
“Anak-anak yang wali kelasnya Bu Danita pasti senang, ya. Mereka dibimbing oleh guru yang baik, lembut, dan perhatian,” ucap salah satu guru perempuan senior yang duduk di depan Danita.
Danita yang semula telah siap menyantap semangkuk mi ayam yang baru saja diantarkan Ibu Kantin lantas terdiam. “A-apa, Bu?”
Guru senior tersebut lantas tertawa pelan. “Aduh, tidak perlu malu-malu begitu. Semua guru juga tahu kalau Bu Danita itu favoritnya anak-anak! Kalau saya, sih, sudah terkenal galak. Begitu para siswa yang melihat saya, mereka akan langsung berlari ketakutan.”
“Ah, Ibu bisa saja.” Tidak nyaman, Danita lantas menundukkan kepala. Seolah-olah mi serta potongan daging dalam mangkuk di hadapannya terlihat sangat menarik. Danita sangat berharap sang guru senior bisa mengerti bahwa ia sedang tidak ingin diajak bicara. Apalagi jika topik pembicaraannya berhubungan dengan wibawanya sebagai guru.
Karena sesungguhnya, meski ia sudah bekerja sebagai guru honorer selama lebih dari dua tahun, Danita masih sangat meragukan kemampuan serta kualitas dirinya dalam mengajar dan memberikan contoh terbaik untuk para murid. Tidak jarang ia merasa takut akan memberikan pemahaman yang salah, atau tanpa sengaja menyakiti anak-anak dengan kata-katanya.
Dan yang paling Danita takuti adalah kebiasaannya mencubit atau menjewer anak laki-laki. Entah kenapa ia selalu memiliki pikiran buruk tentang remaja laki-laki, seperti pemikiran bahwa mereka harus dididik dengan sedikit lebih keras agar mau menurut. Padahal ia selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu tidak benar, tetapi tetap saja, keyakinan lama tidak akan bisa disingkirkan dengan mudah.
“Jangan dipikirkan! Guru juga manusia. Sama seperti para siswa. aku juga masih perlu banyak belajar,” gumam Danita dalam hati sambil memutar mi dengan garpu. Ia melahap dan mengunyahnya dengan terburu-buru hingga hampir tersedak. Segelas air mineral hampir habis ditenggaknya.
Ia pikir dengan begitu ia akan bisa melupakan rasa bersalahnya, tetapi kenyataannya tidak. Semua kegelisahannya itu justru semakin menumpuk dari hari ke hari. Bertambah parah hingga ia hampir kehilangan kendalinya sendiri. Danita merasa begitu payah dan tidak berdaya. Hingga berpikir bahwa semua orang juga mengetahui kekurangannya.
__ADS_1
Sampai akhirnya, ketika ia memasuki kelas di mana para siswanya tengah saling bergurau, Danita nyaris tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Ia menjewer telinga Abian yang tengah menggunakan topeng aneh serta mencore wajahnya sendiri dengan cat merah. Ibu jari serta jari telunjuk Danita tampak memutih dari caranya menjewer dengan kencang. Beruntung, hanya butuh beberapa detik sampai akhirnya ia menyadari apa yang sedang ia lakukan. Danita melepaskan telinga Abian dengan sedikit menariknya tanpa sengaja. Hingga pemuda tersebut meringis dibuatnya.
Sampai saat ini Danita masih mengingat bagaimana ekspresi murung Abian saat itu. Sang guru muda tidak henti-hentinya melirik ke arah pemuda yang kini tengah bersembunyi di balik pohon besar, di seberang posisinya saat ini. Mengawasi pergerakan zombie di sekitar sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
“Selama ini aku telah menjadi guru yang buruk,” pikir Danita sambil menghela napas pelan. “Aku tidak pernah mencoba untuk benar-benar memahami setiap karakter siswa dengan baik, dan hanya bersikap lembut kepada siswa perempuan yang aku pikir mempunyai kepribadian lebih baik dari siswa laki-laki.”
Danita mengepalkan kedua tangan hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Ia merasakan nyeri dan perih, tetapi tidak sedikit pun ia mengeluh. Kedua matanya menatap sekitar dengan awas sambil memperhitungkan posisinya serta posisi anak muridnya yang masih bertahan bersamanya.
