Monster In Me

Monster In Me
Hampir Saja


__ADS_3

“Hah … gila, gila! Tadi itu hampir aja, Dir! Hampir!” seru Firda heboh sambil duduk di atas dinding Taman Bermain Cakrabuana dengan kedua kakinya yang masih bergetar menggantung ke bawah. Napasnya juga masih terengah-engah hingga ucapannya sedikit terputus-putus. “Aku gak tahu lagi harus gimana kalau sampai kamu benar-benar jatuh! Adira, teganya kamu membuatku jantungan!”


Adira yang kini berada dalam posisi telungkup, memanjang di atas dinding lantas merengut. “Kamu pikir aku mau terjatuh begitu saja? Kematianku harus lebih keren dari itu!” sanggah gadis itu. Menutupi fakta bahwa ia sebenarnya sempat pasrah dan menerima semuanya jika memang saat itu waktunya untuk pergi meninggalkan dunia. Kini saat ia telah selamat, Adira menolak mengingat semua itu kembali.


“Hush! Jangan sembarangan sebut kematian, dong! Kamu tahu sendiri kalau nyawa kita sedang berada di ujung tanduk karena—loh? Sejak kapan lemparan batu itu berhenti?”


Kedua gadis itu lantas menegakkan tubuh dan mulai mengamati sekitar. Suasana saat ini begitu tenang, sama seperti pertama kali mereka menaiki dinding Taman Bermain. Hanya angin yang sesekali berhembus yang membuat mereka berdua sedikit bergidik. Namun, selain itu, tidak ada hal lain yang mengusik Adira dan Firda, apalagi sampai mengancam nyawa mereka berdua.


“Mungkin orang itu sudah bosan? Melempar batu juga membutuhkan energi. Manusia yang cukup pintar tidak akan menyia-nyiakan energinya seperti itu. Apalagi di saat nasibnya sendiri belum jelas di tempat ini,” jawab Adira panjang lebar sambil meregangkan tangannya ke depan dan ke belakang tubuh. Ia sedikit meringis saat mendapati lebam kemerahan yang menghiasi bagian tubuhnya itu. Otot-ototnya juga terasa sakit seolah ia telah melakukan gerakan pull up ratusan kali.


Baiklah, itu sedikit berlebihan. Adira sendiri tidak pernah benar-benar berolah raga, maka dari mana ia tahu rasanya melakukan pull up berkali-kali?


“Apa kamu yakin yang menyerang kita itu manusia?” Firda tampak menatap Adira lekat-lekat. Kedua matanya membesar seolah akan keluar dari tengkoraknya. Ia juga memegang sisi dinding di bawahnya erat-erat. Sepertinya, kejadian tadi masih membuatnya sangat ketakutan, hingga tidak ingin melepaskan pegangan.

__ADS_1


Adira memalingkan wajahnya dan melihat ke depan. Sengaja memusatkan fokusnya kepada pohon besar yang berdiri menjulang tidak jauh dari tempat mereka berada. “Kamu sendiri yang bilang kalau itu tidak mungkin zombie, karena mayat hidup tidak sepintar itu. Karena bukan zombie, ya, berarti manusia.” Adira memejamkan mata erat sambil mengatur laju napasnya yang belum kembali normal. Sama sekali tidak menyadari Firda yang refleks merentangkan tangannya di depan tubuh Adira, guna mencegah temannya itu terjatuh.


Saat Adira membuka mata, tangan Firda sudah kembali berpegangan ke dinding.


Selama beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang buka suara. Adira hanya memandang ke depan, sementara Firda melihat ke bawah. Mencari-cari sesuatu yang bisa membantu mereka untuk turun. Baik di dalam gerbang kedua Taman Bermain, maupun di luarnya. Di titik ini, Firda sudah tidak lagi peduli apakah ia akan keluar dari sini atau tidak. Hal yang paling penting adalah ia tidak ingin lagi berada di atas dinding dengan lebar tidak lebih dari setengah meter, sementara tingginya beberapa kali lipat dari tinggi tubuh manusia pada umumnya.


