kamu sendiri masih ingin melanjutkannya, kan?”
Tanpa benar-benar menyadari keributan yang terjadi, Aron tanpa berpikir keras sambil menekan salah satu pelipisnya dengan jari telunjuk. Ekspresinya terlihat sangat serius sebelum akhirnya bibirnya melengkung ke bawah. Ia memandang kedua gadis dan mulai berbicara dengan suara yang bergetar.
“Ayah sama Ibu sama Aron lagi di Taman Bunga.” Aron menggosok matanya dengan kepalan tangan. “Tiba-tiba Ibu teriakin Ayah. Terus ada orang yang gigit orang lain. Terus Ayah pergi bawa Aron sembunyi.”
Firda mengepalkan tangan, mempersiapkan diri untuk mendengar bagian cerita Aron yang mungkin akan sangat tidak enak didengar. “Lalu Ayah Aron ke mana?” tanyanya hati-hati.
“Ayah bilang mau jemput Ibu. Aron disuruh tunggu.” Aron lantas menegakkan tubuh dan menatap Adira dan Firda penuh harap. “Apa kakak-kakak disuruh Ayah buat jemput Aron?”
***
__ADS_1