
“Bagaimana kalau main video game?”
“Lagi? Kemarin kita sudah memainkannya sampai tengah malam!”
“Kalau begitu, mau ke luar dan bersepeda?”
“Katanya hari ini akan hujan deras. Kita di sini saja.”
“Terus kita harus melakukan apa?” Karsa yang mulai kesal tanpa sadar berteriak. Ia mengarahkan telunjuknya ke arah Evan yang hanya menatapnya dengan malas. “Kamu selalu menolak setiap saranku. Sekarang giliranmu yang memikirkan bagaimana kita harus mengisi waktu hari ini!”
“Aku tidak selalu menolak. Buktinya kemarin aku mau saja diajak main game balap mobil kesukaanmu,” sahut Evan tidak acuh. Ia yang sedang duduk di atas karpet sambil bersandar di sisi ranjang tempat tidur, lantas berdiri dan menghampiri meja belajarnya yang penuh dengan sticky notes. Dengan teliti ia membaca salah satu catatan yang menempel di dekat lacinya. “Kalau aku yang pilih, aku akan memaksamu belajar Fisika hari ini.”
Karsa membelalakkan mata sebelum ia mendengkus keras. “Kenapa aku bisa lupa bahwa aku bertetangga dan berteman dekat dengan seorang kutu buku?” keluhnya. Tampaknya ia sudah menyerah untuk mengajak Evan bermain, sebab kini ia menghampiri kasur Evan dan berbaring nyaman di sana. “Kamu belajar saja. Aku akan temani sambil tidur siang.”
“Terserah saja. Tapi jangan menggila jika nilaimu hancur juga kali ini.”
“Bagaimana kamu tahu kalau nilaiku akan hancur?”
Evan mengendikkan bahu tanpa menoleh ke arah Karsa. “Aku sudah terjebak denganmu sejak ospek SMP sampai sekarang kita kelas 9. Kamu pikir masih ada hal yang aku tidak ketahui tentangmu?”
Karsa mendengkus tetapi tidak lagi menyanggah apa pun. Ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar Evan. Hal yang selalu ia lakukan setiap kali datang ke rumah tetangga sekaligus sahabatnya itu. Entah untuk sekadar mampir, atau menginap. Karsa sudah menganggap rumah Evan sebagai rumah keduanya.
Siapa pun tidak akan pernah menyangka, ia dan Evan yang memiliki kepribadian yang cukup bertolak belakang bisa berteman sedekat ini. Setiap orang yang mengenal mereka pasti akan mengatakan bahwa suatu saat nanti mereka berdua akan berselisih pendapat dan memutus pertemanan karenanya. Karsa dan Evan tidak pernah serius menanggapi hal itu.
Sebab Karsa cukup menikmati berteman dengan Evan yang meski seringkali bersikap kaku, tetapi sebenarnya selalu siap mendengarkan setiap keluh kesahnya. Karsa tidak pernah takut menceritakan apa pun karena ia tahu, Evan tidak akan pernah repot-repot menyebar ceritanya tanpa seizinnya. Bahkan sepertinya Evan selalu lupa tentang apa saja yang Karsa ceritakan kepadanya. Dan itu sama sekali bukan masalah bagi Karsa. Karsa memang hanya membutuhkan telinga untuk mendengar, bukan otak untuk mengingat maupun bibir untuk mengucapkan nasihat.
__ADS_1
Karsa juga yakin bahwa Evan tidak pernah menyesal berteman dengannya. Meskipun ia tidak tahu pasti alasannya.
“Kalau dipikir-pikir, aku jadi penasaran juga,” ucap Karsa tiba-tiba. Sementara Evan hanya bergumam tanpa benar-benar mengucapkan apa pun. Hanya memberi Karsa tanda bahwa ia sedang mendengarkan. “Kenapa kamu mau berteman denganku? Padahal sepertinya kamu tipe orang yang lebih suka menyendiri.”
Terdengar suara pulpen membentur meja. Tampaknya Karsa telah mengganggu sesi belajar Evan, sehingga pemuda kutu buku itu memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya dan berbalik. Kini ia duduk dengan menghadap sandaran kursi. “Kenapa aku mau berteman denganmu? Bukan aku yang mau, tapi kamu. Kamu bilang kita harus akrab karena bertetangga.”
Karsa mengerutkan kening, ia tidak suka jawaban Evan. “Kamu, kan, bisa menolak. Tapi kamu tidak melakukannya.”
