
Ternyata apa yang selama ini orang lain katakan benar adanya. Karsa dan Evan memang terlalu berbeda untuk menjalin persahabatan. Masing-masing dari mereka terlalu egois untuk saling memahami.
Karsa selalu menganggap bahwa sebuah perbedaanlah yang justru membuat pertemanan mereka semakin erat. Tanpa mengetahui bahwa selama ini Evan hanya terlalu pandai menoleransi sikap Karsa yang tidak disukainya. Meski sebenarnya, alasan untuknya membenci Karsa semakin menumpuk seiring waktu berjalan.
Padahal mereka telah banyak menghabiskan waktu bersama. Mulai dari hal biasa seperti saling mengunjungi hingga melanggar peraturan sekolah untuk sekadar mendatangi warung makan karena bosan dengan menu kantin. Karsa masih ingat bagaimana Evan harus menguras ingatannya demi membawa mereka kembali ke sekolah hanya karena Karsa lupa jalan yang telah mereka lalui.
Karsa pikir, setiap kenangan bersama Evan yang menurutnya indah, juga dapat membuat Evan tersenyum setiap kali mengenangnya. Namun, kenyataannya tidak. Semuanya berubah ketika mereka baru saja akan memasuki masa liburan setelah menjalani Ujian Nasional tingkat SMP.
“Kamu itu hanya pemuda yang pemalas. Menjalani hidup hanya untuk bersenang-senang,” ucap Evan sambil mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. “Karena terlahir tampan, kamu kira kamu akan mendapatkan semua yang kamu. Begitu, kan?”
Karsa tidak tahu seberapa sering ia menarik napas dalam hari ini. Terutama setelah Evan membeberkan semua unek-unek di hadapannya. Meskipun tidak ada orang lain di sekitar mereka, tetapi Karsa tetap merasa malu dan terhina atas perkataan sahabatnya itu.
Sepertinya ia tidak bisa lagi menganggap Evan sebagai seorang sahabat setelah hari ini.
“Semua itu fakta yang sudah kamu ketahui sejak kita saling mengenal,” jawab Karsa. Masih dengan ekspresi yang tenang. “Tapi kenapa kamu baru mengeluhkannya sekarang?”
“Karena sebelumnya semua itu tidak menggangguku sama sekali.” Evan mendengkus dan melepas kaca matanya. Memperlihatkan matanya yang cukup sipit dan terlihat tajam.
Karsa sangat tahu arti dari gestur itu. Evan tidak pernah memberitahunya, tetapi ia menyadarinya sendiri setelah bertahun-tahun berteman dengan sang pemuda kutu buku. Namun, Karsa sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ia akan menyaksikan Evan melepas kaca matanya saat mereka tengah bicara empat mata.
“Kini aku muak melihatmu.” Evan mengungkapkan sendiri alasannya melepas kaca matanya. “Kamu tahu kalau penglihatanku tidak seburuk itu. Aku masih bisa melihat dengan cukup jelas tanpa kaca mata. Dan baru kali ini aku berharap pandanganku bisa sedikit buram.”
__ADS_1
“Hati-hati dengan ucapanmu.”
“Kenapa memangnya? Bukankah aku hanya tetangga bermata empat yang suka menyendiri?” sindir Evan dengan lidahnya yang tajam.
Panah yang terlontar bersamaan dengan ucapan Evan tadi mendarat tepat sasaran di benak Karsa. Seketika ia mengerti pemicu sebenarnya dari perseteruan mereka kali ini. Bukan hanya karena perbedaan yang memang tidak akan pernah bisa mereka ubah, tetapi juga karena ketidakpeduliannya selama ini.
Mendadak Karsa merasa malu pada dirinya sendiri. Bahkan untuk sekadar menatap Evan pun ia tidak mampu. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya, memandang lapangan basket di luar melalui pintu kelas yang dibiarkan terbuka. Teman-temannya yang ia kenal dari ekstrakurikuler Basket tengah bermain dengan senyum lebar, sementara ia di sini termenung karena baru menyadari betapa buruk sikapnya sebagai seorang teman.
Karsa selalu tahu bahwa wajahnya cukup tampan dan ia banyak diidolakan gadis seusianya. Karena orang-orang di sekitarnya tidak pernah berhenti memberitahukan itu kepadanya. Namun, Karsa pikir ia tidak terlalu memedulikan fakta itu, sebab ia tidak menyukai popularitas serta titel pemuda idola sekolah.
