
“Hah! Lihat itu! Benar-benar menjijikkan!” Taka tertawa mengejek salah satu zombie yang tengah menoleh ke sana kemari dengan gerakan patah-patah. Ia bahkan sampai meniru gerakan sang zombie itu sambil melebih-lebihkan ekspresi wajahnya dengan menjulurkan lidah. “Sial! Mereka terlihat sangat bodoh! Kenapa orang-orang bisa takut kepada makhluk bodoh begitu?”
Pemuda itu lantas mencondongkan tubuh, bersandar sepenuhnya pada dinding balkon bangunan tiruan istana kerajaan. Kedua tangannya menopang dagunya sementara ia menatap penampilan kacau Taman Bermain Cakrabuana yang dapat ia lihat dengan jelas dari ketinggian. Tidak sedikit pun ia takut akan zombie yang mungkin akan datang dan menyerangnya dengan tiba-tiba. Karena hari ini bukan akhir pekan, bangunan istana ditutup rapat. Banyak gembok terpasang di setiap pintu masuk. Taka cukup kesulitan menemukan jalur untuknya memanjat sampai ke atas.
“Kira-kira seberapa banyak teman-temanku yang selamat?” tanyanya kepada diri sendiri. Perlahan, senyum tipis terukir di wajahnya. “Trisha pasti masih hidup, kan? Anak itu akan menempeli Karsa atau siapa pun yang sanggup melindunginya. Tipe parasit yang akan terus bertahan hingga akhir.”
Brak!
Taka tersentak oleh suara keras yang tiba-tiba terdengar. Ia melirik ke bawah dan melihat bagaimana zombie yang mungkin baru saja menabrakkan diri ke salah satu air mancur di depan istana tengah tersungkur dan menggeram hebat. Mengundang banyak mayat hidup lainnya untuk juga mengeluarkan suara yang memilukan sekaligus mengerikan. Meskipun tidak takut, Taka akui ia cukup terganggu oleh suara mereka yang bersaing dengan suara lolongan anjing di kejauhan.
Meskipun begitu, ia justru bersenandung dan merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel yang layarnya telah dihiasi banyak retakan. Taka meniup layar ponsel itu beberapa kali, lalu mengusapkannya ke baju untuk menyingkirkan beberapa kotoran yang tersisa, sebelum akhirnya ia mencoba menghidupkannya. Pemuda itu bersorak riang saat merek ponselnya terpampang jelas di layar benda pipih itu.
“Sayang sekali air mancur itu sedang tidak memancarkan air, tapi lampunya terlihat cukup indah,” ucapnya sambil membuka aplikasi kamera. “Yang kayak gini wajib direkam. Nanti aku edit sedikit biar lebih dramatis, lalu upload ke media sosial. Pasti bakal heboh! Semoga saja belum ada orang yang mendahuluiku.”
__ADS_1
Terburu-buru Taka merekam suasana di bawah, karena suara para zombie itu semakin melemah seiring waktu. Dengan khusus ia memusatkan fokus kameranya kepada zombie yang sedang berusaha kembali berdiri, tetapi malah berakhir di posisi menyerupai posisi kayang.
Baru saja Taka tertawa puas saat tiba-tiba layar ponselnya mati. “Ah! Sial! Ternyata benda usang ini rusak setelah tadi jatuh terbanting!” gerutunya. Ia lantas mengayunkan tangan dan melemparkan ponselnya. Berseru ketika benda itu mendarat tepat di kepala salah satu zombie.
Taka merasa bangga karena ia tetap dapat melihat dengan baik meskipun penerangan malam ini tidak terlalu terang.
“Hah … sekarang aku harus apa?” keluhnya lagi. Sebagian besar dari waktunya saat ini benar-benar diisi oleh keluhan. Setiap kali ia menemukan hal yang menarik untuk dilakukan, ia akan cepat merasa bosan dan kembali mengeluh. Beruntung, ia hanya sendirian saat ini. Jika tidak, dapat dipastikan orang yang sedang bersamanya akan merasa kesal atas tingkah lakunya.
Hingga akhirnya matanya menangkap penampakan sebuah benda panjang dan hitam yang berdiri di ujung balkon. Setelah berjalan mendekat, wajahnya lantas berseri karena mengenali benda apa itu.