“Karena menolak akan lebih membuatku kebingungan,” jawab Evan cepat. “Kalau ada yang bertanya, kenapa aku menolak berteman denganmu, aku tidak akan tahu jawabannya.”
“Astaga. Ucapanmu sungguh sulit dimengerti.” Karsa mengusap wajahnya dengan kedua tangan sambil menggeram, sementara Evan hanya tersenyum penuh kemenangan.
Hening mengisi suasana selama beberapa saat sebelum akhirnya mereka kembali ke urusan masing-masing. Evan dengan buku belajarnya, dan Karsa menyambut bunga tidur di kasur Evan.
***
“Kamu yakin ada jalan?” tanya Evan ragu. “Awas saja jika kamu membuatku bolos kelas dengan percuma!”
Ancaman Evan sama sekali tidak membuat Karsa takut. Justru sebaliknya. Senyumnya terlihat semakin lebar menyaksikan keraguan Evan. “Tenang saja. Aku sering kemari. Bisa aku pastikan kamu akan suka dengan menu warung makan di sana! Makanan di sana jauh lebih enak dari makanan di kantin!”
Evan pasrah mengikuti Karsa, hingga akhirnya mereka melihat semak-semak besar yang menutupi dinding luar sekolah. Kening Evan berkerut saat Karsa mengambil sebuah dahan pohon patah dan menggunakannya untuk menyingkirkan sebagian daun dan ranting yang menutupi bagian tertentu dari tembok. Ia baru saja akan bertanya saat kemudian matanya melihat sebuah lubah yang cukup besar untuk dilewati satu orang.
“Sepertinya orang desa ada yang sengaja melubanginya untuk memotong jalan,” ujar Karsa sambil terkekeh melihat raut kebingungan Evan. “Aku menemukannya saat sedang bersembunyi dari guru kesiswaan yang galak itu.”
Bagaikan tersihir, Evan hanya berjalan tanpa mengatakan apa pun. Ia melewati lubang itu tanpa sedikit pun memikirkan konsekuensi yang akan mereka terima jika sampai ada yang memergoki mereka. Mungkin memang benar, bahwa Evan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, sehingga hal sederhana seperti ini saja mampu membuatnya sangat tertarik.
__ADS_1
Dan ternyata tidak sia-sia ia mengekori Karsa. Karena makanan di warung makan yang mereka datangi setelah melewati gerbang dan gang seribu belokan itu benar-benar memiliki cita rasa luar biasa. Evan sampai makan lebih banyak dari biasanya.
Atau memang perutnya sudah terlalu lapar karena harus berlarian sambil menghindari guru dan siswa lainnya. Namun, Evan tidak mau memikirkan hal itu. Untuk sekali ini saja, ia ingin mengakui bahwa berteman dengan Karsa cukup berguna untuknya.
“Apa kita benar-benar harus kembali?” tanya Karsa sambil mengusap perutnya yang terasa kepenuhan. “Rasanya aku ingin pulang saja dan tidur sampai malam.”
“Pulang saja kalau mau. Aku akan kembali ke sekolah sendirian,” jawab Evan. Pemuda itu telah kembali bersikap tidak acuh seperti biasanya. “Kamu boleh pergi setelah menunjukkan aku jalan kembali.”
Buru-buru Karsa bangkit saat melihat Evan sudah berdiri dan mengambil ranselnya. “Kalau begitu aku juga akan kembali saja. Ayo, ikuti aku.”
Setelah membayar, mereka berdua keluar dari warung makan dan menelusuri jalan pulang. Awalnya, Evan berjalan santai di belakang Karsa sampai tiba-tiba Karsa berhenti berjalan.
“Apa? Ada apa?” tanya Evan saat ia melihat raut wajah Karsa memucat.
“Sebenarnya, aku hanya pernah kemari satu kali.” Perlahan, Karsa membongkar kebohongannya sendiri. “Maaf, aku berbohong karena takut kamu tidak akan mau kemari.”
Evan mengerutkan kening. Sesungguhnya ia merasa kesal, tetapi karena ia juga menikmati makanan tadi, akhirnya ia hanya menghela napas berat. “Tidak apa-apa. Aku mengerti.”
“Dan satu hal lagi.”
“Apa lagi?”
Karsa menunduk dan memainkan jari-jarinya sendiri. “Aku … lupa jalan pulang.”
“Apa?!”
__ADS_1
***