Monster In Me

Monster In Me
Terkena Gigitan?


__ADS_3

“Sejak kapan dia tergigit?” teriak Trisha histeris. “Aku sama sekali tidak melihatnya! Jadi bagaimana bisa dia jadi seperti ini?”


Suara melengking gadis tersebut menyayat semua orang yang berada di sana. Namun, tidak ada satu pun orang yang tampak khawatir akan kemungkinan kedatangan zombie. Sebab mereka kini berada di salah satu balkon replika istana kerajaan. Gunawan telah bersusah payah membantu mereka naik satu per satu.


Seharusnya, kini mereka bisa bernapas lega sambil mengistirahatkan diri di tempat yang cukup aman untuk mereka itu. Hanya saja, satu masalah besar yang sangat tidak diharapkan justru terjadi.


Karsa menggeram sambil meronta dengan bola mata berputar ke belakang. Menyisakan warna putih dengan gurat kemerahan yang tampak sangat mengerikan. Suara pemuda itu terdengar begitu menakutkan berpadu dengan suara derak tulang-tulang dari tubuhnya yang terus ia tekuk ke berbagai sudut.


“Mana aku tahu?” tanya Abian kesal sambil menahan kedua tangan Karsa ke dinding. “Evan! Tahan kakinya! Aku takut dia menendangku!”


“Jangan teriak-teriak! Aku sedang berusaha!” balas Evan dengan suara tidak kalah nyaring.


Sementara itu, Danita yang masih belum memahami apa yang sedang terjadi hanya bisa termenung menyaksikan semuanya. Ia berdiri mematung di samping Gunawan. Sang guru senior itu sibuk mengurai tali tambang yang ia temukan di perjalanan tadi.


“Tidak apa-apa, Bu Danita. Biar aku yang atasi ini,” ucap Gunawan sebelum menghampiri Evan, Abian, dan Karsa yang menjerit layaknya seekor anjing yang kesakitan.


Sang Guru Olahraga menyumpal mulut Karsa dengan kain serta mengikat tangan juga kaki pemuda itu dengan tenang. Seolah ia tidak sedang menyiksa anak muridnya sendiri dan mengikat ikatan dengan sangat kencang. Namun, tatapan sendunya memperlihatkan dengan jelas dukanya saat ini.


Tidak pernah satu kali pun ia membayangkan akan melihat salah satu siswanya begitu tersiksa oleh sesuatu yang menguasai kesadarannya dari dalam. Membuatnya terus meronta dan mengamuk, hingga tidak terlihat lagi seperti manusia normal. Susah payah Gunawan mengendalikan dirinya sendiri agar tetap terlihat tegar, demi siswa-siswi lain yang masih bertahan bersamanya. Demi Danita, guru muda yang kini bergantung kepadanya.


Setelah memastikan Karsa telah terikat pada salah satu tiang balkon hingga tidak bisa lagi banyak bergerak, Gunawan menyibak pakaian anak muridnya itu dengan hati-hati. “Kita harus mencari sumber infeksinya. Kira-kira dari mana ia bisa tertular virus zombie itu?”

__ADS_1


“Seharusnya hanya bisa menular lewat gigitan!” jawab Abian yakin. Ia kini tengah duduk berselonjor dengan napas terengah-engah. Rupanya tenaga Karsa yang besar mampu membuatnya sangat kelelahan. “Ah! Tapi di film zombie sekolah yang akhir-akhir ini kutonton menunjukkan kalau virus juga bisa menular jika mengenai luka yang terbuka!”


“Tidak adakah sumber pengetahuan lain tentang zombie selain film?” tanya Evan dengan sinis.


Abian mengendikkan bahu. “Mungkin ada. Tapi bagaimana bisa aku tahu? Aku tidak suka membaca.”


“Bapak menemukan sesuatu?” tanya Trisha yang kini sudah tampak lebih tenang. Gadis itu berdiam di tempatnya dengan wajah yang penuh dengan jejak air mata. Ia sungguh tidak terima melihat Karsa yang telah berubah menjadi salah satu mayat hidup yang selama ini mereka hindari. “Aku selalu bersama Karsa sejak kekacauan ini terjadi. Jadi bagaimana bisa dia berubah sedangkan aku tidak?”


