Monster In Me

Monster In Me
Selamat Tinggal


__ADS_3

“Ayo, cepat! Kita harus segera menjauh!” titah Firda sambil mengangkat Aron dengan memeluknya. Aron terus menangis dan menunjuk ke arah Adira menghilang, tetapi Firda mencoba mengabaikannya. Bersamaan dengan perasaan bersalah di dalam hatinya.


Adira adalah sahabat terdekatnya, dan mereka telah menghadapi berbagai masalah di Taman Bermain ini bersama-sama. Jadi, kini saat Adira sedang berjuang menyelamatkan kakaknya, seharusnya apa yang Firda lakukan?


Firda pikir, persahabatannya tidak sama berharganya dengan nyawanya saat ini.


“Kenapa Kak Adira pergi ke sana?” tanya Aron akhirnya setelah sekian lama hanya terdiam dan menangis. Tampaknya ia sudah sangat bertanya-tanya hingga tidak lagi tahan untuk tidak berbicara. “Kenapa kita pergi? Kita harus selalu sama-sama!” Aron mulai memukuli pundak Firda dengan keras.


Sekuat tenaga Firda menahan sakit dari pukulan Aron serta menahan rasa lelah karena tubuhnya terus dipaksa untuk membawa Aron sambil berlari. “Sebentar lagi, Aron. Sebentar lagi kita akan sampai ke tempat yang lebih aman. Baru setelah itu ….” Firda tidak mampu menyelesaikan ucapannya, karena ia sendiri tidak yakin apa yang akan dilakukannya setelah memastikan keamanan mereka berdua.


Setelah sampai di wahana Seluncur Tinggi, Firda berhenti di depan pagar yang menghalangi jalan menuju tangga ke atas. Ia mengerang hebat saat mengangkat Aron untuk melewati pagar, sebelum ia sendiri menyeberang dengan melompat. Pagar tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga kemungkinan besar zombie juga akan dapat melewatinya. Namun, sejauh ini Firda tidak melihat tanda-tanda akan adanya zombie seperti bercak darah atau benda yang rusak.


Cukup aneh, tetapi Firda tidak punya waktu untuk memikirkannya.


Gadis itu terus menarik Aron untuk berlari menaiki tangga. Meskipun sosok mereka sudah aman tertutupi pagar, ia tetap ingin sampai ke tempat tertinggi agar bisa mengawasi situasi. Dapat ia rasakan sesekali Aron menarik tangannya dengan menumpukan seluruh bobot tubuhnya ke belakang, mencoba membuatnya berhenti berlari. Firda menggigit bibir bawahnya, mulai merasa kesal oleh sikap sang bocah.


“Kak, kita sudah kejauhan. Nanti gimana caranya kita ke tempat Kak Adira?” tanya Aron sambil merengek. “Kak, berhenti, Kak! Kak! Kaaakkk!”


“Aron! Diam atau kutinggal?”

__ADS_1


Suara keras Firda yang membentak Aron seketika membuat Aron membeku di tempat. Bocah itu tampak sangat terkejut dengan kedua mata yang mulai berair. Bibir kecilnya bergetar sebelum ia benar-benar kembali menangis terisak-isak.


“Katanya Kak Firda dan Kak Adira mau nganterin Aron buat ketemu Ayah? Tapi kenapa Kak Adira pergi? Kenapa Kak Firda marah-marah terus?” Aron menjerit dengan mata terpejam dan kepala tengadah. Anak sekecil itu telah berhasil menguatkan diri di tengah situasi yang sangat kacau dan baru meluapkan semua emosinya saat ini. Siapa pun akan merasa sangat tergores hatinya menyaksikan kesedihan sang bocah. Karena alasan yang sama pula Firda masih ingin berjuang untuk menyelamatkan Aron.


Namun, kini di saat ia tinggal seorang diri, dengan tidak adanya Adira, Firda mulai memikirkan kembali keputusannya.


Sejak awal Adira memang sangat tidak kooperatif dalam hal yang menyangkut Aron. Gadis itu tidak mau menggendong Aron secara bergiliran, selalu melemparkan komentar kejam seperti ingin meninggalkan Aron di suatu tempat, hingga benar-benar tidak menganggap kehadiran sang bocah. Firda sendiri muak dengan tingkah laku sahabatnya itu, tetapi ia tahu alasan di balik sikap ketus Adira sehingga ia tidak banyak menegur sang gadis.


