Monster In Me

Monster In Me
Jangan Buang Tenaga


__ADS_3

“Jangan pukul dia, Dir! Kamu tidak lihat kalau dia tidak berbahaya?” teriak Firda saat Adira dengan keras kepala mencoba mendaratkan pukulan lainnya kepada zombie tidak berdaya di depan mereka.


“Awas! Kalau tidak mau bantu, jangan ganggu!” Adira mendorong bahu Firda hingga gadis itu sempat terhuyung dan hampir terjatuh.


Beruntung Firda masih mampu menjaga keseimbangannya. Dengan sigap ia memeluk pinggang Adira dari belakang dan menarik temannya itu untuk menjauh. Namun, Adira yang berontak sekuat tenaga membuatnya terpaksa melepas pelukannya.


“Ada apa denganmu? Bukankah kita setuju hanya akan bertarung jika perlu? Jangan buang tenagamu!” Firda berpindah ke depan Adira. Berdiri di antara Adira dan sang zombie. “Kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti ini?”


Adira lantas berhenti di tempat. Kedua matanya menatap tongkat di tangannya serta zombie yang kini tengah menggelinjang di depannya secara bergantian. Ingatan tentang bagaimana zombie-zombie di luar sana menyerangnya dengan ganas membuatnya ingin segera memukul habis makhluk mengerikan itu.


Seperti saat Adnan, kakaknya, membunuh seekor semut hanya dengan satu sentuhan jari. Seperti ibunya yang menghentikan pergerakan ikan kakap hanya dengan memotong kepala ikan tersebut. Seperti ayahnya yang senang pergi berburu bersama teman-temannya.


Betapa ingin Adira menaklukkan para zombie hanya dengan satu serangan seperti yang selalu dilakukan keluarganya kepada makhluk hidup di sekitar. Mungkin dengan begitu ia akan bisa berjalan dengan rasa puas dan bangga.


Akhirnya Adira kembali bersiap mengayunkan tongkatnya, tetapi suara lirih dari Firda lagi-lagi mencegahnya.


“Biarkan dia, Dir. Dia juga merupakan seseorang yang berharga bagi keluarganya.” Firda menatap Adira penuh harap. “Dia tidak bisa menyerang kita. Kalau kamu takut, kita bisa lebih memastikannya dengan menutup mulutnya atau mengurungnya di suatu tempat.


Adira mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba menyingkirkan seluruh bayangan mengerikan di benaknya. “Baiklah. Kita cari tempat untuk mengurungnya.”


“Tadi aku lihat ada lemari kecil tempat penyimpanan alat kebersihan di dekat sini.”


“Oke. Di sana saja.”


Dengan cekatan Adira lantas mengambil salah satu pakaian yang berada di dekatnya. Membenamkannya di mulut zombie itu sebelum meraih tangannya. Gadis itu sedikit meringis karena harus menggenggam tangan makhluk itu, sementara Firda memegang kakinya. Perlahan mereka mengangkat makhluk itu meskipun tetap saja bagian pinggang sang zombie masih mengenai lantai dan terseret. Mewarnai lantai putih dengan warna merah pekat.

__ADS_1


“Oh, tidak.” Adira memandang ngeri saat salah satu tangan zombie yang ia pegang terputus. Ia lantas membuang bagian pergelangan tangannya yang semulai masih ia pegang, sambil sedikit mengumpat. Sungguh mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.


“Tidak apa-apa, sudah dekat. Biar aku saja yang menyeretnya,” ujar Firda penuh pengertian.


Akhirnya mereka sampai di dekat lemari yang Firda maksud. Dengan kasar Adira menyingkirkan alat-alat kebersihan yang terlalu besar dan memakan tempat. Beberapa alat pel ia patahkan tongkatnya untuk dijadikan senjata, sementara yang lainnya ia biarkan begitu saja di luar.


Mereka berdua menutup pintu lemari itu tanpa repot-repot mencari cara untuk menguncinya, karena mereka yakin sang zombie tidak akan bisa membukanya.


Brak! Brak!


Meskipun tetap saja zombie itu bisa mengamuk dan berusaha menghancurkan pintu dengan kepalanya yang penuh luka.


“Aku akan cari toilet. Siapa tahu air di tempat ini masih mengalir.” Adira berkata dengan lesu.


