
Selama ini, Evan sama sekali tidak menganggap Danita dan rekan-rekannya sebagai teman seperjuangan. Keberadaan mereka justru membuatnya merasa sangat terganggu.
Danita yang mungkin tahu perasaan Evan membiarkan pemuda tersebut dan menahan remaja lainnya untuk tidak mengganggu. Hingga pada akhirnya, Evan sampai di pos satpam kosong yang setengah bangunannya telah hancur.
Pemuda itu menyingkirkan sisa-sisa kaca yang masih menempel di bingkai jendela dan melompat masuk. Tangannya mengibas dengan cepat saat ia mendapati tempat itu dipenuhi oleh debu dari dinding yang hancur dan atap yang roboh. Perlahan, Evan melihat sekeliling dan mendapati sebuah kursi yang terlihat masih utuh. Tanpa pikir panjang ia berjalan mendekat, berniat untuk duduk di atasnya.
Hingga saat jaraknya dengan kursi itu hanya tersisa kurang dari satu meter, ia mendengar geraman pelan.
“Astaga!” Evan terperanjat sambil memegangi dadanya. Ia lantas menendang kursi saat mengetahui apa yang baru saja membuatnya terkejut. “Sial! Bikin kaget saja! Ngapain makhluk jelek sepertinya sembunyi di tempat seperti ini! Sampai tersangkut pula. Cih!”
Setelah puas mengumpat, Evan mulai mengamati zombie di depannya. Mayat hidup itu tampak terikat oleh rantai tebal yang terpasang melingkar ke salah satu kaki meja besar di dalam pos itu. Sementara tubuhnya meringkuk dan sedikit terlipat di kolong meja. Dari seragam hitam putih yang dikenakan, tampaknya saat masih menjadi manusia, makhluk itu adalah seorang petugas keamanan Taman Bermain Cakrabuana.
“Sepertinya setelah tergigit, dia mengikat dan mengurung dirinya di tempat ini. Benar-benar sikap yang patut dipuji.” Evan menuturkan pujian setengah hati. Ia bahkan bertepuk tangan sambil tersenyum dengan sinis. Pemuda itu sama sekali tidak merasa simpati kepada makhluk di depannya.
Baru saja ia akan beranjak pergi, ia mendengar sesuatu yang terdengar seperti suara gemerincing. Kedua matanya lantas melebar. Dengan seluruh kemampuannya, ia berusaha menajamkan pendengaran dan mencari sumber suara. Seringai lebar terbentuk di wajahnya setelah ia mengetahui apa itu.
Beberapa kunci tergantung di salah satu saku celana zombie petugas keamanan. Tanpa pikir panjang, Evan langsung mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
“Woah! Hampir saja!” Ia lantas mengumpat setelah sang zombie hampir saja meraih dan menggigit tangannya. “Sial! Aku bisa saja membunuhmu dulu, tapi aku tidak mau buang tenaga. Tidak bisakah kamu berikan saja kunci itu kepadaku? Ah, apa yang sedang kulakukan? Kenapa aku berbicara dengan makhluk bodoh ini?”
__ADS_1
Selama beberapa saat, Evan hanya berdiri sambil memikirkan berbagai cara untuknya mengambil kunci. Berpikir bahwa, di antara banyaknya kunci yang tergantung di dalam lingkaran besi di saku sang zombie, pasti satu di antaranya adalah kunci untuk membuka gembok di gerbang keluar. Jika ia berhasil mendapatkannya, maka keselamatannya sudah terjamin.
“Tapi bagaimana aku mengambilnya? Energiku sudah banyak terkuras, dan sudah lama sekali sejak terakhir kali aku makan atau minum sesuatu,” gumamnya sambil sedikit menyentuh tas di punggungnya.
Tas itu masih berisi beberapa botol air minum yang ia ambil dari stan minuman gratis Taman Bermain, tidak jauh dari lokasinya saat ini. Sejak awal, Evan mencurigai kandungan minuman tersebut karena ia menyadari bahwa terdapat banyak sekali zombie yang sebelumnya berkumpul di tempat itu. Dan semua zombie di sana terlihat jauh lebih ‘bersih’ dan berpenampilan layak dibandingkan zombie di tempat lainnya. Sehingga Evan menyimpulkan bahwa para zombie itu baru saja berubah.