Baru saja Firda akan membicarakan keinginannya untuk turun saat tiba-tiba Adira berbicara. “Ternyata sia-sia, ya, naik ke sini. Maafkan aku karena terlalu gegabah.” Suara Adira terdengar lemah, tidak seperti biasanya. Selama Firda mengenal Adira, ia selalu melihat temannya itu berbicara dengan tegas serta kepercayaan diri penuh. Kali ini berbeda, Adira tampak tidak yakin atas semuanya. Ia bahkan tidak sanggup berbicara sambil menatap mata Firda.


Firda menggelengkan kepala sambil memberanikan diri untuk menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Adira. Ia melepas pegangan salah satu tangannya dan memegang lutut sahabatnya itu. “Jangan bilang begitu. Aku tidak mungkin mau mengikutimu kalau aku juga tidak berpikir bahwa ini ide yang bagus. Aku juga minta maaf karena sebelumnya aku terlalu banyak mengeluh. Padahal aku sendiri tidak punya ide yang lebih baik.”


Karena ia tahu betul seberapa Adira menjaga harga dirinya. Adira tidak akan pernah mengaku kalah hanya karena satu kesalahan. Dan hanya akan meminta maaf jika ia benar-benar berpikir telah mengacaukan keadaan seperti saat ini.


Hanya sampai di situ saja. Adira hanya akan melakukan salah satu, antara minta maaf dan menangis. Ia tidak akan melakukan keduanya secara bersamaan atau berturut-turut.

__ADS_1


Saat ini, yang bisa Firda lakukan hanyalah menunggu sampai Adira mengungkapkan semua yang ada di pikirannya, dan mendengarkan di saat gadis itu mulai berbicara. Meskipun Firda sangat ingin untuk segera turun dari posisi mereka saat ini, ia pikir ia masih bisa menunggu sebentar lagi.


“Meski aku tidak mau mengakuinya, sebenarnya aku mengajakmu naik kemari dengan harapan besar.” Akhirnya Adira memulai ceritanya. “Sejak kekacauan ini terjadi, aku memang belum mempunyai kesempatan untuk menghubungi keluargaku, tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu bahwa mereka akan segera datang menyelamatkanku. Terutama Kakak. Kamu tahu, kan, kalau kakakku yang memaksaku untuk kemari?”


Firda menganggukkan kepala dengan ragu. “Aku tahu. Jadi, apa sekarang kamu marah kepada kakakmu?”


“Apa? Tidak! Tidak sama sekali!” sanggah Adira tegas. “Bukan salahnya jika aku terlalu banyak mengasingkan diri dan belajar sekuat tenaga demi prestasi yang tidak seberapa. Bisa kubayangkan seberapa frustrasinya Kak Adnan melihatku yang tidak punya banyak teman karena tidak pandai bergaul. Padahal sebenarnya, aku memang sengaja hidup seperti itu.”


“Aku juga tahu soal itu,” jawab Firda lagi. Kali ini ia sedikit tersenyum melihat Adira yang tampak tidak menyukai jawabannya. “Apa kamu ingat seberapa ketusnya kamu kepadaku saat kita pertama kali bertemu? Kupikir aku sedang berhadapan dengan macan betina.”


“Hey!”


“Tapi itulah yang membuat aku sangat ingin menjadi temanmu.” Firda terus melanjutkan ucapannya tanpa mengindahkan protes dari Adira. “Kamu memiliki aura yang menakutkan, tapi aku melihatnya sebagai pertahanan dirimu sendiri agar tidak sembarangan orang bisa mendekatimu. Itu artinya kamu tahu seberapa berharganya dirimu. Dan menurutku, hal itu sangat mengagumkan.”

__ADS_1


“Kamu benar-benar luar biasa.”


***


__ADS_2