
“Gerbang akan dibuka dalam hitungan ketiga! Satu, dua …, tiga!”
Brak!
Puluhan pria berseragam lengkap dengan pelindung kepala serta senjata besar di tangan, berjalan cepat dalam barisan memasuki lahan parkir Taman Bermain Cakrabuana. Kedua mata mereka waspada, melihat ke sana kemari. Memastikan bahwa tidak ada satu pun tanda kehidupan di sana. Hanya ada kendaraan roda empat yang terparkir, berdiam di tempatnya masing-masing sambil menantikan para pemilik mereka kembali.
Sementara di luar, para petugas yang lainnya sibuk memantau situasi melalui monitor yang memperlihatkan rekaman dari kamera yang terpasang di tubuh setiap pria bersenjata. Mereka menyaksikan semuanya seolah mereka juga sedang melakukan penyerbuan secara langsung, dan bukannya membungkukkan tubuh di dalam kendaraan sempit guna menonton melalui layar kaca.
“Pak, para keluarga korban mulai menuntut informasi terbaru. Sudah lama sejak terakhir kali kita memberi kabar kepada mereka,” ujar salah satu pria yang baru saja datang dengan terengah-engah.
Pemimpin di dalam kendaraan itu pun lantas berdecak kesal. “Suruh mereka menunggu sebentar lagi! Pasukanku sudah mulai memasuki taman neraka itu dengan mempertaruhkan nyawa!” Sambil menggelengkan kepala, ia kembali menatap monitor. “Dasar! Orang-orang di luar sana hanya bisa menuntut! Kalau tidak bisa membantu, setidaknya sabarlah menunggu! Sebentar lagi juga kita akan memberikan mayat keluarga mereka!”
“Tempat ini bersih!” teriak salah satu pria bersenjata ke arah mikrofon di tubuhnya. Suaranya terdengar jelas di telinga anggota pasukan lain serta para pria di luar gerbang. Membuat pria yang tadi sempat menggerutu lantas terdiam. “Kami akan segera membuka gerbang selanjutnya.”
Setelah memastikan bahwa mereka telah menutup rapat gerbang pertama yang tadi mereka lewati, pria yang berperan sebagai pemimpin mulai memperhatikan gerbang lainnya yang kini menjadi satu-satunya pelindung mereka dari para makhluk mengerikan di Taman Bermain Cakrabuana. Sang komandan tanpa sadar menelan ludah. Dari balik celah gerbang besi itu, ia dapat melihat banyak jasad tidak bernyawa bergeletakan. Hanya melihat sekilas pun ia dapat mengetahui bahwa kebanyakan di antaranya adalah remaja yang mungkin belum mendekati usia 20 tahun.
Komandan itu lantas memerintahkan beberapa pria berseragam untuk berlutut di dekat gerbang dan mengawasi situasi di dalam. Para tentara itu lantas menuruti perintah. Dengan hati-hati, mereka juga mengarahkan laras senapan mereka ke dalam. Bersiap untuk menembak apa pun yang dapat menghalangi mereka dari memasuki wilayah Taman Bermain.
Setelah memastikan situasi aman, serta gerbang pertama telah mereka tutup kembali, mereka mulai membuka gerbang kedua menggunakan alat berat. Suara yang mereka timbulkan begitu nyaring, sehingga mereka harus kembali waspada akan tanda-tanda kedatangan zombie. Namun, sama seperti tadi, mereka hanya disambut oleh keheningan. Sayup-sayup suara lagu khas Taman Bermain terdengar dari beberapa pengeras suara yang masih berfungsi. Para pria itu menahan diri untuk tidak merengut melihat suasana yang menyakitkan hati.
Sama seperti tadi, mereka menutup gerbang kedua setelah semuanya masuk. Tidak ingin mengambil risiko makhluk lain melewati gerbang itu untuk keluar ke dunia luas.
Pelindung kepala yang pasukan itu gunakan saat ini sama sekali tidak menghalangi hidung mereka untuk mencium bau di sekitar. Bau amis, bau barang terbakar, lembap, serta bebauan lainnya yang tidak mengenakkan segera menyerbu mereka. Namun, mereka tidak menunjukkan ketidaknyamanan dan mulai memeriksa keadaan.
__ADS_1
Sementara para anak buahnya mulai menyebar guna memeriksa situasi beberapa meter dari gerbang, sang komandan berjalan perlahan. Memperhatikan jasad-jasad yang tergeletak di sana.
