Monster In Me

Monster In Me
Topeng Adnan dan Adira


__ADS_3

Zean menghela napas panjang. Semakin lama ia mengenal Adnan, ia semakin merasa sang pemuda seringkali bertingkah kekanak-kanakan. Mungkin memang seperti itulah sifat Adnan yang sebenarnya, hanya saja, statusnya sebagai kakak tertua membuatnya lebih banyak memperlihatkan sikap yang membuatnya terlihat dewasa. Agar siapa pun bisa melihat bahwa ia adalah kakak yang bisa melindungi adiknya. Bahwa ia adalah laki-laki yang sanggup menghadapi cobaan apa pun yang dunia berikan kepadanya.


Sikap Adnan mungkin berhasil menipu semua orang, tetapi tidak dengan Zean yang selalu menghabiskan waktunya untuk mengamati orang-orang. Karena pekerjaannya sebagai aktor selalu menuntutnya untuk berakting dengan baik, Zean jadi terbiasa mempelajari ekspresi dari banyak orang di sekitarnya. Terutama yang berinteraksi dengannya.


Zean tengah mengejar Adnan yang terus berjalan tidak tentu arah saat kakinya menendang sesuatu yang lembut dan cukup ringan. Pemuda itu sontak berhenti dan terlalu takut untuk melihat ke bawah selama beberapa saat. Kepalanya langsung dipenuhi oleh berbagai kemungkinan benda apa yang telah tanpa sengaja ia tendang. Susah payah Zean menelan ludahnya karena kini seluruh tubuhnya menegang. Ia mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan perjalanan tanpa mencari tahu apa itu.


Namun, tentu saja rasa penasaran seorang manusia sangat sulit untuk disingkirkan. Perlahan, Zean menolehkan kepalanya ke samping, dan mulai mengarahkan matanya untuk melihat ke bawah. Waktu seakan berjalan sangat lambat bersamanya, sebab Zean mulai merasakan tubuhnya pegal karena terus berdiri dengan kaku. Hingga akhirnya, matanya menangkap sebuah benda yang sedari tadi memicu ketakutannya.


Zean refleks menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan.


“Sialan! Ternyata cuma boneka beruang!” umpat pemuda itu sambil menendang sang boneka malang. Boneka itu lantas berguling ke depan, melewati genangan campuran tanah dan cairan manusia.


Setelah puas melampiaskan amarahnya, kini Zean justru tertegun. Teringat bahwa dulu Helsa sangat suka mengoleksi boneka beruang bermacam bentuk dan warna. Kamar adik kecilnya itu bahkan hampir tidak memiliki tempat tersisa untuk boneka baru.


Mengingat Helsa membuat kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dengan segera Zean menengadahkan kepala dan menarik napas dalam. Bermaksud menangkap kembali semua emosi kesedihan yang sempat akan meluap dari dalam dirinya agar tetap berdiam tanpa mengalir keluar menjadi air mata. Zean tidak punya waktu untuk menangis, dan ia juga yakin bahwa Helsa tidak ingin melihatnya lemah.


Dengan tegar Zean memungut boneka itu. Tanpa berpikir panjang ia menggosok sang boneka beruang ke tubuhnya sendiri, hingga kotoran yang semula menempel di bulu-bulu boneka kini menyebar ke pakaiannya. Namun, Zean tidak peduli. Ia menepuk-nepuk setiap bagian boneka itu sebelum menatap lekat-lekat.

__ADS_1


Boneka beruang berwarna cokelat terang itu terlihat sangat menggemaskan dengan ujung hidung yang merah dan membulat. Bulu-bulu hampir menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian wajah, perut, serta telapak tangan dan kakinya. Terdapat tulisan yang disulam dengan benang biru di bagian tengah perutnya. Aron. Mungkin itu adalah nama dari pemilik boneka itu sebelumnya.


“Kamu suka bermain boneka?”


Zean sedikit tersentak saat menyadari Adnan kini berdiri tepat di hadapannya. Pemuda itu menatapnya ingin tahu dengan salah satu alis terangkat. Senyum tipis juga tergurat halus di bibirnya, seolah ia siap menertawakan Zean yang tampak bermain boneka kapan saja.


Tangan Zean yang tengah memegang boneka langsung terulur ke depan Adnan. “Bawalah!”