“Tidak ada gigitan.” Alih-alih menjawab pertanyaan Trisha, Gunawan memilih untuk menjelaskan kondisi Karsa saat ini. Berharap akan menemukan jawaban dengan berdiskusi. “Di kepala, leher, tubuh bagian atas, hingga bawah. Aku tidak menemukan tanda bekas gigitan. Tentu saja aku tidak membuka pakaiannya seluruhnya, tetapi dilihat dari tidak adanya kain yang sobek, aku yakin bahwa Karsa sama sekali tidak tergigit.”


“Kalau begitu, menular lewat luka?” Danita mulai ikut bertanya. Biar bagaimanapun, ia harus mengetahui sebanyak mungkin informasi mengenai virus zombie agar bisa melindungi para siswa. “Apa Karsa memiliki luka yang menganga atau cukup parah?”


Gunawan menghela napas panjang. Ia beranjak meninggalkan Karsa yang belum juga berhenti meronta, lalu mengajak Danita dan para siswa untuk duduk melingkar. Dengan sangat berat hati ia mengemukakan pemikirannya. “Hanya ada luka gores di tubuh Karsa. Luka yang paling parah hanyalah luka benturan dan memar yang cukup besar di kakinya. Selain itu tidak ada lagi yang terlihat mencurigakan.”


“Benar! Bapak pasti melewatkan sesuatu!” sahut Trisha. “Abian, coba periksa Karsa sekali lagi!”


“Enak saja! Aku tidak mau!”


“Aku ini lebih tua beberapa bulan darimu! Kamu harus menuruti perintahku!”


“Lebih tua apanya! Kenapa kamu bangga sekali dengan itu?”

__ADS_1


“Diam dulu, Abian, Trisha.” Danita menatap kedua muridnya bergantian dengan wajah sendu. “Pak Gunawan belum selesai bicara.”


Sesaat Gunawan mengedarkan pandangan ke sekeliling balkon. Keningnya sedikit berkerut melihat berbagai barang yang seharusnya tidak ada di sana, seperti sampah makanan, serta sebuah celana kumal yang terlihat seperti celana seragam SMA. Salah satu teropong yang biasanya pengunjung gunakan untuk melihat pemandangan yang jauh juga tampak menukik ke bawah. Seolah sebelumnya ada seseorang yang tinggal di sini untuk mengamati zombie maupun orang lain yang berada tepat di bawah bangunan tiruan istana kerajaan itu.


“Pak? Silakan lanjutkan,” ucap Danita saat Gunawan tidak kunjung berbicara.


“Mungkin ini akan terdengar menakutkan,” lanjut Gunawan akhirnya. “Tidak. Bukan ‘mungkin’, tetapi ‘pasti’. Tapi sepertinya kita harus mulai menerima kenyataan bahwa sepertinya, bukan hanya gigitan yang mengubah manusia menjadi zombie.”


Buk!


Mereka semua terperanjat. Bukan hanya oleh ucapan Gunawan yang mengejutkan tetapi juga oleh suara Karsa yang membenturkan kepalanya ke dinding. Pemuda yang terus semakin terlihat pucat itu benar-benar telah kehilangan kesadarannya dan hanya bergerak-gerak tidak jelas di tempatnya.


“Ja-jadi,” Abian memusatkan lagi perhatiannya kepada Gunawan dengan susah payah, “kita bisa saja berubah menjadi sepertinya karena alasan yang tidak diketahui? Apa ini kutukan?”


“Jangan sembarangan mengatakan bahwa ini adalah kutukan!” tegur Trisha sambil meremat rambutnya sendiri. Kedua tangannya tampak bergetar hebat hingga ia harus mengepalkan tangannya erat-erat. “Aku tidak pernah melakukan kesalahan besar yang membuatku pantas tertimpa kutukan seperti ini!”


Kedua siswa itu kembali berdebat sementara Danita meminta penjelasan lebih lanjut kepada Gunawan sambil berbisik. Guru-guru itu telah bertekad untuk melakukan segalanya demi melindungi para siswa, maka mereka harus saling berbagi informasi. Semakin mereka memahami situasi yang tengah mereka hadapi, semakin besar kemungkinan mereka untuk selamat.


Selain Karsa yang sudah tidak lagi mempunyai kesadaran tersisa, hanya satu orang yang tidak terlibat dalam interaksi apa pun saat ini.


Evan mengamati semuanya sambil memeluk tasnya dengan erat. Matanya melirik ke sana kemari dengan waspada sebelum kembali melihat ke arah Karsa. Keringat dingin mulai mengalir di kedua pelipisnya.

__ADS_1


‘Ternyata begitu.’


***


__ADS_2