Bibir Taka membentuk seringai menjijikkan saat ia mengarahkan teropongnya pada zombie wanita yang tengah berjalan memutar dengan langkah diseret serta kepala terkulai ke samping. Zombie itu terlihat menyedihkan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, sementara salah satu tangannya menggantung dan terlihat hampir putus. Namun, bukan itu semua hal yang menjadi pusat perhatian sang pemuda saat ini.
Tanpa ragu-ragu Taka mengarahkan teropongnya agar memperlihatkan bagian pundak sang zombie yang terpampang jelas. Bajunya yang telah terkoyak membuat sebagian tubuhnya terekspos. Sang mata keranjang menikmati pemandangan yang tidak seharusnya membuat dirinya kegirangan. Ia sama sekali tidak peduli jika sikapnya saat ini dinilai tidak bermartabat.
__ADS_1
“Tidak ada gunanya mempertahankan moral di dunia yang kacau seperti ini,” ucapnya membela diri meskipun tidak ada makhluk di sekitar yang mampu menghakimi perbuatannya. “Salah sendiri, kenapa pakai baju yang mudah sobek seperti itu?” Taka mendecakkan lidah sambil menjauh sejenak dari teropong guna meluruskan punggungnya yang terasa pegal karena harus terus sedikit membungkuk. “Aku lebih baik mengakhiri hidupku sendiri daripada harus menjadi seperti mereka.”
Sempat Taka ingin berhenti bermain dengan teropong, tetapi ia melihat pergerakan yang cepat berada tidak jauh dari halaman istana. Dengan penasaran ia akhirnya mencoba mencari tahu apa itu. “Tidak ada zombie yang bergerak secepat itu,” gumamnya.
Benar saja. Saat ia mengatur fokus serta jarak pengamatannya, ia mampu melihat dengan cukup jelas bahwa makhluk yang tengah berlarian sambil membungkuk itu adalah manusia. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun orang asing itu berpindah dari satu semak-semak ke semak-semak lainnya. Dengan lihai menyembunyikan keberadaannya dari para zombie yang masih berkeliaran tanpa tujuan.
“Tunggu! Itu bukan satu orang, tapi dua!” Taka melebarkan kedua matanya saat menyadari bahwa pria yang bergerak dengan lincah itu menggendong seorang anak kecil. “Perempuan atau laki-laki? Tidak terlihat jelas tapi yang pasti itu anak kecil.”
Dan hal yang membuat Taka mempertimbangkan diri untuk segera turun dari posisinya adalah ransel besar yang berada di punggung sang anak. “Dia bersusah payah membawa anak kecil sekaligus ransel sebesar itu. Pasti isi ransel itu sama pentingnya dengan nyawa mereka.”
Mendadak punggung Taka mengeluarkan suara keroncongan. Lambungnya yang kosong mulai memaksanya untuk mencari makanan. Terakhir kali Taka menyantap makanan adalah saat ia masih berada di dalam bus bersama rombongan sekolah, itu pun hanya berupa roti isi yang tidak cukup membuatnya puas. Jadi, wajar saja jika saat ini ia sudah merasa sangat kelaparan.
Mudah saja baginya untuk bepergian ke pusat pertokoan terdekat, tetapi ia tahu bahwa semua penyintas yang tersisa pasti akan menuju ke sana. Ia sangat malas jika harus berinteraksi dengan mereka atau bahkan bergabung dan bergerak dalam kelompok orang lain. Sebab ia sendiri lebih nyaman bergerak sendiri, karena ia tidak akan memiliki tanggung jawab untuk melindungi orang yang lebih lemah darinya.
__ADS_1
“Menghadapi satu sampai dua orang jauh lebih mudah dari menghadapi banyak orang sekaligus.” Taka bersedekap dada sambil terus memperhatikan pria bertopi dan anak kecil yang kini masih diam beristirahat di dekat pagar pembatas antara istana dan wahana terdekat. Bersembunyi di balik bayangan yang terbentuk karena keterbatasan penerangan. “Kalau begitu, aku rampas saja ransel mereka.”
***