“Ayo, pergi bersama,” jawab Firda.


Tidak ada pilihan lain, Adira dan Firda akhirnya hanya bisa membasuh beberapa bagian tubuh mereka dengan memanfaatkan air yang mengalir dari keran di wastafel. Tidak lupa, mereka juga menyimpan sebagian air ke dalam botol minum yang berada di dalam tas Firda.


“Setidaknya sekarang kita bisa tampak lebih layak.” Adira menatap bayangan mereka berdua melalui cermin yang terpasang di sana. Terdapat jejak telapak tangan serta noda lain yang menghalangi, tetapi ia merasa cukup puas hanya dengan melihat sedikit pantulan dirinya. “Sayang sekali tidak ada sabun yang bisa menyingkirkan bau amis ini.”


“Aku akan mandi seharian setelah aku bisa kembali ke rumah,” tekad Firda sambil meraba wajahnya sendiri. Sedikit meringis saat jarinya menyentuh bagian yang terluka. “Kuharap semua luka ini tidak akan meninggalkan bekas nantinya.”


“Kamu masih bisa memedulikan hal seperti itu?”


“Tentu saja. Bukannya itu artinya aku masih punya semangat hidup?”

__ADS_1


Adira menganggukkan kepala. “Kurasa begitu.”


Hening menyelimuti suasana selama beberapa saat sebelum akhirnya Firda kembali berbicara. “Ayo, kita cari tempat yang cukup nyaman untuk kita beristirahat.”


Bagai dikomando, mereka berdua kompak berjalan menuju satu arah yang sama. Melewati pusat toko tempat mereka tadi memilih-milih baju dan terus berjalan hingga mereka menemukan ruangan menyerupai bilik kamar kecil.


Suasana di sana pun sama seperti di toilet. Namun, mereka ternyata masih cukup beruntung, sebab masih tersisa satu ruangan kosong yang cukup bersih. Seolah tidak pernah tersentuh manusia maupun zombie mana pun.


“Sepertinya banyak pengunjung seperti kita, yang datang dan mengambil baju tanpa mencobanya di ruang ganti terlebih dahulu,” celetuk Firda.


Adira hanya mengendikkan bahu. “Setidaknya kita punya tempat yang layak untuk bermalam.”


Akhirnya mereka berdua memasuki ruangan yang sempit itu. Luas ruangan yang hanya mencapai 4 meter persegi itu tidak cukup untuk membuat mereka untuk berbaring leluasa. Seharusnya mereka bisa membiarkan pintu terbuka untuk memiliki banyak ruang, tetapi rasa takut yang sesungguhnya masih menghantui membuat mereka memilih untuk menahan ketidaknyamanan saja.


Keamanan tetap menjadi prioritas yang tidak bisa diganggu gugat. Tidak peduli seberapa sempitnya tempat mereka berbaring saat ini.


“Aku berharap, setelah aku bangun dari tidur nanti, aku akan menyadari bahwa semua ini hanya mimpi buruk.” Firda tiba-tiba bercerita sambil menatap langit-langit ruang ganti. Ia menempatkan kepalanya dengan nyaman di atas tasnya sendiri. Tanpa memedulikan debu dan kotoran yang memenuhinya. “Bagaimana denganmu?”


Sejenak Adira hanya terdiam hingga Firda harus memastikan bahwa temannya itu belum tertidur. “Jika semua ini hanya mimpi, kita pasti sudah terbangun dengan tubuh penuh keringat sejak tadi.”


Firda lantas mendengkus. “Aku tahu itu! Tapi tetap saja—“


“Aku berharap akan ada seseorang yang akan menyelamatkan kita saat kita tertidur,” lanjut Adira. Tidak memberikan kesempatan untuk Firda menyela. “Karena aku tidak yakin akan bisa memercayai siapa pun yang mengaku pahlawan di saat semuanya sudah terlambat. Mereka seharusnya datang segera setelah keributan terjadi.”


Ucapan Adira terdengar kekanak-kanakan, tetapi cukup masuk akal. Setidaknya untuk Firda yang terus berada di sampingnya.

__ADS_1


“Kalau begitu, kita harus cepat tidur. Hanya dengan begitu kita bisa membuktikan apakah harapan kita bisa menjadi nyata atau tidak, di esok hari nanti.”


***


__ADS_2