Lagipula, Firda merasa bahwa meskipun tidak membantu secara langsung, Adira tetap mampu memastikan keselamatan mereka dengan memimpin mereka untuk melalui jalan yang tepat. Dengan begitu, Firda hanya perlu memastikan Aron berada di sisinya dan mengikuti langkah Adira.


Mengingat hal itu, Firda semakin yakin bahwa ia tidak akan sanggup menjaga Aron sendirian.


“Dengarkan aku. Kamu diam di sini sampai ada manusia yang datang mencarimu ke sini,” ucap Firda sambil mengarahkan Aron untuk berdiri di depan tumpukan ban, sebelum ia menyusun tumpukan lainnya di sekeliling sang bocah. “Kamu mungkin akan merasa lapar, haus, atau kesepian. Tapi jangan menangis. Jangan bersuara sedikit pun sampai kamu yakin bahwa yang datang adalah manusia, bukannya zombie.”


Aron menatap Firda dengan horor. Bocah itu cukup pintar untuk mengetahui maksud dari ucapan Firda dengan cepat. Tangisannya semakin menjadi, dan kedua tangannya kini memegang erat lengan Firda. Ia memohon sambil berlutut. “Kak, jangan tinggalin Aron! Aron janji bakalan jadi anak yang lebih baik! Kak, Aron mohon!”


Firda memejamkan matanya erat. Dengan berat hati ia melepas paksa pegangan Aron darinya. “Aron sudah menjadi anak yang baik. Sayangnya, Kakak yang belum cukup baik untuk mampu menjaga Aron. Yang sabar, ya. Kakak yakin, akan ada seseorang yang menemukanmu dan merawatmu dengan lebih baik daripada Kakak.”


“Enggak! Aron gak mau! Aron mau sama Kakak aja!”

__ADS_1


“Tidak bisa, Ron.”


“Aron janji Kakak gak perlu gendong Aron lagi! Aron juga bakal bantu Kakak lawan zombie!”


“Kamu tidak perlu sampai seperti itu.” Firda hampir selesai menumpuk ban di depan Aron hingga kini hanya terlihat bagian kepala sang bocah. Gadis itu mengelap air mata di pipinya sebelum tersenyum. “Sampai jumpa lagi, ya, Ron. Aku yakin kita akan segera bertemu lagi di luar sana. Jaga dirimu.”


Setelah mengucapkan itu, Firda menumpuk banyak ban sekaligus hingga sosok Aron tidak lagi terlihat sedikit pun. Hanya suara tangisan serta jeritan sang bocah yang terdengar. Firda berharap Aron akan segera berhenti menangis, atau usahanya untuk menyembunyikan bocah itu akan berakhir sia-sia.


Setelah mengucapkan salam perpisahan terakhir, Firda berbalik dan menelusuri kembali jalan yang tadi ia lalui bersama Aron. Kali ini ia benar-benar tinggal seorang diri. Semuanya terasa lebih ringan dan leluasa, tetapi juga berat dan serba terbatas. Firda tidak tahu pasti bagaimana perasaannya saat ini. Semuanya terasa begitu campur aduk hingga ia pikir ia akan segera menjadi gila.


“Mungkin jadi gila akan terasa lebih nyaman,” lirih Firda pelan. “Aku tidak akan sadar betapa buruknya aku sebagai seorang manusia. Aku meninggalkan anak kecil untuk bertahan seorang diri tanpa perbekalan yang layak. Aku benar-benar sampah.”


Tiba-tiba Firda teringat bagaimana pertama kali ia dan Adira menemukan Aron. Bocah itu meringkuk di dalam tong besi yang tidak lagi utuh dengan keadaan antara sadar dan tidak. Firda bersikeras membawanya sementara Adira terus menolak mati-matian.


Dan kini justru Firda yang meninggalkan Aron. Di dalam tumpukan ban. Betapa malangnya nasib bocah itu, ia selalu berakhir disembunyikan untuk ditinggalkan.


***


__ADS_1


__ADS_2