Monster In Me

Monster In Me
Tunggu Kakak


__ADS_3

“Kami sedang berusaha keras untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Mohon untuk tetap menunggu dengan tenang di luar garis batas yang telah kami pasang,” ujar pria berseragam di hadapan Irwan dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Irwan yang mulanya bertanya dengan tenang mulai merasa gelisah. Seluruh jawaban yang ia dapatkan sama sekali tidak membuatnya puas. “Tolong katakan saja apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa benar di dalam sana sedang berkumpul monster pemakan manusia? Apa mungkin masih ada yang selamat?”


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa mengatakan apa pun sebelum semuanya pasti. Mohon pengertiannya.”


“Bagaimana aku bisa mengerti jika kalian semua tidak mengatakan apa pun yang berguna?” tanya Irwan lagi dengan nyaring. Ia mulai tidak bisa menahan amarah yang sedari tadi terus ia pendam. “Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian hanya berkumpul di sini dan bukannya pergi ke dalam sana untuk menyelamatkan anakku? Hah?”


Irwan menarik napas panjang sambil mengambil beberapa langkah mundur. Hingga tiba-tiba ia berlari dan bermaksud menerjang barikade yang menutup akses jalan. Para polisi yang berada di dekatnya dengan cekatan menangkap tubuhnya dan menahannya agar tidak melangkah lebih jauh. Irwan meronta sekuat tenaga, dengan telunjuk yang terus diarahkan kepada para polisi satu per satu. “Jangan tahan aku! Apa kalian tidak punya hati? Anakku sendirian di sana!” Pria itu terus berteriak, menarik perhatian para keluarga korban lain yang juga berada di sana.


Tubuh Irwan lantas terdorong hingga jatuh ke belakang, tetapi ia tidak kunjung menyerah dan kembali bangkit. Ia terus mencoba menerobos, tanpa merasa malu karena telah menjadi pusat perhatian.


Namun, rupanya tindakan Irwan mampu memupuk keberanian banyak orang yang menyaksikan. Bagai dikomando, orang-orang itu lantas mengikuti jejak Irwan dan mulai mencoba menerobos pertahanan polisi. Membuat kewalahan para pria berseragam itu hingga mereka tidak lagi dapat mengendalikan ekspresi. Dengan panik mereka mengerahkan seluruh kemampuan untuk menahan kerumunan massa yang mengamuk.


“Biarkan kami masuk!”


“Jika kalian tidak ingin melakukan apa pun, biar kami yang menyelamatkan keluarga kami sendiri!”


“Anakku! Ayah dan Ibu di sini, Nak!”

__ADS_1


Satu per satu dari mereka mulai berteriak. Berharap anggota keluarga mereka dapat mendengarnya dari balik gerbang yang masih berjarak beberapa meter dari sana. Suara mereka terdengar serak dan pilu, mampu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya, termasuk para petugas kepolisian. Namun, tugas yang diamanahkan kepada mereka membuat para polisi tetap berdiri tegap menahan massa meskipun hati mereka tidak tega.


“Tolong tetap tenang! Kalau terus seperti ini akan ada yang terluka!” teriak salah satu polisi memperingatkan.


Sayang sekali suaranya tertelan oleh suara teriakan yang terdengar jauh lebih nyaring, meskipun sang polisi telah menggunakan pengeras suara portabel.


Di tengah semua kekacauan itu, Adnan yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mobil, mengendap-endap keluar tanpa menimbulkan suara yang mungkin bisa membangunkan ibunya. Sesungguhnya berat bagi Adnan untuk meninggalkan Dewi yang saat ini terkulai lemah tidak berdaya, tetapi ia harus segera bertindak untuk menyelamatkan Adira.


“Semua orang sedang fokus kepada keributan itu. Ibu akan baik-baik saja di sini.” Ia mencoba meyakinkan diri sendiri.


Pemuda itu kemudian berjalan menjauh. Menyusuri jalan yang masih dipenuhi polisi yang berjaga. Para petugas kepolisian itu tampak bergeming di tempat masing-masing hingga membuat Adnan frustrasi. “Apa tidak ada jalan yang bisa kulalui tanpa ketahuan?” pikirnya.


