
“Maksudmu, ada zombie yang berevolusi jadi lebih cerdas dan kuat? Itu tidak mungkin!” sanggah Firda. Suaranya terdengar melengking hingga menyakitkan telinga mereka berdua. “Pasti ini ulah manusia lain yang berhasil bertahan! Mungkin mereka iri kita bersantai dengan nyaman di atas sini!”
Adira terdiam mendengar itu. Apa yang dikatakan Firda cukup masuk akal, setidaknya kemungkinan bahwa yang sedang melempari mereka batu adalah manusia jauh lebih besar dibandingkan zombie. Adira memang selalu merasa bahwa zombie itu menakutkan, tetapi sesungguhnya para mayat hidup tidak jauh lebih mengerikan dari manusia.
Manusia yang menyalahgunakan akalnya akan menjadi bencana yang mematikan bagi siapa pun dan apa pun.
“Tidak ada gunanya kita terus berdiam seperti ini. Kita hanya akan mati atau berakhir dengan banyak luka,” gumam Adira pelan.
“Kamu bilang apa, Dir?” tanya Firda dengan suara keras. Secara tidak langsung meminta Adira untuk mengulang ucapannya dengan suara yang keras pula.
“Kita harus lari.” Adira mengangkat kepalanya. Perlahan-lahan ia kembali berdiri tegak. Kedua lengannya ia tempatkan di atas kepala. “Mungkin kalau kita bergerak cepat, batu-batu itu akan meleset dan tidak mengenai kita.”
Tanpa menunggu lagi, Adira langsung berbalik dan mulai berlari. Meninggalkan Firda yang sedikit terlambat menyusulnya. Suara derap langkah gadis itu berbaur dengan suara batu-batu yang menabrak dinding.
Untuk sesaat, Adira pikir ia telah mengambil keputusan yang tepat. Sebab jumlah batu yang mengenai tubuhnya jauh berkurang dari sebelumnya. Namun, lama kelamaan ia mulai menyesali keputusannya saat batu yang lebih besar menghantam sisi tubuhnya.
Gadis itu mengaduh kencang dengan tubuh yang mulai oleng. Salah satu kakinya salah menginjak dan berakhir terpeleset. Jarak Adira yang cukup jauh dari Firda membuatnya tidak memiliki siapa pun untuk berpegangan, hingga akhirnya ia mulai terjatuh ke sisi luar Taman Bermain. Adira meringis merasakan lututnya terbentur. Ia meronta dan mencoba meraih apa pun yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Gadis itu berakhir bergelantungan di atas dinding itu. Kedua tangannya berpegangan erat ke bagian atas dinding.
“Adira!” Firda berteriak histeris sambil menghampiri Adira dengan terburu-buru. Mendadak ia melupakan semua ketakutannya dan mulai meraih tangan Adira. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba menarik temannya itu untuk kembali ke atas. Namun, seharusnya ia tahu, bahwa kekuatannya sebagai remaja perempuan biasa yang tidak menyukai olah raga sudah pasti sangat terbatas.
“Fir! Telapak tanganku sangat basah oleh keringat! Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama!” Adira mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk tetap bertahan. Bahkan untuk berbicara saja ia mulai kesulitan. Kedua kakinya yang terus bergerak mencari pijakan justru membuat pegangannya semakin melemah. “Tidak usah repot-repot menolongku! Cepat lari! Batu-batu itu semakin banyak berdatangan!”
“Apa? Tidak mungkin! Jangan seenaknya, Dir!” protes Firda sambil mengeratkan pegangannya kepada salah satu pergelangan tangan Adira. Mempersiapkan diri untuk menarik sahabatnya setelah ia mengumpulkan cukup tenaga. “Kamu pikir aku akan tega pergi meninggalkanmu sendiri? Bagaimana bisa aku menjalani hidup dengan—“ Sebuah batu menghantam punggung Firda membuat gadis itu mengaduh dan sedikit menjauh dari Adira.
Sementara itu, di tengah kesulitannya, Adira mencoba memberanikan diri untuk melihat ke bawah. Persis seperti yang sudah ia ketahui, di bawahnya kini sama sekali tidak ada benda yang akan menahan kejatuhannya nanti. Bahkan mobil terdekat diparkir beberapa meter dari jalanan di bawahnya. Adira memejamkan mata erat dan mulai menangisi kemalangannya sendiri.