Dan mereka berubah karena meminum minuman gratis di sana.
Tentu saja Evan menganggap bahwa kesimpulannya ini cukup gila dan tidak masuk akal, sehingga ia tidak memberitahukannya kepada siapa pun dan hanya bersikap waspada untuk tidak meminum minuman tersebut. Namun, pada akhirnya ia melakukan percobaan kepada Karsa yang kebetulan sedang kehausan. Begitu Karsa benar-benar berubah menjadi zombie ….
Evan semakin ingin menyimpan botol-botol minuman itu untuk dirinya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Evan membuka tasnya dan meraih salah satu botol. Kemudian ia menyiramkannya ke wajah zombie di hadapannya. Ia menunggu selama beberapa detik sebelum akhirnya mendesah.
Sontak ia kembali melampiaskan rasa kesalnya dengan menendang kaki kursi yang kini telah terbaring tidak berdaya. Ia terus menendangnya sekuat tenaga hingga kaki kursi itu terlepas begitu saja. Setelah merasa lebih baik, Evan memandang keluar jendela dan melihat Danita serta teman-temannya sedang duduk di atas aspal, mendiskusikan sesuatu.
“Mereka tidak akan mendapatkan apa pun dengan hanya berbicara.” Evan memutar bola matanya dengan kesal, sebelum tiba-tiba wajahnya mulai berseri. Ia melihat zombie di hadapannya dan Abian di luar jendela bergantian. Suara jentikan jarinya terdengar cukup keras di dalam ruangan kosong itu.
“Tidak ada salahnya mencoba.”
__ADS_1
Dalam hitungan detik, Evan kembali berada di luar pos satpam dan menghampiri teman-temannya dengan wajah ceria. “Teman-teman! Aku menemukan kuncinya!”
“Apa? Di mana?” tanya Trisha penuh curiga.
Sebisa mungkin Evan menahan rasa kesalnya dan kembali berbicara dengan riang. “Di dalam sana ada semacam meja milik Pak Satpam. Aku melihat ada yang berkilau di belakang meja. Sayang sekali, meja besar itu sulit untuk kugeser seorang diri.”
“Benarkah? Kalau begitu, biar Ibu bantu.” Danita mengajukan diri dan mulai bangkit untuk mengikuti Evan, tetapi Abian yang duduk di sampingnya merentangkan tangan untuk mencegahnya.
“Biar aku saja, Bu. Tenaga dua orang laki-laki akan jauh lebih kuat,” ucapnya bangga. Dengan senang hati ia berdiri dan meminta Evan untuk segera memimpin jalan. Sama sekali tidak ada curiga yang terlukis di wajah Abian.
Firda sendiri mencoba main aman dengan tetap diam. Ia masih mencoba memahami situasi dengan mengamati keadaan. Sejauh ini, yang bisa ia ketahui adalah hubungan Danita, Abian, dan Trisah sangat tidak baik dengan Evan. Meskipun sebagai guru, tentu saja Danita mencoba untuk tetap bersikap ramah dan lembut, tetapi Firda dapat melihat dengan jelas bahwa Danita sedikit menyayangkan sikap Evan. Sementara para siswa yang lain membenci Evan secara terang-terangan. Abian sendiri tampak tidak ingin berjalan beriringan dengan Evan meskipun ia mengajukan diri untuk membantu sang pemuda.
Dalam sekejap sosok Evan dan Abian tidak lagi terlihat oleh yang lainnya. Kedua pemuda itu telah memasuki pos satpam dan Evan mulai meminta Abian untuk berjongkok di depan meja. Tentu saja hal itu membuat Abian menyadari keberadaan zombie dan mengetahui bahwa Evan telah menipunya. Namun, ia tidak sempat mengajukan protes karena Evan langsung mendorong tubuhnya hingga ia terjerembap, tepat di hadapan sang zombie.
Bahkan lututnya dengan lutut mayat hidup itu telah bersentuhan. Abian menelan ludahnya saat ia melihat wajah mengerikan itu mendekat.
Layaknya dalam film yang sering ia tonton, Abian melihat seluruh kilasan hidupnya muncul di depan matanya.
Ia yakin ia akan mati.
__ADS_1
***