Sampai akhirnya ia terlalu menikmati bergaul dengan para siswa populer dan berakhir menjauhi Evan.
Tentu saja itu bukan masalah, jika saja ia tidak menghina Evan tanpa sengaja.
“Tidak heran.” Evan mendecakkan lidah sambil memicingkan mata. “Kita berdua tahu bahwa kamu tidak pandai menggunakan otakmu. Pasti kamu tidak mampu berpikir bahwa apa yang kamu katakan bisa saja membuatku marah.”
Evan pasti mengatakan itu dengan maksud untuk menyinggung Karsa. Dan tentu saja berhasil, mengingat Karsa sendiri memang selalu merasa tidak percaya diri dengan kemampuan belajarnya. Meskipun tidak pernah satu kali pun ia mengakui soal itu.
Karsa berhak marah karena Evan menghinanya. Sayang, haknya untuk merasa terhina telah hilang karena ia menyakiti hati Evan lebih dulu.
Akhirnya, pemuda itu menarik napas panjang. Bermaksud mendinginkan kepalanya agar tidak mudah terbawa emosinya sendiri. “Mungkin aku harus membiarkanmu sendiri untuk beberapa waktu, sebelum kembali mencoba meminta maaf,” ujarnya kemudian. Ia mengucapkannya bukan dengan nada bertanya, tetapi sesungguhnya ia menunggu Evan untuk memberitahunya apakah pemikirannya ini benar atau tidak.
__ADS_1
“Tidak perlu,” sanggah Evan kemudian. “Tidak perlu hanya ‘beberapa saat’. Aku akan sangat senang jika kamu terus menjaga jarak dariku. Sudah cukup kamu mengganggu hidupku.”
Karsa mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Seharusnya ia sudah menduga bahwa Evan tidak lagi mempunyai alasan untuk mempertahankan persahabatan mereka berdua. Namun, tetap saja ia merasa terkejut. Tidak. Lebih tepatnya ia terkejut karena mendapati bahwa keberadaannya sama sekali tidak berharga, dan hanya dipandang sebagai gangguan oleh Evan.
Evan tidak menyadari, bahwa sebuah kalimat sederhana mampu memberikan efek yang cukup besar untuk seseorang.
Semua yang ia sampaikan kepada Karsa kelak akan menjadi alasan di balik perubahan sang pemuda.
“Kalau begitu, aku tidak akan lagi menemuimu.” Karsa akhirnya menyerah. Ia sama sekali tidak ingin berdebat lebih lama. Tubuhnya sudah cukup lelah oleh semua persiapan kelulusan yang ia lakukan selama beberapa minggu belakangan. “Tapi sayang sekali, kudengar kita berdua memilih melanjutkan pendidikan di SMA yang sama. Mungkin kita akan sering bertemu lagi.”
“Aku akan jadi orang paling malang di dunia jika sampai sekelas denganmu lagi.” Dengan tidak acuh Evan mengatakan itu sebelum berbalik. Meninggalkan Karsa begitu saja/
“Aku juga,” gumam Karsa setelah ia tertinggal sendiri di dalam ruang kelas yang kosong.
Hari itu benar-benar menjadi pertemuan terakhirnya dengan Evan. Dan di luar dugaan, Karsa masih dapat menjalani hari-harinya seperti biasa, meskipun salah satu kebiasaannya telah hilang. Yaitu kebiasaan untuk mengunjungi dan menghabiskan waktu di rumah Evan. Entah berapa kali Karsa harus memaksa dirinya untuk tidak berbelok ke rumah mantan sahabatnya itu.
Mungkin alam bawah sadar Karsa masih menyangka kalau mereka hanya sedang menjaga jarak untuk sementara, dan bukannya memutus persahabatan untuk selamanya. Dan Karsa membiarkannya tetap seperti itu. Sebab pada akhirnya ia kembali melihat Evan di SMA.
Karsa termenung saat melihat bagaimana ramahnya Evan saat ia tengah berbincang dengan Trisha di depan ruang kelas 10-2. Saat itulah, Karsa menyadari bahwa mantan sahabatnya menyukai Trisha. Fakta ini cukup membuat Karsa senang, karena akhirnya Evan memiliki kehidupan selayaknya remaja biasa.
Sayangnya, Trisha menyukai Karsa.
__ADS_1
***