Adira bisa merasakan seluruh otot tangannya seakan tercabik oleh caranya memaksakan diri untuk tetap berpegangan. Ia tidak lagi bisa merasakan ujung-ujung jarinya yang mulai kehilangan warna. Belum lagi bahunya yang terasa seolah akan terlepas dari tubuhnya.
‘Seandainya aku mengikuti saran Kak Adnan untuk selalu melatih kekuatan lengan dan tubuhku, mungkin aku bisa dengan mudah mengangkat tubuhku kembali ke atas.’ Adira terus menggumamkan penyesalannya. ‘Sudah terlambat. Aku tidak akan bisa menemui Kak Adnan lagi untuk mengatakan bahwa aku kini telah mengakui, bahwa semua yang selalu ia sarankan kepadaku adalah untuk kebaikanku sendiri.’
Satu per satu jari Adira mulai menyerah untuk berpegangan. Bahkan tangan kiri gadis itu kini sudah sepenuhnya terlepas. Adira bertahan hanya dengan satu tangan yang menahan seluruh tubuhnya.
Bertahan selama beberapa menit dalam posisi menggantung saja sudah merupakan keajaiban luar biasa. Adira pikir ia telah cukup berusaha semaksimal mungkin. Tidak akan ada penyesalan tersisa jika sampai ia benar-benar akan pergi ke akhirat sekarang juga.
__ADS_1
Adira membuka mata dan melihat langit yang masih terlihat cerah dengan warna biru cerah serta awan tipis berwarna putih bersih. Tanpa sadar gadis itu tersenyum. “Setidaknya, cuaca hari ini tidak terlalu buruk untuk mengantar kepergianku,” gumamnya sebelum akhirnya melepaskan pegangannya.
Bisa Adira rasakan dengan jelas tubuhnya mulai melayang. Untuk sejenak Adira sempat berpikir untuk menikmati saat-saat langka di mana tidak ada apa pun yang bisa menahan pergerakannya. Tidak ada tanah yang menyangga kakinya, maupun atap yang menaunginya. Hanya udara kosong tempat ia menari kini. Adira kembali memejamkan mata, hendak menikmati kebebasannya meski hanya sesaat. Bersiap menghadapi benturan yang seharusnya akan segera ia rasakan.
Namun, sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan kuat. Adira meringis merasakan ngilu di tangannya. Ia yakin akan ada lebam serta lecet terbentuk di sana. Kedua matanya refleks membelalak. Melihat bagaimana Firda merapatkan bibirnya saat mencoba menarik tubuh Adira ke atas.
“Fir … sudahlah. Lepaskan aku,” pinta Adira sungguh-sungguh. “Wajahmu mulai memerah. Bisa-bisa kamu akan meledak jika terus mencoba menarikku.”
“Diam!” Firda hanya bisa mengucapkan satu kata itu sebelum kembali mengeraskan rahangnya. Ia menggeram hebat sambil mengerahkan seluruh kekuatannya, ia hampir bisa merasakan seluruh tubuhnya akan meledak dari caranya memaksakan diri. “Aku! Pasti! Bisa!” ucapnya lagi dengan susah payah.
Tanpa menyadari bahwa semua penderitaannya dicemooh oleh seseorang yang baru saja berhenti melemparkan seluruh batu yang ada di dekatnya. Sosok itu menyeringai dan mulai tertawa terbahak-bahak. Dari tempatnya kini, ia tidak perlu khawatir seseorang atau mayat hidup akan bisa mendengar suaranya. Namun, sejenak ia berhenti bersuara dan justru meringis sambil memegang wajahnya yang terasa nyeri dan perih yang luar biasa.
“Ah! Sial! Padahal tadi tidak terasa sakit sama sekali karena aku terlalu menikmati pertunjukan kedua cewek bodoh itu!” gerutu Taka sambil membungkuk. Ia mulai merutuki seluruh tubuhnya yang menginterupsi kesenangannya. Butuh beberapa lama hingga ia bisa kembali menengadah. Melihat bagaimana seorang gadis masih membungkuk sambil memegang seseorang di balik dinding. “Aku yakin aku mengenal mereka. Pasti mereka salah satu siswa kelas 10 di sekolahku.”
Sejenak ia mengerutkan kening sebelum mengendikkan bahu. “Ah, masa bodoh! Mereka sudah tidak menarik lagi untukku.” Pemuda itu lantas berbalik dan pergi begitu saja.
***
__ADS_1