Hingga suara tembakan terdengar dari kejauhan. Para polisi yang berada di dekat Adnan tampak sedikit tersentak dan menoleh ke sumber suara. Sebuah ide yang terlintas di benak sang pemuda membuatnya menyunggingkan senyum tipis.


Petugas yang berada di dekat Adnan tampak hanya mengerutkan kening tanpa sedikit pun menampakkan tanda-tanda akan beranjak dari posisinya. Adnan bahkan telah menarik tangan pria itu dengan kuat, tetapi tidak ada hasilnya. Kakak Adira itu hampir putus asa saat petugas lain yang berdiri beberapa meter dari sana berjalan ke arah mereka.


“Sepertinya anak ini benar. Aku tidak bisa menghubungi para petugas yang berjaga di sana,” ujar pria yang baru datang itu dengan cemas. Sebenarnya, ia berbicara sambil berbisik, tetapi Adnan yang tengah memasang kedua telinganya lebar-lebar mampu mendengar ucapannya dengan jelas.


“Tapi kita tidak boleh meninggalkan tempat kita saat ini,” ujar pria lainnya sambil menyingkirkan tangan Adnan yang masih memegangi seragamnya dengan erat.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Hampir tidak ada orang di sekitar sini. Kita hanya akan pergi sebentar.”


“Kalau begitu, aku saja yang pergi.”


“Jangan pergi sendiri. Tadi terdengar tembakan peringatan, jadi kurasa situasinya cukup serius.”


Adnan menyilangkan tangan sambil mengerutkan kening saat menyaksikan kedua petugas kepolisian itu berdebat. Ia sungguh tidak dapat menahan diri hingga akhirnya berteriak. “Pak! Cepatlah! Sebelum seseorang kehilangan nyawa hanya karena keributan yang seharusnya bisa dihentikan!”


Ucapan Adnan ternyata ampuh membuat para polisi itu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya salah satu di antara mereka berbicara. “Baiklah, kami akan segera memeriksanya. Sebaiknya kamu kembali ke tempat atau temui petugas kepolisian lain yang ada di ujung jalan ini. Mereka akan mengarahkanmu ke tempat aman.”


Hanya dengan begitu, akhirnya Adnan berhasil membuat kedua polisi itu menyingkir dari hadapannya. Ia kini berdiri seorang diri, petugas kepolisian terdekat berjarak beberapa meter darinya, dan petugas itu pun tengah fokus melihat ke arah lain, sehingga Adnan bisa menganggap bahwa kini tidak ada satu orang pun yang tengah mengawasinya.


Dengan segera ia melompati pagar buatan polisi tanpa kesulitan. Kaki panjangnya dengan mudah melewati pagar yang bahkan tidak lebih tinggi darinya itu. Ia kemudian berlari menghampiri dinding terluar Taman Bermain Cakrabuana yang berdiri kokoh, seolah tidak ada sedikit pun kekacauan yang terjadi di baliknya.


Telapak tangan Adnan menyentuh dinding itu dengan pelan. “Sial! Sekarang, bagaimana caranya aku memanjat tembok ini?”


Pemuda itu terus menoleh ke sana kemari dengan gelisah. Ia harus cepat menemukan solusi sebelum ada yang menyadari keberadaannya. Apalagi tidak banyak pepohonan yang bisa menutupi sosok tubuhnya yang tinggi besar di sana. Setiap pohon tumbuh dengan jarak tertentu, sehingga Adnan harus diam di tepat di belakang salah satu pohon jika tidak ingin siapa pun melihatnya.


Tidak kunjung mendapatkan ide lain, Adnan lantas mencoba memanjat pohon mahoni besar yang ada di dekatnya. Dengan hati-hati berpegangan serta menempatkan pijakannya pada dahan yang terlihat kuat. Jangan sampai ia jatuh dan terluka hingga tidak bisa berlari mencari Adira nantinya.

__ADS_1


“Adira! Tunggu Kakak!”


***


__ADS_2