Sontak kedua mata Adnan membelalak. Ia berjalan mundur dengan ekspresi jijik. “Tidak! Untuk apa? Apa kamu mau mengutukku dengan itu? Biar kuberi tahu, kutukan maupun arwah yang berdiam di dalam boneka itu semuanya tidak nyata! Semua film horor itu hanya kisah fiksi belaka.”


Adnan tampak membuka dan menutup mulutnya berkali-kali. Berusaha menemukan jawaban yang tepat untuk melawan Zean. Tidak kunjung menemukannya, akhirnya ia mendengkus keras. “Baiklah, kau menang. Tapi aku tetap tidak akan membawa benda menjijikkan itu.”


“Kalau nanti kita menemukan air, boneka ini bisa dibersihkan.” Zean terus memaksa hingga kini ia telah menyodorkan boneka itu tepat di depan dada Adnan. Sedikit menekan tubuh sang pemuda. “Cepat ambil! Bukan untukmu, tapi untuk adikmu. Adira pasti membutuhkannya untuk menenangkan diri di tengah mimpi buruk yang terjadi di tempat ini.”


Mendengar itu, Adnan akhirnya tidak lagi mencoba menolak dengan keras. Ia mengambil bonek lusuh itu dan menatapnya dalam. Wajah Adira langsung terbayang di benaknya, tetapi bukan wajah tersenyum maupun ceria seperti yang mungkin akan ditunjukkan oleh anak perempuan yang diberi boneka.


“Sejak dulu, Adira selalu bersikap lebih dewasa dibandingkan gadis seusianya,” gumam Adnan pelan. Perlahan, ia menggelengkan kepala. “Dia tidak akan mau menerima boneka ini. Aku tahu karena dulu aku sempat mencoba memberinya boneka serupa beberapa kali. Tapi semuanya Adira tolak dengan alasan bahwa dia tidak suka mainan tidak berguna.”

__ADS_1


Adnan mengangkat boneka itu tinggi-tinggi. Menggoyangkannya seiring ia melanjutkan ceritanya tentang sang adik. “Boneka beruang seperti ini tidak akan bisa membantunya untuk belajar, maupun untuk membuatnya menjadi anak kesayangan Ayah dan Ibu. Sama seperti sekarang … boneka ini tidak akan bisa membantunya untuk keluar dari sini dengan selamat.”


Zean sempat terdiam mendengar penuturan Adnan. Ia bisa merasakan betapa sang pemuda merindukan adiknya, tetapi tidak mau memperlihatkannya. Sebab jika memang benar Adnan menganggap boneka itu tidak berguna, ia bisa saja melemparkannya ke mana pun. Membuangnya sejauh mungkin. Namun, tidak. Adnan kini justru menggenggam erat boneka itu, hingga bagian perut sang boneka tampak tertekuk ke dalam.


Sebenarnya, seperti apa hubungan Adnan dan Adira? Zean yakin, bahwa sepasang kakak beradik itu cukup akrab satu sama lain, tetapi sepertinya ada yang berbeda pada lingkungan tempat mereka dibesarkan. Adnan tampak sangat terbiasa bersikap tegar, berani, dan selalu berusaha membuat Zean percaya bahwa ia bisa melakukan apa pun tanpa bantuan siapa pun. Seolah ia akan dihukum jika sampai ia memperlihatkan kelemahannya sedikit saja.


Dan dari cerita sang pemuda, Zean bisa menangkap bahwa adik Adnan, Adira, juga memiliki sifat yang tidak jauh berbeda. Zean belum tahu usia Adira dengan pasti, tetapi karena Adnan sendiri masih cukup muda, pasti Adira tidak jauh lebih tua dari Helsa. Tidak seharusnya gadis kecil sepertinya memasang dinding dan topeng tebal untuk menutupi perasaan dan kepribadiannya yang sebenarnya.


Mungkin di titik inilah, Zean benar-benar bertekad untuk menyatukan kembali Adnan dan Adira. Kakak beradik itu sungguh membutuhkan satu sama lain lebih dari apa pun.


“Apa kamu yakin?” tanya Zean kemudian.


Adnan berhenti mengoceh dan menatap Zean penuh tanya. “Apanya?”


“Apa kamu yakin kalau Adira tidak suka boneka?”


***

__ADS_1


__ADS_2