“Aku tahu tempat ini. Aku melihatnya dari peta di dekat gerbang saat baru sampai ke tempat ini.” Danita menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. “Kalau tidak salah, di dekat sini ada gerbang lain yang dikhususkan untuk jalur keluar masuknya bus antar wahana … tunggu!”
Namun, tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Hal yang terpenting saat ini adalah Danita harus menemukan cara untuk menyelamatkan para siswa. Dan kalau bisa, menemukan siswa lainnya yang mungkin masih bertahan di lokasi masing-masing.
Guru muda itu lantas merasakan nyeri di dadanya saat menyadari bahwa tidak sedikit pun ia berpikir bahwa akan ada rekan satu profesinya yang masih bertahan. Mau bagaimana lagi? Sebab kebanyakan guru yang ikut karya wisata kali ini sudah cukup tua atau memiliki penyakit yang cukup melemahkan tubuh. Danita tidak yakin mereka akan mampu bertahan di tengah semua serangan serta tekanan dari serangan banyak mayat hidup di hampir seluruh wilayah Taman Bermain itu.
Meskipun begitu, sekarang ia mulai berharap akan ada setidaknya satu rekan sesama guru yang datang. Sebab Danita tidak tahu sampai kapan ia mampu bertahan. Ia mulai mencemaskan keselamatan para siswa jika sampai ia menyerah dan memilih untuk meninggalkan dunia ini daripada harus terus bertarung melawan zombie.
__ADS_1
Tampaknya, di balik semua dosa yang pernah Danita lakukan, ia masih punya cukup kebaikan yang mengundang keberuntungan. Di saat ia tidak kunjung menemukan cara untuk membimbing para siswa keluar dari persembunyian dengan selamat, tiba-tiba seseorang datang dan menyiramkan sesuatu dari salah satu atap bangunan toilet tidak jauh dari sana. Orang itu juga mengayunkan beberapa batang kayu yang telah terbakar hebat ke arah gerombolan zombie hingga akhirnya api mulai berkobar. Nyala api tidak terlalu besar untuk memicu kebakaran yang akan melahap habis seluruh mayat hidup itu, tetapi cukup untuk mengalihkan perhatian.
“Ke sini! Sebelah sini!”
Danita mendengar sosok tersebut berteriak ke arahnya. Perempuan itu lantas memicingkan mata untuk mencari tahu siapa orang yang sedang memanggilnya itu.
Buru-buru Danita menutup mulutnya yang menganga. Kedua matanya berkaca-kaca oleh luapan kebahagiaan yang meliputi benaknya. “Pak Gunawan!” panggilnya setelah yakin bahwa guru seniornya memang benar-benar sedang berdiri tidak jauh darinya.
Menyadari bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya merayakan keselamatan rekan satu profesinya, Danita lantas kembali berkonsentrasi untuk mencari cara membawa para siswa menuju tempat yang ditunjukkan Gunawan dengan selamat. Sebab jalur yang akan mereka lalui belum sepenuhnya terbebas dari para zombie.
“Abian! Evan! Kalian pergi lebih dulu! Larilah secepat mungkin dan jangan melihat ke belakang! Mereka tidak akan bisa menyamai kecepatan kalian!” titah Danita kemudian sambil menatap kedua siswa yang baru saja dipanggilnya. Dengan mantap Abian dan Evan mengangguk, meskipun wajah keduanya masih tampak ketakutan.
Setelah memastikan dua siswanya benar-benar bisa berlari sambil menghindari para zombie yang tersisa, Danita menghampiri Karsa dan Trisha yang sedari tadi bersembunyi tidak jauh darinya. “Ayo, sekarang giliran kita! Karena kita tidak bisa bergerak secepat Abian dan Evan, kita harus waspada dan saling melindungi. Mengerti?”
Sebisa mungkin Danita menjaga ekspresinya agar terlihat berani. Meskipun sesungguhnya ia juga ingin merengek dan menangis seperti Trisha yang memeluknya erat saat ini.
__ADS_1
***