“Apa mereka mati tepat sebelum berusaha keluar dari gerbang ini?” gumamnya pelan. Ia berjongkok dan meletakkan senjatanya di atas aspal. Sementara kedua tangannya ia gunakan untuk membalik jasad yang telungkup.
Tangannya yang berbalut sarung tangan itu sempat bergetar melihat kengerian di depan matanya.
Seorang wanita yang Komandan itu perkirakan berusia lebih dari 20 tahun, tampak menganga dengan kengerian tergambar di kedua matanya. Di wajahnya yang penuh luka juga terdapat jejak-jejak basah, kemungkinan air mata. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, sepertinya wanita itu adalah seorang guru. Sang komandan merogoh bagian saku dan menemukan sebuah dompet yang masih utuh.
“Danita Ayudisha,” ucapnya pelan. Membaca keterangan yang tercantum pada kartu di dalam dompet. “Malang sekali nasibnya.”
Tanpa pikir panjang, Komandan memanggil pasukan lain yang sedari tadi bersiap menunggu perintahnya. Pasukan itu lantas datang membawa beberapa kantong besar serta tandu. Mereka membungkus tubuh Danita serta tubuh lainnya yang tergeletak tidak jauh dari sana.
Dalam waktu singkat, beberapa kantong mayat telah berjajar. Mereka belum mengangkatnya keluar menggunakan tandu karena belum ada perintah.
Salah satu anggota pasukan melepaskan tembakan. Komandan menoleh sambil mengerutkan kening.
Wajah sang gadis itu terlihat sangat cantik meskipun dihiasi banyak luka. Ia mengenakan seragam putih abu lengkap dengan keterangan nama yang terpasang di bagian dada.
Trisha Zyanni.
“Apa tadi ada cukup banyak remaja sepertinya?” tanya sang komandan.
“Benar, Pak! Selain gadis ini, ada empat remaja laki-laki serta satu gadis lain yang tidak mengenakan seragam dan tidak membawa kartu identitas.”
__ADS_1
Mendapati dugaannya benar, Komandan hanya menganggukkan kepala dan kembali memulai penelusurannya. Kedua matanya terlalu fokus melihat ke depan hingga ia hampir terjatuh karena tersandung sebuah benda empuk dan lembut.
“Apa ini boneka?” Ia bertanya-tanya sambil mengangkat benda asing yang hampir saja membuatnya celaka. Benda itu tampak seperti sebuah boneka beruang, meskipun beberapa bagiannya telah terkoyak, dan salah satu kakinya telah hilang. Pria itu lantas menyingkirkan noda yang menutupi bagian tengah.
Tulisan ‘Aron’ kembali terlihat dengan jelas, dan lagi-lagi Komandan harus mengendalikan emosinya sendiri.
‘Ada begitu banyak anak yang terjebak di Taman Bermain ini. Tentu saja sebagian besar di antara mereka tengah menikmati waktu bersama keluarga sambil membawa barang kesayangan,’ pikirnya. Tanpa ragu ia membuang boneka itu ke sembarang arah dan mulai berjalan cepat untuk membantu rekan-rekannya yang menyisir area sekitar. ‘Dunia sudah semakin gila. Aku hanya bisa mengikuti arusnya untuk bertahan hidup.’
Semakin dalam mereka memasuki wilayah Taman Bermain, mereka mulai terpaksa menggunakan senjata untuk melumpuhkan makhluk aneh yang tiba-tiba menerjang ke arah mereka dan menyerang secara membabi-buta. Meskipun ternyata zombie yang tersisa jauh lebih sedikit dari dugaan, Komandan tetap memerintahkan semua anggota pasukan untuk waspada.
“Semuanya tetap tenang dan buka mata lebar-lebar! Jangan terlalu banyak berpikir dan bunuh setiap makhluk yang bergerak!” titah sang komandan. “Mereka bukan lagi manusia. Kita harus melakukan semua yang bisa kita lakukan guna mencegah mereka berkeliaran dengan bebas di luar tempat ini!”
Pasukan itu lantas bergerak lebih cepat, mengingat hari semakin gelap.
“Cukup lama juga sampai kalian datang.”
Komandan menoleh, mendengar suara yang cukup familier baginya. Ia menurunkan senjata dan tersenyum sinis ke arah orang yang baru saja menyapanya dengan tidak ramah itu.
“Hai, Fikram! Kondisimu tidak terlihat baik.”
“Jangan banyak bicara! Kalian semua harus membersihkan Taman Bermain Cakrabuana sesuai perintah atasan! Jangan sampai ada saksi mata tersisa!”
"Tentu saja. Serahkan saja kepada kami."
__ADS_1
***
Tamat.